Hayuning Ratri Hapsari | Rizky Pratama Riyanto
Acara Geospatial Capacity Building (GEOCAB) 2026 bersama pemateri dari PT GeoJaya Tehnik, PT Lingkar Reksa Geodata, dan PT OC Enviro pada Selasa (29/9/2026) di Auditorium Gedung FPIPS Lantai 6, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). [Dok.Pribadi/Rizky Pratama Riyanto]
Rizky Pratama Riyanto

Program Studi Sains Informasi Geografi di Universitas Pendidikan Indonesia baru didirikan sekitar 8 tahun lalu oleh Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., yang hingga saat ini menjabat sebagai ketua program studi.

Meskipun tergolong masih baru, program studi bersama dengan komunitas SaIGPRENEUR sukses menyelenggarakan kegiatan Geospatial Capacity Building (GEOCAB) dengan tema From Campus to Geospatial Industry: Membangun Kompetensi dan Peluang Karier di Era Digital pada Selasa (29/9/2026) sejak pukul 08.00 WIB di Auditorium Gedung Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Kegiatan ini bertujuan untuk dapat membekali mahasiswa dengan wawasan karier dalam sesi bincang hangat bersama tiga mitra industri geospasial, yakni PT Geojaya Tehnik, PT Lingkar Reksa Geodata (Circlegeo), dan PT OC Enviro.

Selain berbagi pengalaman industri, ketiga instansi tersebut juga membuka peluang kolaborasi riset serta kesempatan magang bagi mahasiswa SaIG yang ingin terjun langsung sebagai surveyor lapangan dan analis data. Oleh sebab itu, kegiatan ini menjadi sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan oleh mahasiswa.  

Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan program studi, yaitu Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T., yang mengapresiasi pelaksanaan kegiatan serta mendorong mahasiswa untuk bersiap melangkah ke dunia kerja setelah menyelesaikan studi.

Setelah itu, sambutan dilanjutkan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi (HIMA SaIG), Imammul Falih, dan ketua pelaksana kegiatan.

Dalam sambutannya, terpatri harapan besar agar kegiatan ini dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa SaIG untuk memahami alur kerja serta mengenal industri geospasial lebih dekat.

Rangkaian kegiatan berikutnya yang tentu tidak kalah penting adalah penayangan video profil program studi dan tiga mitra industri untuk memperkenalkan visi, misi, dan profil lembaga, memberikan gambaran penerapan teknologi geospasial di industri, serta membuka peluang karier dan kolaborasi antarinstansi.

Terlebih lagi, kolaborasi antarlembaga benar-benar tercipta dengan adanya penyerahan simbolis dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) guna memperkuat kolaborasi akademis dan perusahaan.

Selain itu, talkshow ini dipandu oleh seorang moderator, yakni Alifa Shafwa (mahasiswa Sains Informasi Geografi angkatan 2024).

Dalam sesi bincang hangat ini, perwakilan pada setiap mitra industri kemudian membahas kompetensi, memaparkan kebutuhan industri di era digital, membongkar fokus utama instansi secara mendalam, dan membagikan pengalaman mahasiswa SaIG yang sedang atau telah melakukan magang.

Pematerian dari ketiga instansi disampaikan oleh Ramdan Yassin dari PT OC Enviro, Fahmi Fauzi dari PT Lingkar Reksa Geodata, serta perwakilan dari PT Geojaya Tehnik.

Ramdan menekankan bahwa fokus utama PT OC Enviro adalah rekayasa pesisir dan kelautan, oseanografi, pemodelan lingkungan, dan GIS.

Pengaplikasian geospasial instansi tersebut terletak pada pemetaan batimetri, survei alur pelayaran pelabuhan, pemantauan kondisi abrasi dan sedimentasi di pesisir, penggunaan teknologi Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar, ROV, dan sensor pemetaan bawah air.

Meninjau tren di masa depan, ia berbicara mengenai penerapan teknologi Digital Twin untuk visualisasi secara real-time kondisi lapangan guna mempercepat pengambilan keputusan dengan tetap mengedepankan pengawasan oleh manusia.

Sementara itu, Fahmi memberi gambaran kepada mahasiswa bahwa fokus utama PT Lingkar Reksa Geodata adalah pengembangan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG), riset data, serta pengelolaan data geospasial.

Proyek unggulan instansi ini adalah berkolaborasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam membangun aplikasi pemantauan iklim dan bencana, seperti pemantauan titik api (hotspot) kebakaran hutan/lahan, analisis/prediksi cuaca, kecepatan angin, hingga tinggi gelombang laut.

Pengembangan teknologi instansi pun bahkan sudah cukup canggih dengan memanfaatkan bahasa pemrograman modern dan open-source GIS untuk otomatisasi atau efisiensi pengolahan data geospasial mentah.

Berbeda halnya dengan PT Geojaya Tehnik, instansi berusia 52 tahun ini bergerak di bidang survei topografi, pemetaan pertanahan, ketenagalistrikan (Perusahaan Listrik Negara dan Pertamina), serta pemetaan SUTT/SUTET berbasis foto udara dan LIDAR.

Tidak hanya itu, perusahaan ini juga aktif dalam proyek rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), reklamasi hutan/tambang, dan geotagging jutaan pohon untuk mendukung perdagangan karbon.

Saat ini, instansi tersebut sedang membuka peluang kolaborasi riset dengan akademisi dalam memanfaatkan kecerdasan buatan dan sensor drone LIDAR untuk identifikasi otomatis jenis, umur, serta kesehatan tanaman.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tentu menyadari pentingnya penggunaan teknologi di bidang geospasial serta pemahaman akan perangkat lunak seperti ArcGIS, PCI Geomatics, ENVI, QGIS, dan lain sebagainya.

Sebab keterampilan teknis dalam mengoperasikan berbagai perangkat lunak tersebut merupakan kualifikasi standar yang dicari oleh perusahaan mitra industri saat membuka peluang kerja maupun kesempatan magang bagi para lulusan.

Artikel ini merupakan hasil dari liputan pribadi (Mahasiswa SaIG UPI) – 29 September 2026 pukul 08.00 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)