Hernawan | Fathorrozi 🖊️
Buku Bibir karya Bakdi Soemanto (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Bibir merupakan anggota tubuh yang ada di tepi mulut, bagian atas dan bawah. Bibir berfungsi sebagai jalan masuknya makanan, minuman, dan udara. Dengan bibir, manusia bisa mengecup dan bercumbu.

Untuk mengetahui seseorang yang memiliki sifat ramah, suka senyum, bahkan menyimpan dendam, bisa diketahui dari bentuk bibirnya. Jika ia tebar pesona dengan tulus hati, maka bibirnya tersenyum lebar dan meneduhkan. Berbeda dengan senyum sinis, bentuk bibirnya naik ke atas. Senyum dengan bibir yang model demikian merupakan senyum yang meremehkan kemampuan orang lain.

Tak jarang, bibir juga menjadi titik sasaran bagi seseorang yang mencari pasangan. Seperti cerpen bertajuk Bibir ini, laki-laki bernama Pyob mencintai Zwestri lantaran bibirnya yang seksi. Segala upaya dilakukan oleh Pyob untuk mendapatkan cinta Zwestri, wanita pemilik bibir indah itu, hingga Pyob membelikannya sepeda model federal, celana jins, deodoran, kaus dan kacamata.

Namun, saat pernikahan Pyob dan Zwestri memasuki usia dua belas bulan, Pyob suka mengoleksi patung bibir. Patung itu ia garap dari tanah liat, lalu dibakar dan dicat. Setelah patung bibir terbentuk, Pyob belajar memasukkan 'ruh' kewanitaan ke dalam patung tersebut. Dengan demikian, bibir buatannya jika dipandang dari jarak dua sampai tiga meter, bagian atas dan bawah bibir itu seakan bergerak-gerak memanggil siapa pun untuk mengecupnya.

Setiap kali membuat patung bibir dengan segumpal tanah liat, Pyob tak lupa memandangi potongan foto seorang wanita yang hanya kelihatan bagian bibirnya. Termasuk bagian dari patung bibir itu adalah bibir Zwestri, istrinya.

Kepada temannya, Kanis, Pyob bercerita bahwa bertahun-tahun dirinya ingin mengecup bibir Zwestri, namun saat sudah menjadi istrinya, bibir Swestri berubah mengerikan. 

Tiba-tiba pada suatu waktu, saat Pyob pulang ke rumahnya dari tempat kerja, Zwestri menyambutnya dengan berkacak pinggang dan mengeluarkan koleksi patung bibir dari dalam lemari pakaian, lalu membantingnya. Patung-patung tersebut hancur berantakan.

Dengan penuh amarah, Zwestri bertanya kepada Pyob, "Ini bibir siapa? Bibir cewek-cewekmu, ya?" tanya Zwestri sambil menunjuk ke kotak kardus yang berisi sejumlah patung bibir.

Pyob pun menjawab bahwa itu adalah patung bibir buatannya. Dengan patung itu, ia menyatakan di depan Zwestri kalau ia sudah tidak lagi butuh bibir istrinya.

"Besok pagi, bibir-bibir itu akan aku bakar, lalu diberi cat. Ia bakal indah sekali. Setiap kali bisa kukecupi, kucumbui. Ke mana-mana aku bawa. Dan tidak cerewet seperti bibirmu!" sahut Pyob kepada Zwestri.

Membaca cerpen ini, secara tidak langsung menyadarkan kita agar menggunakan bibir sebaik mungkin. Berbicara seperlunya. Bicaralah yang baik-baik. Jika tidak mampu berbicara hal yang baik, maka diamlah. Serta, jika mencintai seseorang dengan memandang fisik, saat fisik itu tidak sesuai dengan harapan, maka ia akan kecewa.