Kamis sore kemarin (7/5/2026), saya dan dua teman saya (Lukman dan Aldi) memutuskan untuk "ngopi darat". Bukan sekadar minum kopi, melainkan juga menyambung obrolan yang selama ini hanya terpotong oleh kesibukan masing-masing. Kami sepakat menuju Kedai Tempo Doeloe, sebuah tempat yang konon menyimpan rasa kopi sekaligus rasa nostalgia.
Perjalanan kami hanya sekitar 15 menit, melintasi jalan yang tak terlalu ramai. Di atas motor, obrolan sudah mengalir ringan. Kami membicarakan anak didik yang kurang rajin, mencari cara agar mereka lebih termotivasi. Lalu beralih ke jadwal mengajar yang kian padat, pekerjaan sampingan yang mulai terasa penting, hingga urusan ekonomi keluarga yang tak pernah benar-benar selesai dibahas. Angin sore menemani, seolah ikut mendengarkan percakapan kami yang sederhana tapi penuh makna.
Sesampainya di depan Stasiun Kalisat, kedai itu langsung menarik perhatian. Bangunannya tampak tua, khas peninggalan masa kolonial Belanda, namun telah direnovasi ringan tanpa menghilangkan karakter aslinya. Ada kesan kokoh sekaligus hangat, seperti rumah lama yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebagian Ruangan Kedai Tempo Doeloe
Dari berbagai sumber yang saya dapatkan, menginformasikan bahwa bangunan yang kini menjadi Kedai Tempo Doeloe ini ternyata merupakan rumah dinas Kepala Bagian Bantalan Rel di Stasiun Kalisat. Bangunan ini sempat terbengkalai dan memiliki citra yang kurang baik, kerap digunakan untuk aktivitas negatif seperti mabuk-mabukan hingga praktik prostitusi. Perlahan namun pasti, wajah bangunan itu pun berubah menjadi ruang singgah yang hangat dan penuh cerita. Seolah ruang mati yang hidup kembali menjadi tempat yang lebih bermakna.
Sentuhan klasik menjadi ruh utama yang diusung di Kedai Tempo Doeloe. Inspirasi desainnya lahir dari berbagai kafe di Yogyakarta dan Malang. Elemen-elemen lama seperti jendela besar dan kusen pintu bergaya kuno tetap dipertahankan, menghadirkan nuansa yang seolah membawa pengunjung melintasi waktu.
Ketika malam tiba, suasana semakin terasa magis. Pendar lampu temaram menciptakan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kami betah berlama-lama karena atmosfernya yang nyaman dan sarat nuansa tempo dulu. Dinding-dinding yang dihiasi gambar lawas menambah kesan unik sekaligus memperkuat identitas kedai ini.
Benda Kuno Tertata Rapi di Kedai Tempo Doeloe
Kami masuk melalui pintu depan dan langsung disambut ruang pertama. Aroma kayu tua bercampur kopi menyeruak pelan. Di ruangan ini, berbagai benda kuno tertata rapi. Ada radio lama, telepon duduk, televisi hitam putih, lentera jadul, hingga trofi perunggu yang tampak redup.
Deretan senter kuno dengan berbagai ukuran seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Rasanya seperti kembali ke masa kecil, ketika benda-benda seperti itu masih akrab dalam keseharian.
Deretan Barang Kuno di Ruang Tengah
Kami kemudian bergeser ke ruang tengah. Di sini, suasananya tak kalah menarik. Ada setrika arang, mesin jahit tua, mesin tik yang seolah masih menyimpan cerita surat-surat lama, serta meja dan kursi kayu yang kokoh.
Sebuah sepeda ontel terparkir di sudut ruangan, menambah kesan klasik yang kental. Kami sempat saling tersenyum, seperti menemukan potongan kenangan yang lama terlupakan.
Rak Buku di Sebelah Kiri Pintu Masuk
Sementara di sebelah kiri pintu masuk, suasana terasa lebih tenang. Rak buku tersusun rapi, di sampingnya ada vespa tua yang tampak gagah. Jam dinding kuno berdetak perlahan, sementara lukisan-lukisan klasik menghiasi dinding, membawa nuansa sejarah yang begitu hidup. Kami akhirnya memilih duduk di sini, merasa ruang ini paling pas untuk berbagi cerita.
Koleksi buku yang dapat dinikmati siapa saja secara cuma-cuma di kedai ini merupakan hasil sumbangan dari Gerakan Perpustakaan Anak Nasional (GPAN).
Sedangkan di bagian luar kedai juga tak kalah menggoda. Di depan dan sisi utara gedung, terdapat area tanpa atap dengan meja dan kursi kayu yang dikelilingi pepohonan dan bunga. Udara terasa lebih segar, angin berhembus ringan. Musik mengalun pelan, menciptakan suasana syahdu yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Menu Makanan dan Minuman
Kami memesan minuman, kopi tubruk, iced coffee latte, dan wedang jahe. Pilihan lainnya pun cukup beragam, mulai dari es kopi susu gula aren hingga vietnam drip. Untuk camilan, kami memilih kentang goreng dan bakpao mini. Dengan harga mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 13.000, semuanya terasa ramah di kantong.
Sambil menikmati kopi, obrolan kami kembali mengalir. Kali ini lebih santai, sesekali diselingi tawa. Di sudut ruangan, sebuah gitar tergantung. Saya pun sempat memainkannya, memetik lagu sederhana dari Iwan Fals yang bertajuk "Ibu", membuat suasana semakin hangat. Rasanya seperti pulang ke masa lalu, tapi tetap berpijak di masa kini.
Bermain Gitar di Sela-sela Obrolan
Waktu berjalan tanpa terasa. Senja perlahan berubah menjadi malam. Lampu-lampu kuno mulai menyala, mempertegas suasana klasik yang semakin pekat. Kami akhirnya bersiap pulang, membawa perasaan ringan dan pikiran yang sedikit lebih lega.
Perjalanan kembali terasa berbeda. Bukan hanya karena kopi yang masih tersisa di lidah, tetapi juga karena kenangan yang baru saja kami ciptakan.
Baca Juga
-
Menulis sebagai Side Hustle, Sempat Merasa Berdosa karena Lakukan Hal Ini
-
5 Rekomendasi HP dengan Chipset Dimensity Terbaik 2026: Performa Kencang, Baterai Anti Boros
-
Di Balik Megahnya Dapur MBG, Ada Sekolah yang Dilupakan Negara
-
Bocoran Samsung Galaxy S27 Ultra: Kamera Dipangkas, Teknologi Makin Cerdas
-
Satire di Balik Tawa: Membaca Indonesia Lewat Buku Esai Lupa Endonesa
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Novel The Whisking Hour, saat Naskah Teater Menjadi Nyata
-
Mendengar Suara Korban Teror Gas Sarin Tokyo dalam Buku Underground
-
Of Love and Other Demons: Kritik Tajam terhadap Takhayul dan Prasangka
-
Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri
-
Di Bawah Hujan 1991: Melankolia dalam Novel Goodbye Fairy
Terkini
-
4 Padu Padan OOTD Outerwear ala Seonghyeon CORTIS, Buat Look Makin Chill
-
4 Spray Serum Bi-Phase Kunci Kulit Glowing Setiap Hari, Under Rp100 Ribuan!
-
Privasi Semakin Tipis di Era Digital: Ketika Hidup Jadi Konsumsi Publik
-
4 Clay Mask Peppermint dengan Sensasi Cooling untuk Hempas Minyak Membandel
-
Earphone Kabel Kembali Digemari Anak Muda, Nostalgia atau Kesadaran?