Berkembangnya kecerdasan buatan di era saat ini sering kali menciptakan sebuah produk luar biasa yang tidak disangka-sangka. Salah satu produk tersebut menghasilkan platform bernama GoPrep yang sebelumnya pada Juli lalu meluncur di App Store dengan nama IELTS.GG.
Sebelum adanya perubahan identitas, fitur kecerdasan buatan interaktif sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, berbagai video di algoritma media sosial akhir-akhir ini sering menampilkan seseorang sedang melakukan interaksi dengan guru IELTS di platform tersebut yang sesekali menyelipkan lelucon praktis hingga membuat guru menjadi marah, kesal, sedih, dan kecewa.
Uniknya, karakter yang disebut Preppy pada platform ini terlihat begitu cair saat diajak berkomunikasi oleh pengguna. Ia seolah-olah terlihat mampu mengekspresikan perasaan yang sedang dialami.
Lantas benarkah Preppy memiliki perasaan yang sama seperti manusia pada umumnya? Jawabannya, tentu saja tidak. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh manusia yang cenderung menganggap benda mati atau teknologi memiliki pikiran dan perasaan karena seakan-akan memiliki kedekatan emosional.
Dalam ranah ilmiah, ilusi ini dinamakan antropomorfisme (menganggap sesuatu yang bukan manusia justru mempunyai perasaan seperti halnya manusia).
Sebagai contoh, Anda memiliki adik perempuan dan laki-laki. Adik perempuan sering kali berbicara sendiri dengan boneka di kamar atau adik laki-laki memarahi mobil mainan yang rusak setelah baru saja dijalankan.
Mungkinkah Anda langsung menilai bahwa mereka berdua sudah gila? Tentu saja mereka melakukan itu bukan tanpa alasan—ada satu keinginan berbeda yang ingin mereka penuhi, yaitu boneka tersebut bisa menjadi teman bicara dan mobil mainan saat itu juga berfungsi dengan baik.
Sayangnya, keinginan adik-adik Anda tidak akan terpenuhi seketika. Boneka tidak bisa berbicara, mobil mainan tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri, dan keduanya sama-sama benda mati.
Meskipun begitu, kondisi antropomorfisme ini justru tergolong normal karena termasuk ke dalam bagian alami dari cara berpikir manusia. Di samping itu, antropomorfisme muncul dalam situasi tertentu di saat manusia sedang merasa kesepian dan diterpa banyak masalah.
Lebih dari itu, perkembangan teknologi yang makin pesat membuat seolah-olah benda mati—anggap saja seperti contoh sebelumnya, yaitu boneka dan mobil mainan justru mampu berbicara—padahal hal tersebut hanyalah hasil dari Large Language Models (LLM), algoritma, dan kecerdasan buatan yang dirancang untuk meniru respons manusia.
Pada akhirnya, kondisi antropomorfisme tidak selamanya baik jika manusia menganggap benda mati sebagai makhluk hidup secara berlebihan atau di luar batas normal.
Tidak ada satu pun kecerdasan buatan yang memiliki pemikiran, perasaan, dan pengalaman subjektif. Sebuah pandangan yang muncul dan menganggap bahwa AI adalah perasa justru membuktikan bahwa otak manusia memang dirancang secara otomatis terpancing dengan kondisi antropomorfisme.
Namun, mengingat sekaligus mempercayai bahwa adanya kecerdasan buatan diperoleh dari hasil campur tangan manusia ialah suatu hal yang amat penting agar diri kita tidak tersesat dan terbawa kondisi emosional.
Sekelas ChatGPT, Gemini, Claude, dan platform kecerdasan buatan lainnya mungkin belum tentu bisa menyaingi GoPrep dari segi kepribadian.
Saat Preppy dibercandai oleh pengguna—bahkan dijawab asal-asalan—ia justru secara spontan terdengar kesal dan marah. Lebih parahnya, Preppy bisa mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas untuk diucapkan dalam situasi tersebut.
Meski terdengar spontan, pada aplikasi seperti ini pembuatnya tentu telah menentukan karakter Preppy sejak awal lewat serangkaian instruksi sistem, misalnya seperti apa kepribadiannya, bagaimana gaya bicaranya, dan kapan ia boleh bercanda atau menegur. Ketika pengguna melempar candaan atau menjawab sekenanya, ia hanya memilih respons yang cocok dengan peran tersebut.
Gaya bicara yang terdengar akrab termasuk kata-kata yang kasar menurut sebagian orang bukan menjadi tanda bahwa AI ini benar-benar marah.
Model bahasa dilatih dari tulisan manusia dalam jumlah sangat besar, sehingga ia mengenali bagaimana orang mengomel, menyindir, atau mengumpat dalam percakapan sehari-hari.
Ketika perannya memperbolehkan pola-pola itu dapat dipakai kembali, hasilnya akan terasa lucu dan sungguhan.
Referensi
https://goprep.gg/en/guides/exam/ielts-gg-is-now-goprep
https://www.tempo.co/gaya-hidup/mengenal-antropomorfisme-sifat-manusia-yang-memberikan-empati-ke-sekitarnya-75918
https://www.ibm.com/id-id/think/topics/large-language-models
Baca Juga
-
Makna Lirik Lagu 'Coba Lagi': Pengingat Harapan saat Berada di Titik Terendah
-
Ironi Kaderisasi Kampus: Aturan PKKMB Diterabas dan Senioritas Berkuasa
-
DPR Musikal Terbukti Nyata: Saat Isu Karhutla Kalah Tajam dari Drama Medsos
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
-
Jerat Perpeloncoan Kampus: Saat Regulasi Dikecoh Modus PKKMB dan Kaderisasi
Artikel Terkait
-
Era Zero Click Dimulai, Bagaimana Nasib Media di Tengah Gempuran AI?
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
84 Persen Perusahaan Indonesia Optimistis AI Bisa Ubah Pengelolaan Keuangan
-
Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia
-
Pendapatan Indosat Tumbuh 11 Persen, Bisnis AI Cloud Bidik 100 Juta Dolar AS pada 2026
Kolom
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua
-
Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan
-
Birokrasi No Viral No Justice: Kenapa Pelayanan Publik Selalu Dipersulit?
Terkini
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Warisan Resep Dapur Ibu
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!