Nama Keigo Higashino memang sudah tidak asing bagi pecinta novel misteri. Penulis asal Jepang ini dikenal piawai meracik cerita kriminal yang cerdas, penuh teka-teki, tetapi tetap terasa manusiawi.
Dalam novel Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama, Higashino kembali menunjukkan kemampuannya membangun misteri yang perlahan menjerat pembaca hingga halaman terakhir.
Novel ini mengambil latar sebuah kota kecil yang sepi di tengah pandemi Covid-19. Situasi pandemi membuat suasana cerita terasa semakin sunyi, tertutup, dan penuh kecurigaan.
Semua bermula ketika Kamio Eiichi, seorang mantan guru SMP yang dihormati warga, ditemukan tewas tercekik di halaman rumahnya sendiri. Polisi kesulitan menentukan motif pembunuhan.
Apakah ini aksi kriminal biasa, pencurian yang gagal, atau pembunuhan yang memang sudah direncanakan sejak awal?
Kamio Eiichi dikenal sebagai guru baik hati yang tetap dekat dengan mantan murid-muridnya bahkan setelah pensiun. Karena itu, ketika para mantan murid datang untuk menghadiri reuni, mereka otomatis masuk daftar tersangka.
Di tengah kebingungan polisi, muncul sosok Takumi Kamio, paman korban yang eksentrik dan merupakan mantan pesulap terkenal. Bersama keponakannya, ia mulai menyelidiki kasus tersebut dengan caranya sendiri.
Karakter Takumi menjadi daya tarik utama novel ini. Ia bukan detektif profesional seperti karakter misteri pada umumnya, melainkan seorang mantan pesulap dengan pemikiran unik dan kemampuan membaca trik maupun kebohongan manusia.
Pembawaannya santai, nyeleneh, tetapi diam-diam tajam. Kehadirannya membuat suasana novel tidak terlalu berat meskipun mengangkat tema pembunuhan.
Keigo Higashino berhasil membangun misteri secara perlahan tanpa terburu-buru. Pembaca diajak mengenal kehidupan warga kota kecil tersebut, hubungan antar tokoh, hingga rahasia yang tersembunyi di balik citra baik masing-masing karakter.
Tidak hanya fokus pada “siapa pembunuhnya”, novel ini juga membahas kesepian, hubungan keluarga, perubahan hidup akibat pandemi, dan bagaimana manusia menyimpan sisi gelapnya dengan rapi.
Salah satu kelebihan terbesar novel ini adalah atmosfernya. Kota kecil yang nyaris terlupakan terasa hidup lewat deskripsi Higashino.
Suasana pandemi juga digambarkan realistis tanpa terasa berlebihan. Pembaca dapat merasakan kecanggungan sosial, ketakutan, dan perubahan interaksi manusia selama masa tersebut.
Nuansa ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan realitas.
Selain itu, alur ceritanya rapi dan penuh petunjuk kecil. Higashino terkenal dengan gaya misterinya yang “fair”, di mana pembaca sebenarnya diberi kesempatan untuk menebak pelaku sejak awal.
Namun, cara penulis menyusun detail membuat banyak dugaan terasa mungkin. Ketika twist terungkap, pembaca akan menyadari bahwa jawabannya sebenarnya sudah tersebar di berbagai bagian cerita.
Gaya bahasa novel ini juga cukup ringan untuk ukuran cerita misteri. Tidak terlalu rumit, tetapi tetap detail dan elegan.
Dialog antar tokohnya terasa natural, bahkan beberapa percakapan Takumi menghadirkan humor tipis yang menyegarkan suasana. Terjemahan Indonesianya pun nyaman dibaca sehingga emosi dan ketegangan cerita tetap tersampaikan dengan baik.
Meski begitu, novel ini memiliki beberapa kekurangan. Bagi pembaca yang menyukai misteri dengan tempo cepat dan banyak aksi, bagian awal cerita mungkin terasa lambat karena fokus pada pengenalan karakter dan kondisi kota.
Beberapa pembaca juga mungkin merasa jumlah tokohnya cukup banyak sehingga perlu lebih teliti mengingat hubungan antar karakter.
Namun secara keseluruhan, Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama tetap menjadi novel misteri yang menarik dan memuaskan.
Novel ini cocok untuk pembaca yang menyukai teka-teki kriminal dengan pendekatan psikologis dan suasana tenang khas novel Jepang.
Kehadiran Takumi sebagai “showman” juga memberikan warna baru dalam genre misteri, membuat cerita terasa unik dibanding novel detektif biasa.
Baca Juga
-
Saat Semua Cara Tak Berhasil, "Tuhan, Akhirnya Aku Menyerah" Jawabannya
-
Novel "Nun Kembalikan Dia Semula", Fiksi Ilmiah Sarat Emosi dan Intrik
-
Tuhan, Aku Ingin Sembuh: Buku Healing Bernuansa Spiritual yang Menguatkan
-
Novel Haru-Biru, Dua Kisah Menyentuh tentang Cinta dan Pengorbanan
-
Review Buku "Tentang Dewasa": Teman Renungan dalam Menjalani Kehidupan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Jack Ryan: Ghost War, Saat Sang Agen Menghadapi Musuh Masa Lalunya
-
Relate Sama Korban HTS, Ini Makna Nyesek di Balik Lagu 'Tak Sampai Mekar'
-
Kafe Ajaib yang Memasak Impian: Fantasi Epik yang Menyuntik Semangat Mimpi!
-
Review Toko Buku Gerbang Kota: Ketika Buku Menjadi Penyembuh Kesepian
-
Review Film Obsession: Suguhkan Horor Psikologis tentang Obsesi Berbahaya
Terkini
-
Giliran Beli Rumah Disebut MBR, Giliran Bayar Pajak Dianggap Kaya Raya
-
Bahaya! ATEEZ Terjebak dalam Pesona Magnetis dan Memabukkan di Lagu Bad
-
Di Bawah Rp30 Ribu! 5 Brightening Serum Aman untuk Pemula Atasi Kulit Kusam
-
Bukan Arab Saudi apalagi Qatar, Kepulangan 4 Tim Ini Bikin Greget Piala Dunia 2026 Jadi Berkurang
-
Piala Dunia 2026: Hanya Loloskan Dua Wakil, Sepak Bola Asia Masih Stagnan?