Hanya dengan duduk manis di rumah, masyarakat dapat mengunjungi Museum Nasional Indonesia untuk merasakan suasana yang unik dan berbeda. Bahkan, dapat melihat koleksi benda prasejarah secara utuh hanya dengan menyiapkan gadget pribadi.
Munculnya virtual tourism dapat menjawab keraguan wisatawan domestik untuk berkunjung ke Museum Nasional. Seperti yang kita ketahui pada tahun 2020 Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta memperlihatkan penurunan jumlah pengunjung mencapai 4.792.342 sedangkan pada tahun 2019 jumlah pengunjung mencapai 32.982.472.
Salah satu upaya Musuem Nasional Indonesia untuk menarik perhatian wisatawan domestik di Indonesia dengan memanfaatkan potensi inovasi teknologi yaitu dengan virtual tourism agar pengunjung tidak merasa bosan dan jenuh.
Melalui website Museum Nasional Indonesia, wisatawan dapat mengeksplorasi lebih dari 160.000 koleksi secara gratis dan utuh. Serta, virtual guide yang telah disediakan oleh pihak museum untuk menjelaskan secara rinci mengenai informasi koleksi Museum Nasional Indonesia yang terdiri dari benda prasejarah, etnografi, geografi, keramik dan sejarah.
Aep Saepuloh sebagai Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Nasional Indonesia mengatakan virtual tourism memudahkan masyarakat untuk kenal lebih dekat dengan sejarah, kini penikmat sejarah hanya memerlukan koneksi internet untuk berkunjung ke museum.
Kehadiran virtual tourism membawa perubahan baru terhadap kesan museum, jika dahulu kesan musuem di kenal sebagai tempat yang membosankan. Kini masyarakat dapat merasakan Sense of telepresence, artinya pengunjung virtual tourism akan merasakan pengalaman seperti berkunjung secara langsung.
Virtual tourism memiliki keuntungan tersendiri untuk masyarakat karena tidak ada biaya yang dikeluarkan hingga dapat diakses kapan saja sesuai keinginan untuk berkunjung, tentunya hal ini sangat menarik untuk meluangakan waktu kosong dirumah.
Era digital tidak menghalangi Museum Nasional Indonesia untuk berbenah, melainkan membawa potensi untuk menarik jumlah kunjungan museum. Melalui virtual tourism, pengunjung tidak hanya dari lokal tetapi berpotensi menarik wisatawan mancanegara.
Dengan adanya virtual tourism diharapkan gadget dapat menjadi media edukasi di masa depan sehingga minat pengunjung museum tidak bergantung pada wisatawan tetapi dapat menarik minat pelajar dan mahasiwa sebagai sarana belajar melalui virtual tourism yang tidak membosankan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
7 Ribu TKI Taiwan Sholat Idul Adha di Halaman Museum Nasional Taiwan
-
Sore di Museum Tutup Gelaran Pameran Seni Erlangga Art Awards 2022
-
Perpika, Organisasi Berkumpulnya Pelajar Indonesia di Korea
-
Serunya Berkunjung Ke Ulsan University Secara Virtual Bareng Yoursay
-
Ritel Fitur Peralatan Rumah Tangga Ini Tawarkan Fitur Virtual Tour, Apa Itu?
Ulasan
-
Mengupas Lirik Terima Kasih Sudah Bertahan: Pengingat bahwa Bertahan Juga Sebuah Pencapaian
-
Membaca Petualangan Pedagang Rempah: Sisi Gelap Kolonial di Indonesia Timur
-
Black Showman, Novel Misteri Cerdas dengan Twist Tak Terduga
-
20 Episode Penuh Teror Mouse: Saat Monster Tak Selalu Berwajah Seram
-
Ulasan Film Semua Akan Baik-baik Saja: Refleksi Indah tentang Arti Keluarga
Terkini
-
Selamat! Lagu Peace Sign oleh Kenshi Yonezu Raih Sertifikasi Gold dari RIAA
-
Wisuda Tinggal Menghitung Hari, Tapi Kenapa Saya Malah Merasa Takut?
-
Sinopsis Hanzaisha, Drama Kriminal Terbaru Issei Takahashi di Prime Video
-
Membawa Ruh Yogyakarta ke Bandung: Sinergi Budaya dan Bisnis LBC Hotels Group
-
Kim Da Mi, Lee Chung Ah, dan Jo Ah Ram Jadi Pembunuh di The Obedient Killer