Eko Retnawan
Eko Retnawan
Ilustrasi. (Shutterstock)

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, karena Penjas  tidak hanya berfokus pada aspek psikomotor (ketrampilan gerak) saja, tetapi memperhatikan aspek kognitif (pengetahuan) dan aspek afektif (perilaku) juga. Namun pada prakteknya dalam penerapan pembelajaran di banyak sekolah lebih banyak menerapkan praktek daripada pembelajaran teori pengetahuan.

Mata pelajaran Pendidikan Jasmani tidak bisa dianggap remeh dalam masa sekarang karena mempunyai peranan dalam menjaga dan meningkatkan kebugaran jasmani peserta didik melalui aktivitas jasmani sehingga kebugaran dan kekebalan tubuh dapat meningkat dan dapat terhindar dari resiko penularan Covid-19. Dalam era sekarang, khususnya saat masa pandemi Covid-19, ketika terdapat beberapa penyesuaian dan pembatasan beberapa aktivitas maka kamu sebagai guru Penjas harus dituntut untuk berkreasi dan berinovasi dalam melakukan pembelajaran di sekolah.

Salah satu tantangan yang dihadapi dalam masa pandemi ini adalah pembatasan pembelajaran dimana sekolah belum membuka pembelajaran tatap muka secara penuh. Sehingga pembelajaran penjas pada saat ini banyak dilakukan dalam model pembelajaran daring maupun pembelajaran blended learning.

Pada saat menggunakan cara Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) terdapat beberapa kendala dalam proses pembelajaran, diantaranya :

1. Fasilitas media mengajar (komputer,laptop, smartphone) tidak semua guru penjas dan siswa memiliki atau kesulitan pengoperasian.

2. Akses internet yang terbatas dan berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lainnya.

3. Motivasi peserta didik yang berkurang karena tidak ada tatap muka langsung.

4. Kedisipinan peserta didik berkurang.

Hal itu harus menjadi tugas bagi seluruh guru dan pemerhati pendidikan terutama pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, agar dapat melakukan pembelajatan secara inovatif dan kreatif. Meskipun peserta didik berada dirumah masing-masing pada saat pembelajaran, guru dapat memberikan pembahasan tentang materi kesehatan dan kebugaran melalui berbagai media pembelajaran.

Selain itu guru juga dapat mewajibkan peserta didiknya untuk melakukan kegiatan fisik, ketrampilan gerak dan latihan olahraga melalui aktivitas perekaman dan editing video sehingga dapat menghasilkan karya kreatif yang bisa dibagikan diberbagai media sosial untuk keperluan penyelesaian tugas sekolah.

Dalam mengajar daring ataupun blended learning ini guru dapat memilih penggunaan platform digital yang penggunaanya disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki peserta didik agar tidak memberatkan proses pembelajaran. Misal jika siswa kesulitaan dalam hal fasilitas alat elektronik dan internet maka guru dapat memilih media platform digital yang sederhana, contohnya aplikasi Whats App atau bahkan SMS.

Namun jika kemampuan peserta didik sudah memadai maka guru dapat menggunakan media platform digital yang lebih kompleks seperti aplikasi zoom, google meet ataupun google classroom. Untuk pembelajaran blended learning bagian tatap muka dapat dipakai jika ada peserta didik yang tidak bisa menggunakan media online untuk pembelajaran dengan cara guru berkunjung kerumah peserta didik atau bisa siswa yang ke sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Untuk pemilihan materi pembelajaran bisa disesuikan dengan kondisi peserta didik. Misal untuk pemilihan materi ajar dengan risiko tinggi seperti renang, senam lantai, tolak peluru, lempar lembing dapat diperhatikan lagi langkah pembelajarannya.

Kamu bisa memodifikasi alat, sarana dan prasarananya agar proses pembelajaran tetap aman dan berjalan lancar. Jika kamu sebagai guru penjas tidak ingin membebani peserta didik kamu dengan masalah peralatan, maka kamu bisa memilih materi olahraga tanpa alat, seperti lari, jalan cepat, atau berbagai jenis latihan kebugaran jasmani (push up,sit up, planking dll). 

Pemilihan media pembelajaran baik visual maupun media visual juga perlu kamu perhatikan agar menarik dan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk ,mengikuti pembelajaran sampai selesai. Peserta didik lebih tertarik pada media audio visual yang didalamnya terdapat contoh gerakan yang diinginkan dan disertai dengan penjelasan langkah atau cara melakukan gerakan tersebut.

Media tersebut bisa ditampilkan melalaui berbagai media sosial agar lebih kekinian. Untuk peserta didik dengan keterbatasan akses internet, guru dapat membuatkan gambar langkah-langkah gerakan disertai penjelasannya secara lengkap dan jelas.

Dalam proses pembelajaran jarak jauh ini juga perlu diperhatikan tentang anjuran mentri Pendidikan tentang merdeka belajar. Dimana anak bisa belajar secara mandiri kapan saja dan dimana saja. Semua materi dan tugas yang kamu berikan seharusnya mudah diakses oleh peserta didik baik yang menggunakan media sederhana sampai yang menggunakan media online yang kompleks.

Kapan saja dari pagi sampai malam dan pagi lagi, baik sedang bepergian maupaun sedang bersantai. Untuk ketentuan seragam juga bisa kamu pertimbangkan agar peserta didik tidak bosan maka bisa kamu siasati dengan ketentuan tidak wajib memakai kaos seragam olahraga sekolah, peserta didik bisa memakai pakaian olaharag bebas asalkan sopan dan rapi.

Selain hal tersebut diatas, beberapa strategi yang bisa kamu gunakan adalah tentang keterlibatan orang tua. Ketika proses belajar dari rumah, orang tua memiliki peran sebagai pendamping anaknya sendir. Guru tidak bisa mengawasi secara langsung dan maksimal oleh sebab itu guru harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua agar bersedia mengawasi dan mendampingi kegiatan peserta didik.

Tak kalah penting lagi adalah kamu sebagai guru penjas harus selalu menekankan pada aspek afektif, dimana aspek ini dijadikan acuan utama dalam pembelajaran dengan selalu menunjukkan sikap disiplin, tanggung hawab, komitmen, sungguh-sungguh, sportif dan percaya diri. Slogan “adab dulu baru ilmu” bisa kamu coba terapkan pada saat pembelajaran agar tujuan pembejaran dapat tercapai dengan optimal.