Saya benar-benar kaget ketika foto dan video tentang ketimpangan fasilitas pendidikan ini lewat di linimasa media sosial saya. Awalnya saya melihat unggahan berjudul “Potret Ketimpangan Sosial Dapur MBG dan Kondisi SD di Majalengka Jadi Sorotan” dari akun Instagram @ukmexpertid. Tak lama kemudian, unggahan serupa juga muncul dari akun @inibalikpapanbosku dan @ahquote. Belum habis rasa heran saya, muncul lagi video lain dari akun @viralno.1 yang memperlihatkan kondisi SD Negeri 011 Talang Gedabu yang tak kalah memprihatinkan.
Jujur, saya tidak sedang membenci program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saya paham bahwa anak-anak memang membutuhkan asupan gizi yang baik. Program itu penting. Anak yang lapar tentu sulit belajar dengan maksimal. Namun yang membuat saya gelisah adalah ketika fasilitas pendukung program justru tampak jauh lebih megah dibanding tempat anak-anak itu menuntut ilmu setiap hari.
Pagar SD Negeri Gandawesi
Di SD Negeri Gandawesi, kontras itu terlihat begitu menyakitkan. Bangunan sekolah tampak usang, lapuk, penuh coretan vandalisme, dan pagar sekolah terlihat miring seperti menunggu waktu untuk roboh. Cat dinding mengelupas, lingkungan sekolah tampak tidak terawat, dan suasana belajarnya jauh dari kata nyaman. Namun tepat di sampingnya berdiri bangunan Dapur SPPG untuk program MBG yang terlihat baru, bersih, kokoh, dan modern. Pemandangan itu seperti ironi yang dipertontonkan secara terang-terangan kepada publik.
Saya membayangkan bagaimana perasaan anak-anak ketika mereka masuk ke ruang kelas yang kusam dan rapuh, sementara di sebelahnya berdiri bangunan baru yang jauh lebih layak. Seolah-olah negara berkata bahwa perut mereka penting, tetapi ruang berpikir mereka tidak terlalu diperhatikan.
Kondisi serupa juga terlihat di SD Negeri 011 Talang Gedabu. Sekolah yang berada di Desa Talang Gedabu itu masih didominasi material kayu tua. Bahkan papan namanya hanya berupa spanduk sederhana, bukan plakat permanen sebagaimana sekolah negeri pada umumnya. Di dekatnya, bangunan dapur MBG tampak jauh lebih kokoh dan representatif. Perbedaan visual itu begitu mencolok hingga sulit untuk tidak mempertanyakan arah prioritas pembangunan saat ini.
Saya lalu bertanya dalam hati, ke mana sebenarnya peran pemerintah ketika pagar sekolah sudah miring, dinding mulai rapuh, dan fasilitas belajar anak-anak tidak layak? Mengapa pembangunan yang bersifat tambahan justru terlihat lebih diprioritaskan dibanding bangunan utama tempat pendidikan berlangsung? Bukankah sekolah adalah fondasi masa depan?
Kita tentu sepakat bahwa gizi penting. Tetapi pendidikan bukan hanya soal makan siang gratis. Pendidikan adalah ruang yang aman, nyaman, dan manusiawi untuk anak belajar, berpikir, bertanya, dan bermimpi. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang generasi emas jika ruang kelas mereka sendiri nyaris kehilangan martabat?
Yang membuat persoalan ini semakin menyakitkan adalah karena ketimpangan itu terlihat nyata dalam satu bingkai foto. Tidak perlu data statistik rumit. Tidak perlu debat panjang. Publik cukup melihat satu sisi sekolah yang reyot dan satu sisi dapur MBG yang megah, lalu semua pertanyaan muncul dengan sendirinya.
Saya rasa masyarakat tidak sedang menolak program MBG. Publik hanya ingin pemerintah memiliki kepekaan yang lebih utuh. Sebab pendidikan tidak bisa dipisahkan antara gizi dan fasilitas belajar. Anak-anak membutuhkan keduanya secara bersamaan.
Percuma anak diberi makanan bergizi gratis jika setiap hari mereka belajar di bangunan yang membuat khawatir orang tua. Sama sia-sianya jika sekolah bagus tetapi muridnya kekurangan nutrisi. Dua hal itu seharusnya berjalan beriringan, bukan saling menutupi ketimpangan.
Karena itu, viralnya SD Negeri Gandawesi dan SD Negeri 011 Talang Gedabu seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah maupun pusat. Jangan sampai pembangunan hanya sibuk mengejar proyek yang terlihat baru dan menarik secara visual, tetapi melupakan persoalan dasar yang sudah lama menunggu perhatian.
Anak-anak Indonesia tidak hanya butuh makan yang layak. Mereka juga berhak mendapatkan sekolah yang layak. Dan ketika dapur berdiri lebih megah daripada ruang kelas, mungkin ada sesuatu yang salah dalam cara kita memahami masa depan pendidikan.
Baca Juga
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati
-
Jutaan Buku Dihancurkan, AI Bertambah Pintar: Haruskah Kita Merayakannya?
-
Merdeka Bukan Sekadar Bebas: Menyelami Makna Kemerdekaan Lewat Novel Karya Putu Wijaya
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
Artikel Terkait
-
Menyoal Urgensi Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat, Apa Sebenarnya Prioritas Pendidikan Kita?
-
Mensos Gus Ipul Sambangi KPK Besok, Minta Nasihat Terkait Pengadaan Sekolah Rakyat yang Disorot
-
Gus Ipul Wanti-wanti Pengelola Sekolah Rakyat: Jangan Sampai Aset Negara Jadi Masalah
-
BI: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pendorong Ekonomi Indonesia Meroket
-
5 Rekomendasi Parfum Mykonos untuk Anak Sekolah, Segar Seharian Anti Bau Matahari
Kolom
-
Niat Curhat ke Sahabat untuk Cari Ketenangan, Ujungnya Malah Jadi Adu Nasib
-
BPJS Tak Hanya untuk Orang Miskin: Mengapa Miskonsepsi Ini Masih Bertahan?
-
Lewat Sentuhan Korporasi, UMKM Desa Les Naik Kelas
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Perempuan Era Digital: Merdeka Memilih atau Masih Terbebani Standar Medsos?
Terkini
-
Paris, Luka, dan Kesempatan Kedua dalam Satu Musim Panas di Paris
-
5 Fakta Menarik Ggeomeoksali: Pemberi Warna di Tengah Gelapnya Drama The East Palace
-
Sebelum Ikut Tren, Ketahui 5 Cara Mengolah Kimpul agar Aman Dikonsumsi
-
Dibandingkan dengan Marc Marquez, Alex Marquez Mengaku Sempat Alami Tekanan
-
Review Film Kado untuk Ibu: Kasih Sayang, Hadiah Terbaik untuk Orang Tua