Hayuning Ratri Hapsari | Fathorrozi 🖊️
Novel Jakarta Selintas Aram (Grasindo)
Fathorrozi 🖊️

Saya seketika terpikat ketika mulai membaca novel Jakarta Selintas Aram ini. Bukan hanya karena gaya bertuturnya yang cair dan tak terduga, tetapi juga karena cara novel karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini merayakan kekacauan hidup dengan kejujuran yang nyaris telanjang.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar diam, saya diajak menyusuri kehidupan Emina, seorang perempuan dengan cara berpikir yang melompat-lompat, penuh humor, namun diam-diam menyimpan lapisan refleksi yang dalam.

Emina bukan tokoh yang mudah ditebak. Ia bisa melontarkan komentar absurd tentang hal sepele, lalu tiba-tiba menohok dengan pertanyaan eksistensial yang membuat pembaca terdiam.

Di sekelilingnya, ada lingkaran manusia yang tak kalah unik. Sahabat-sahabat Emina dengan dinamika hangat, keluarga besar yang ia sebut Para Jompo, hingga Abel, lelaki lembut yang tampak sempurna, tetapi justru menjadi cermin kegelisahan Emina sendiri.

Di sinilah novel ini mulai menggali sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kisah cinta. Hubungan Emina dan Abel tidak runtuh oleh pertengkaran besar atau konflik dramatis. Justru sebaliknya, ia berakhir dalam keheningan yang ganjil, perpisahan yang diucapkan melalui suara helium dari balon, diiringi tangis yang canggung dan berantakan.

Adegan ini terasa lucu, hampir absurd, tetapi menyisakan getir yang lama mengendap. Dari situ, pertanyaan besar muncul tanpa perlu dijelaskan panjang, apa arti bertahan, jika kebahagiaan tak lagi terasa?

Setelah perpisahan itu, arah hidup Emina berubah. Ia meninggalkan apartemennya dan kembali ke Rumah Para Jompo, ruang yang riuh oleh karakter-karakter eksentrik. Ada Datuk yang keras kepala, Nin yang cerewet, Pak Meneer yang bijak sekaligus gemar bergosip, hingga Nissa yang blak-blakan dan tanpa ampun melontarkan ejekan. Kehadiran Suki, remaja dengan sikap judes namun rapuh, semakin memperkaya lanskap emosi cerita ini.

Percakapan di rumah itu kerapkali terasa absurd, membahas babi, tahu, atau hal-hal remeh yang tampaknya tak penting. Namun justru di situlah kekuatan novel ini. Saya menemukan makna dalam hal-hal yang tampak sepele.

Di tengah tawa dan kekonyolan, Emina perlahan merangkai ulang pemahamannya tentang hubungan, tentang kedekatan, dan tentang dirinya sendiri.

Lima tahun berlalu sejak pertemuan pertama yang diceritakan sebelumnya. Kini, suasana terasa berbeda, lebih padat, lebih berisik, tetapi juga lebih matang. Ada pernikahan di sebuah rumah tua di tengah Jakarta, ada rahasia yang terungkap, diary yang dibaca, dan kenangan yang kembali mengambang.

Kota ini tak lagi hanya latar, melainkan menjadi ruang hidup yang menyimpan jejak emosi, tempat Emina berjalan berdampingan dengan masa lalunya sendiri.

Secara naratif, novel ini mengalir tanpa terasa dipaksakan. Dialog-dialognya hidup, seperti percakapan sehari-hari yang jujur dan akrab. Karakter-karakternya terasa nyata, tidak sempurna, kadang menjengkelkan, tetapi justru karena itu mudah dipercaya.

Ziggy menghadirkan keberagaman manusia dengan cara yang hangat dan tidak menghakimi, seolah mengajak pembaca untuk memahami, bukan menilai.

Kekuatan lain terletak pada lapisan reflektif yang tersebar di sepanjang cerita. Pertanyaan-pertanyaan kecil tentang cinta, kehilangan, dan pilihan hidup hadir tanpa menggurui. Saya diberi ruang untuk berhenti sejenak, merenung, lalu melanjutkan perjalanan dengan perspektif yang mungkin telah bergeser.

Kendati demikian, novel ini bukan tanpa celah. Sebagai kelanjutan dari kisah sebelumnya, ia cukup bergantung pada ingatan pembaca terhadap cerita terdahulu.

Bagi yang baru datang, beberapa dinamika bisa terasa asing atau kurang menggigit. Namun bagi pembaca setia, justru di situlah letak kehangatannya, seperti pulang ke tempat yang familiar, tetapi dengan cerita yang lebih kompleks.

Singkat kata, novel Jakarta Selintas Aram adalah potret kehidupan yang tidak rapi. Ia berisik, penuh tawa, sekaligus menyimpan kesedihan yang tak selalu diucapkan.

Novel ini mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu terang untuk bisa dipahami. Kadang, justru dalam remang itulah kita belajar melihat lebih jujur.

Identitas Buku

Judul: Jakarta Selintas Aram

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Cetakan: I, Januari 2026

Tebal: 316 Halaman

ISBN: 978-602-053-180-9

Genre: Fiksi/Novel