Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maia Estiaty. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji kopi robusta di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan.
Maia lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus, remaja berusia 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu.
Ya, bagi Maia, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maia menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.
Di balik senyum hangatnya, hidup Maia sarat ternyata dengan lika liku. Dia terpaksa mengalami trauma ketika duduk di bangku sekolah dasar karena menjadi korban perundungan. Dunianya begitu sempit. Dia hanya mengurung di rumah. Keseharian, dia cuma membantu sang nenek.
Nah, dengan dukungan salah satunya dari sang nenek, Maia kini mulai merasa berdaya. Dia kekinian sehari-hari membantu memilah biji kopi di sebuah rumah produksi kopi yang didampingi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur.
Maia adalah satu dari sekian banyak sosok inspiratif yang ditemukan kawan-kawan KTH Ngudi Makmur saat menunaikan program selaku penerima manfaat dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.
Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengibaratkan sosok Maia ini seperti biji kopi yang belum disangrai. Menurut Sidi, Maia memiliki potensi yang sangat besar namun masih terpendam. Ya, seperti biji kopi, potensinya tersembunyi dalam cangkang keras.
Menurut Sidi, sosok Maia yang inspiratif ini merupakan bukti nyata konservasi lingkungan kala dirancang secara inklusif dan dipimpin masyarakat, dapat menjadi katalisator mendalam bagi pengembangan manusia yang holistik.
“Dengan begitu, peran kami di GEF SGP Indonesia sejatinya bukan sekadar mendanai proyek atau program, tetapi juga menciptakan kondisi di mana mereka yang paling rentan dapat menemukan tempat dan kedamaiannya,” tutur Sidi.
Filosofi GEF SGP Indonesia, menurut Sidi, keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal. “Dukungan kami bukan hanya soal membudidayakan kopi; tapi menumbuhkan martabat dan ketangguhan manusia,” lanjut dia.
Transformasi dimulai ketika program menciptakan ruang yang menghargai kemampuan yang berbeda-beda. Bagi Maia, imbuh Diri, proses ritmis dan taktis dalam memilah biji kopi menjadi bahasanya sendiri.
“Ini adalah tugas yang lebih menekankan pada fokus dan ketelitian dibandingkan kemampuan berbicara. Di lingkungan ini, dengan dukungan neneknya dan KTH Ngudi Makmur lainnya, ia tidak lagi didefinisikan oleh disabilitasnya, melainkan oleh kontribusinya,” terang Sidi.
Dukungan Alami bagi Maia
Program pendampingan ini memang tidak memberikan terapi khusus untuk Maia. Namun, program ini membantu menciptakan usaha milik komunitas yang secara alami menghargai keterampilannya.
“Kami menyediakan platform untuk inklusi ekonomi, yakni rumah produksi yang menjadi ruang netral dan produktif di mana Maia dapat terlibat dalam perekonomian lokal dengan caranya sendiri. Partisipasi ekonomi ini penting menuju kepercayaan diri dan integrasi sosial,” ujar Sidi.
Selain itu, program ini juga memperkuat kapasitas kolektif komunitas untuk saling peduli dengan mendukung kelompok seperti KTH Ngudi Makmur. Dalam hal ini, sang nenek dan penerima manfaat lainnya menjadi sistem dukungan alami bagi Maia.
“Jaringan penguatan ini tentunya seringkali sulit ditiru oleh program formal yang belum tentu berbasis keterlibatan masyarakat,” terang Sidi.
Nah, cerita Maia ini sejatinya tidak berhenti sampai di sini. Ini merupakan landasan awal ke fase berikutnya. Salah satunya adalah mengeksplorasi keberhasilan model ini dapat digunakan untuk mengikutsertakan pemuda lain yang memiliki kebutuhan berbeda di komunitas.
“Selain itu, kisah Maia menjadi studi kasus yang kuat bagi penerima hibah komunitas lainnya, menunjukkan bahwa proyek lingkungan dapat dan seharusnya dirancang sebagai sarana untuk inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan,” ujar Sidi.
Cerita Maia menjadi bukti bahwa proyek lingkungan bisa menjadi pintu inklusi sosial. Dari segenggam biji kopi, Maia menenun kembali rasa percaya dirinya, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan bukan akhir segalanya.
Baca Juga
-
Strawberry Cheesegame oleh KiiiKiii: Jatuh Cinta pada Sosok Terlalu Menawan
-
Strawberry Cheesegame oleh KiiiKiii: Jatuh Cinta pada Sosok Terlalu Menawan
-
Kembali Dipanggil Timnas U-23, Peluang Bagi Jens Raven Buktikan Kualitasnya
-
Banyak Pengalaman, Fabio Quartararo Senang Pramac Pertahankan Jack Miller
-
4 Rekomendasi Anime yang Mengajakmu Merasakan Slow Living
Artikel Terkait
-
Cerita Maya, Remaja Difabel Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta
-
Jakarta Huru Hara: Polres Jaktim hingga Polsek Dibakar Massa, ABG Tergeletak Ditembak!
-
Abdur Arsyad Sentil Aparat Penabrak Ojol: Tuhan Kasih Akal, Malah Patuh Komandan
-
Mengerikan! Gerebek Remaja Tawuran, Polisi Klapanunggal Temukan Prostitusi Anak Sekolah
-
Hari Remaja Internasional: Menstruasi Bukan Alasan Untuk Tidak Percaya Diri
Rona
-
Kenapa Mobil Warna Gelap Bisa Bikin Bumi Makin Panas? Ini Penjelasan Ahli
-
BRIN Dorong Kolaborasi Global untuk Percepat Inovasi Nanoteknologi
-
Peneliti Kembangkan Inovasi Minyak Nabati Buatan: Bisakah Jawab Krisis Rantai Pasok?
-
Nggak Cukup Pakai Serum! Ini Cara Bikin Rambut Lebih Kuat dan Berkilau
-
Pariwisata Indonesia Tertekan Perubahan Iklim, Bisakah Tetap Berkelanjutan?
Terkini
-
Strawberry Cheesegame oleh KiiiKiii: Jatuh Cinta pada Sosok Terlalu Menawan
-
Strawberry Cheesegame oleh KiiiKiii: Jatuh Cinta pada Sosok Terlalu Menawan
-
Kembali Dipanggil Timnas U-23, Peluang Bagi Jens Raven Buktikan Kualitasnya
-
Banyak Pengalaman, Fabio Quartararo Senang Pramac Pertahankan Jack Miller
-
4 Rekomendasi Anime yang Mengajakmu Merasakan Slow Living