Pernah melihat seseorang membuka buku perlahan, lalu tanpa sadar mengangkatnya ke hidung dan menghirup dalam-dalam aromanya?
Mungkin kamu sendiri pernah melakukannya. Sebagian orang menganggapnya aneh, tapi di dunia para pencinta buku, kebiasaan ini sangatlah lumrah. Bahkan memiliki nama tersendiri yaitu bibliosmia, kenikmatan dari mencium bau buku.
Aroma buku, baik baru maupun lama punya daya tariknya sendiri. Buku baru biasanya memiliki wangi khas tinta, lem, dan kertas segar.
Sementara buku lama, terutama yang sudah menguning, membawa aroma nostalgia yang sulit dijelaskan. Campuran antara debu, waktu, dan cerita yang tersimpan membuatnya terasa magis.
Bagi sebagian orang atau para pencinta buku, itu bukan sekadar bau, tapi pengalaman sensorik yang melekat erat dengan kenangan membaca.
Dan yang perlu ditegaskan adalah mencium buku bukan hal aneh. Itu bagian dari pengalaman emosional yang datang bersama membaca.
Sama seperti seseorang yang menyukai aroma tanah setelah hujan, atau wangi baju milik orang tersayang, mencium buku juga berkaitan dengan rasa nyaman, tenang, dan koneksi emosional yang dalam.
Dilansir dari University of Colorado Boulder aroma khas yang dipancarkan oleh buku adalah hasil dari proses kimia yang rumit, terutama melalui pelepasan Senyawa Organik Volatil (VOC).
VOC adalah bahan kimia yang memiliki tekanan uap tinggi pada suhu kamar biasa, sehingga memungkinkannya menguap dan melepaskan bau yang dapat dideteksi.
Senyawa-senyawa ini dilepaskan saat bahan-bahan penyusun buku seperti kertas, tinta, dan perekat mengalami degradasi atau pelepasan gas.
Selain itu, dilansir dari Bookscouter aroma buku berasal dari senyawa organik yang dilepaskan oleh kertas seiring waktu, seperti lignin dan vanillin, senyawa yang juga ditemukan dalam vanila.
Itulah sebabnya buku lama sering berbau manis dan hangat. Beberapa perusahaan parfum bahkan menciptakan aroma “old book” sebagai wewangian nostalgia. Secara alamiah, kita cenderung menyukai aroma yang manis, jadi tidak heran jika kita menyukai aroma buku, khususnya buku-buku tua.
Selain aspek kimiawi, kebiasaan mencium buku juga bisa menjadi bentuk keintiman personal dengan bacaan. Ia menambah dimensi lain dalam pengalaman membaca tidak hanya visual dan intelektual, tapi juga inderawi.
Kadang, sebelum mulai membaca, menghirup aroma buku bisa menjadi semacam ritual kecil yang memberi rasa damai dan fokus.
Aroma buku juga dapat membangkitkan rasa nostalgia dan emosi positif bagi pembacanya. Nostalgia pada buku yang membuatnya pertama kali jatuh cinta pada membaca, nostalgia tentang perpustakaan yang sering dikunjungi saat waktu kecil, dan masih banyak lagi.
Namun sayangnya, masih ada anggapan bahwa orang yang mencium aroma buku adalah aneh, berlebihan, atau berpura-pura intelek.
Padahal tidak semua kebiasaan harus dipahami oleh semua orang. Bagi pembaca sejati, tindakan itu mungkin kecil, tapi sarat makna. Dan selama tidak merugikan siapa pun, mengapa harus dianggap aneh?
Mencium buku adalah salah satu bentuk paling sederhana dari kecintaan pada literasi. Ia tidak membutuhkan kata-kata, hanya satu tarikan napas yang dalam, dan rasa nyaman yang datang begitu saja.
Kadang, justru lewat hal-hal kecil seperti ini, kita tahu bahwa hubungan kita dengan buku bukan hanya soal isi, tapi juga tentang rasa yang akan terus kita rawat dan jaga.
Jadi, kalau kamu pernah atau sering mencium aroma buku, jangan khawatir kamu tidak sendiri. Kamu hanya sedang jatuh cinta pada bentuk paling sederhana dari pengetahuan.
Baca Juga
-
Dari Novel ke Film: The Housemaid Sebuah Thriller Psikologis yang Mencekam
-
Obsesi Kekuasaan dan Keserakahan Manusia atas Alam dalam Novel Aroma Karsa
-
Advokasi Gender dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam
-
Ulasan Novel Lelaki Harimau: Kekerasan Rumah Tangga hingga Trauma Generasi
-
5 Fakta Menarik Novel Animal Farm Jelang Adaptasi Film di Tahun 2026
Artikel Terkait
-
Saat Naik Gunung Tak Semudah FYP TikTok dalam Novel Sweet Edelweiss
-
Novel Kedai Bunga Kopi: Kisah Inspiratif Perempuan dan Aroma Perjuangan
-
Ulasan Novel Part of Your World: Melepaskan Ekspektasi untuk Cinta Sejati
-
Review Buku Nanti Juga Sembuh Sendiri: Ketika Buku Bisa Menjadi Teman Baik
-
Ulasan Buku The Comfort Book, Kiat Melalui Badai Depresi ala Matt Haig
Hobi
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia
-
Rangkuman Sprint Race MotoGP Catalunya 2026: Alex Marquez Kembali Berkuasa!
-
Dari Le Mans ke Catalunya, Siapkah Jorge Martin Lanjutkan Tren Kemenangan?
-
Sedang Cedera, Duo Aprilia Enggan Remehkan Kemampuan Marc Marquez
-
Sedih, Marc Marquez Menangis saat Jelaskan Kondisi Fisiknya pada Tim Ducati
Terkini
-
Turun Stasiun, Langsung Jalan-Jalan! 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Praktis di Purwakarta
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Membongkar Sisi Kelam Orde Baru dalam 'Larung': Sastra yang Menolak Dibungkam
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya