Hari ini, suasana terasa sedikit berbeda. Di satu sisi, saudara-saudara kita umat Hindu sedang menjalani Hari Raya Nyepi, hari hening yang penuh makna, di mana aktivitas seolah berhenti untuk memberi ruang bagi perenungan. Di sisi lain, umat Islam bersiap menyambut Idulfitri, entah besok atau besok lusa, bergantung pada penetapan hasil sidang isbat Kemenag RI. Kedekatan waktu ini, bagi saya, bukan sekadar kebetulan kalender, tetapi semacam pengingat halus tentang wajah asli Indonesia yang beragam, namun tetap satu napas.
Dalam keseharian, kita mungkin sering membicarakan toleransi sebagai konsep besar. Namun momen seperti ini justru menghadirkan praktik nyata. Menghormati Nyepi, misalnya, bukan hanya soal tidak menyalakan suara keras atau menghargai suasana sepi di Bali. Lebih dari itu, ini tentang kesediaan menahan diri, sesuatu yang sebenarnya juga diajarkan dalam Ramadan. Ada poin nilai yang menarik: sama-sama mengajak manusia untuk menenangkan diri, menahan hawa nafsu, dan mendekat pada makna hidup yang lebih dalam.
Di saat yang hampir bersamaan, umat Islam juga dihadapkan pada dinamika internal yang sudah cukup akrab, yaitu perbedaan penentuan hari raya Idulfitri. Sebagian mengikuti keputusan Muhammadiyah dengan metode hisab, sementara yang lain menunggu rukyat yang menjadi pedoman Nahdlatul Ulama. Perbedaan ini kerap muncul setiap tahun dan selalu memancing reaksi yang hampir serupa, mulai dari yang santai saja, hingga yang memperdebatkannya dengan serius.
Bagi saya, perbedaan ini justru memperlihatkan kedewasaan beragama yang khas di Indonesia. Kita tidak sedang membicarakan mana yang benar atau salah, melainkan bagaimana dua pendekatan yang berbeda bisa hidup berdampingan tanpa harus saling menegasikan. Di sinilah letak pentingnya kedewasaan sikap, yakni menerima bahwa keyakinan bisa memiliki jalan yang berbeda, tanpa kehilangan esensi yang sama.
Kalau kita tarik lebih jauh, sebenarnya ada benang merah antara dua situasi ini, Nyepi dan perbedaan Idulfitri. Keduanya sama-sama menguji kemampuan kita dalam menghormati. Menghormati yang berbeda keyakinan, dan menghormati yang berbeda cara dalam keyakinan yang sama. Ini bukan hal sederhana, karena kerapkali ego, baik sebagai individu maupun kelompok, ikut bermain.
Padahal, jika direnungkan, hari raya seharusnya menjadi ruang untuk melunakkan hati, bukan mengeraskannya. Idulfitri sendiri identik dengan kata “kembali”, kembali bersih, kembali pada fitrah. Namun, makna kembali ini terasa kurang utuh jika kita masih sulit menerima perbedaan di sekitar kita. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang saling memaafkan, jika pada saat yang sama kita masih sibuk memperdebatkan perbedaan yang sebenarnya bisa dirangkul?
Di tingkat masyarakat, saya melihat hal yang cukup menenangkan. Di banyak tempat, perbedaan penetapan Idulfitri tidak lagi menjadi sumber ketegangan seperti dulu. Orang-orang mulai terbiasa. Ada yang salat lebih dulu, ada yang menyusul keesokan harinya, dan semuanya berjalan wajar. Bahkan dalam satu keluarga pun, perbedaan itu bisa terjadi tanpa harus merusak hubungan. Ini menunjukkan bahwa kedewasaan sosial kita sebenarnya terus tumbuh, meski pelan.
Hal yang sama juga terlihat dalam sikap terhadap Nyepi. Masyarakat di luar umat Hindu pun semakin memahami makna hari tersebut. Tidak lagi sekadar melihatnya sebagai hari libur tanpa aktivitas, tetapi sebagai bagian dari keyakinan yang patut dihormati. Kesadaran seperti ini tidak lahir tiba-tiba, melainkan dari proses panjang hidup bersama dalam perbedaan.
Menurut saya, inilah kekuatan Indonesia yang acapkali tidak disadari sepenuhnya. Kita mungkin berbeda dalam banyak hal, agama, tradisi, bahkan cara menentukan hari besar keagamaan, tetapi ada satu kesamaan yang terus dijaga: keinginan untuk tetap hidup rukun.
Tentu saja, harmoni ini tidak bisa dianggap selesai. Ia perlu dirawat setiap saat, tidak hanya saat momen besar seperti sekarang. Namun, kedekatan Nyepi dan Idulfitri tahun ini setidaknya memberi kita jeda sejenak untuk merenung, sejauh mana kita sudah benar-benar menghormati perbedaan?
Maka dari itu, hari raya bukan hanya soal perayaan, tetapi juga soal cara kita memandang orang lain. Jika kita mampu melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan indah, maka persatuan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan bersama.
Dan mungkin, di situlah makna kemenangan yang sesungguhnya, bukan hanya menang melawan diri sendiri, tetapi juga berhasil menjaga ruang kebersamaan di tengah segala perbedaan.
Baca Juga
-
Daging Sapi Mahal Jelang Lebaran, Alarm bagi Sistem Distribusi Pangan Nasional
-
Bagi Saya Zakat Bukan Sekadar Ibadah, Tapi Solusi Sosial yang Butuh Dikelola Profesional
-
Huawei FreeBuds Pro 4: Earbuds Premium dengan ANC AI dan Audio Lossless
-
Kritik Tradisi Stop Tadarus di Akhir Ramadan: Masjid Jadi Sepi Setelah Khatam Al-Qur'an
-
Ingin Mudik Lebaran 2026 Tanpa Drama Macet? Manfaatkan Aplikasi Travoy Ini
Artikel Terkait
-
Setelah Puasa Ramadan Sebulan, Bolehkah Berhubungan Suami Istri di Hari Raya Idulfitri?
-
Nyepi 2026, Bali Hening Total, Jalanan dan Tol Sepi Tanpa Aktivitas
-
Sambut Idulfitri, PLN Group Berbagi Santunan untuk Anak Yatim Hingga Santri di Banggai
-
Idulfitri Berbeda, Menag Minta Muhammadiyah Toleransi ke Warga yang Masih Puasa Besok
-
Niat dan Tata Cara Mandi Sebelum Sholat Idulfitri, Perhatikan Urutannya
Rona
-
Kisah Perjalanan YouthID: Saat Anak Muda Menembus Batas, Mendengar Suara Disabilitas di Aceh
-
Menikmati Strike Tak Terduga di Sagara Makmur
-
Ingin Coba Mendaki? Inilah Daftar 10 Gunung di Indonesia Paling Ramah Pemula
-
Dari Sampah hingga AI, Sahya Vidya Nusantara Jadi Ruang Belajar Alternatif di LPB Nasional 2025
-
Menyambut Natal Lebih Bijak, Ini Cara Merayakan secara Ramah Lingkungan
Terkini
-
Konspirasi Basa-Basi: Lebaran Itu Silaturahmi atau Ruang Interogasi?
-
Kuda Lumping Diplomasi: Misi Jakarta Merayu Pawang di Panggung Board of Peace
-
Tarian Darah dari Rawa
-
Perebutan Kuasa Tertinggi Asia Pasifik, Membaca Kisah Bujang di Novel Pergi
-
Silaturahmi Lebaran dan Budaya Gosip: Ketika Obrolan Hangat Berubah Arah