Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat melalui paparan asap. Bagi buruh perempuan di perkebunan kelapa sawit, bencana ini juga menghadirkan persoalan pekerjaan, pendapatan, dan beban pengasuhan.
Pemantauan rutin serta cerita lima buruh perempuan di Kalimantan Barat memperlihatkan dilema yang mereka hadapi. Ketika asap semakin pekat, berhenti bekerja bukan pilihan mudah. Bagi pekerja yang mengandalkan upah harian, tidak masuk kerja berarti kehilangan penghasilan. Sebaliknya, tetap bekerja membuat mereka terus terpapar asap dengan perlindungan yang belum memadai.
Terjepit antara Kesehatan dan Kebutuhan Hidup
Kerentanan tersebut berkaitan dengan status kerja buruh perkebunan sawit. Pekerja dengan status Syarat Kerja Utama (SKU) memiliki hubungan kerja yang cenderung lebih tetap. Sementara itu, buruh harian lepas (BHL) bergantung pada jumlah hari kerja untuk memperoleh pendapatan.
Bagi buruh BHL, tidak bekerja karena sakit atau kondisi lingkungan yang membahayakan kesehatan berarti kehilangan upah. Sejumlah penelitian juga menunjukkan pekerja dengan status ini dapat menerima upah di bawah standar minimum.
Kondisi tersebut mempersempit pilihan mereka untuk mengutamakan keselamatan. Ketika asap menyelimuti perkebunan, pekerja tetap menghadapi tekanan ekonomi meski lingkungan kerja sudah tidak aman.
Perlindungan Kesehatan Belum Memadai
Selain kehilangan pendapatan, paparan asap menjadi ancaman kesehatan bagi buruh perempuan.
Salah seorang buruh perempuan di Kalimantan Barat mengungkapkan perusahaan tempatnya bekerja sempat menyediakan masker pada awal karhutla 2026. Namun, setelah itu, ia harus membeli masker sendiri untuk melindungi diri dari asap.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa biaya perlindungan diri dapat beralih kepada pekerja. Padahal, risiko kesehatan di perkebunan sawit juga mencakup paparan bahan agrokimia dan air tercemar.
Dampak paparan asap bahkan perlu mendapat perhatian khusus bagi pekerja yang sedang hamil. Penelitian mengenai kebakaran hutan di Indonesia menemukan hubungan antara paparan polusi udara selama kehamilan dan gangguan pertumbuhan anak hingga usia remaja.
Temuan tersebut menunjukkan dampak polusi dapat berlangsung jauh setelah kebakaran berakhir. Karena itu, perlindungan kesehatan pekerja perlu menjadi bagian dari sistem keselamatan dan kesehatan kerja.
Beban Perempuan Berlanjut di Rumah
Risiko yang dihadapi buruh perempuan tidak berhenti ketika mereka meninggalkan perkebunan. Di rumah, mereka masih harus menjalankan pekerjaan domestik dan merawat anggota keluarga.
Penelitian di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menunjukkan keterlibatan perempuan dalam perkebunan sawit berkaitan dengan bertambahnya waktu kerja produktif serta berkurangnya waktu istirahat, tidur, dan menikmati waktu luang.
Beban tersebut dapat meningkat saat karhutla. Ketika anggota keluarga jatuh sakit akibat asap, perempuan kerap kembali memikul tanggung jawab perawatan. Mereka juga berpotensi dilibatkan dalam pekerjaan tambahan, termasuk membantu memadamkan api di perkebunan.
Jika pekerjaan tambahan itu tidak disertai perlindungan dan kompensasi memadai, risiko yang ditanggung semakin besar.
Perlindungan Pekerja Harus Jadi Bagian Penanganan Karhutla
Pengalaman buruh perempuan menunjukkan penanganan karhutla perlu memperhatikan keselamatan pekerja di wilayah terdampak.
Perusahaan perlu menyediakan alat pelindung sesuai risiko, akses pemeriksaan kesehatan, serta prosedur kerja yang mengutamakan keselamatan. Perlindungan pendapatan juga perlu diperhatikan ketika kondisi lingkungan membuat pekerjaan tidak aman, termasuk bagi buruh harian lepas.
Pemerintah juga perlu memastikan hak ketenagakerjaan terpenuhi dan layanan kesehatan bagi keluarga terdampak tersedia.
Sebab, biaya sosial karhutla tidak hanya berupa kerusakan lingkungan dan pengeluaran pengobatan. Ada pendapatan yang terancam, waktu istirahat yang hilang, serta pekerjaan perawatan keluarga yang tidak dibayar.
Tanpa perlindungan kerja dan pembagian beban perawatan yang lebih adil, buruh perempuan akan terus menanggung risiko berlapis di balik kepulan asap.
Baca Juga
-
Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
-
Belajar dari Story on Stage: Mengapa Menyediakan Ruang untuk Mendengarkan Itu Penting?
-
Setiap Orang Punya Cerita, Story on Stage Buka Panggung Buat Kamu yang Ingin Didengar
-
Darurat Karhutla: Ketika Asap Beracun dan Ancaman Penyakit Mengintai Warga Tanpa Henti
-
Bisakah Limbah Sawit Gantikan Plastik Sekali Pakai? Studi Ungkap Hal Ini
Artikel Terkait
News
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Melalui Piano dan Gamelan, Iqbal Sidiq Perkenalkan Kekayaan Musik Nusantara di Istanbul
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
Terkini
-
Dari Koperasi Petani hingga Klinik, Ke Mana Arah Kopdes Merah Putih?
-
Film Pendek Heartbeat Tayang di Netflix, Angkat Isu Depresi dari POV Anak
-
Sinopsis Bass X Machina, Anime Steampunk tentang Marsekal Pemburu Bayaran
-
Bocchi the Rock Umumkan Film Anime 2027, Nijika dan Seika Jadi Pusat Cerita
-
Review Lingsir Wengi: Motel Malioboro, Teror Mistis di Balik Konten Viral