Pixar balik lagi dengan film terbaru mereka, Elio, yang resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2025. Sebagai film ke-29 dari Pixar Animation Studios, Elio bakal membawa kita ke petualangan antargalaksi yang penuh warna, tawa, dan tentu saja, sentuhan emosional khas Pixar yang bikin mata berkaca-kaca.
Disutradarai oleh trio kece—Adrian Molina (Coco), Madeline Sharafian (Burrow), dan Domee Shi (Turning Red)—film ini punya vibe segar, tapi tetap punya hati yang dalam. Yuk, kita ulas apa aja sih yang bikin Elio spesial, plus apa aja yang mungkin kurang ngegas!
Film ini mengisahkan Elio Solis, bocah 11 tahun yang super imajinatif tapi pemalu abis. Diperankan sama Yonas Kibreab, Elio adalah tipe anak yang lebih nyaman ngobrol sama poster alien di kamarnya ketimbang temen sekelas. Dia tinggal bareng bibinya, Olga (Zoe Saldaña), seorang ilmuwan militer yang tegas tapi sayang banget sama keponakannya.
Elio punya obsesi gila sama luar angkasa dan sering ngebayangin kalo dia diculik alien. Eh, beneran kejadian! Gara-gara main-main sama radio amatir, Elio “terjemput” ke Communiverse, semacam PBB-nya galaksi yang isinya makhluk-makhluk aneh dari penjuru semesta.
Di sana, karena kesalahpahaman kocak, Elio dikira duta resmi Bumi. Bayangin, anak kecil yang biasanya grogi kalo disuruh presentasi di depan kelas, tiba-tiba harus negosiasi sama alien yang galak seperti Lord Grigon (Brad Garrett) yang pengin menguasai galaksi.
Di tengah kekacauan ini, Elio ketemu Glordon (Remy Edgerly), alien berbentuk siput yang super gemes dan jenaka. Persahabatan mereka jadi inti ceritanya, dan jujur sih bikin aku ikutan senyum-senyum sendiri.
Review Film Elio
Kalo soal visual, Elio juara banget. Communiverse digambar dengan warna-warna neon yang vibrant, desain retro-futuristik, dan karakter alien yang bikin kita pengin peluk satu-satu (atau takut, tergantung aliennya).
Dari alien jeli yang bisa baca pikiran sampai superkomputer cair bernama OOOOO (Shirley Henderson), setiap frame seperti lukisan hidup. Pixar pakai teknologi lighting baru bernama Luna, yang bikin pencahayaan dan kamera jadi menyatu sempurna, memberikan vibe sinematik yang bikin aku serasa beneran jalan-jalan di luar angkasa.
Glordon, dengan desainnya yang mirip makhluk mikroskopis tapi tetap cute, jadi scene-stealer yang bikin aku sebagai penonton ketawa tiap dia muncul.
Di balik petualangan galaksinya, Elio ngomongin sesuatu yang super relatable: rasa kesepian dan pencarian jati diri. Elio adalah anak yang merasa “gak nyambung” dengan dunia di sekitarnya, apalagi setelah kehilangan orang tuanya.
Perjalanannya di Communiverse bukan cuma soal menyelamatkan galaksi, tapi juga soal menemukan tempat di mana dia merasa diterima.
Hubungannya sama Glordon mengajarkan kita bahwa persahabatan bisa datang dari tempat yang gak disangka-sangka, bahkan dari alien berbentuk siput! Plus, interaksi Elio sama Bibi Olga nunjukin gimana keluarga, meski kadang strict, tetap jadi anchor di saat kita ngerasa lost.
Elio punya banyak momen yang bikin kita ketawa sekaligus mewek. Dialognya witty, apalagi pas Elio coba-coba negosiasi sama alien dengan gaya anak kecil.
Pengisi suaranya juga top banget—Yonas Kibreab bikin Elio terasa autentik, sementara Zoe Saldaña ngasih kedalaman buat Olga.
Musiknya, yang memakai lagu-lagu seperti “Such Great Heights” dari The Postal Service, nambahin vibe nostalgia yang pas banget. Buat yang suka sci-fi ringan dengan humor dan hati, film ini cocok banget deh buat ditonton bareng keluarga.
Tapi, Elio nggak sempurna. Menurutku alur ceritanya agak formulaik, mirip-mirip pola Pixar soal penemuan jati diri. Plotnya kadang kebanyakan tema—dari diplomasi galaksi sampai trauma kehilangan—sampai terasa agak padat dan kurang fokus.
Momen-momen dramatisnya juga gak selalu nendang sekuat film Up atau Inside Out, dan beberapa twist cerita terasa agak dipaksain. Pengembangan karakter Elio juga bisa lebih dalam lagi, meski Yonas Kibreab udah memberikan performa yang solid sih.
Namun secara keseluruhan, Elio adalah petualangan antargalaksi yang fun, menghibur, dan punya hati besar. Meski nggak masuk ke jajaran top-tier Pixar seperti Toy Story atau Coco, film ini tetap bikin aku tersenyum dan mikir soal arti rumah, persahabatan, dan jadi diri sendiri.
Visualnya yang ciamik, karakter alien yang unik, dan pesan emosionalnya bikin Elio cocok buat semua umur. Jadi, kalo kamu lagi nyari film yang bisa bikin ketawa, mewek, sekaligus kagum sama keindahan galaksi, Elio wajib masuk watchlist-mu. Siapin popcorn dan tisu, serta ajak keluarga ke bioskop! Untuk rating sendiri aku beri 8.5/10.
Baca Juga
-
Ulasan Film Ain: Menghadirkan Pesan Spiritual tentang Bahaya Hasad dan Iri
-
Review The Boys Season 5: Kritik Tajam Otoritarianisme di Dunia Modern!
-
Mortal Kombat II: Kembalinya Scorpion dengan Dendam yang Lebih Kuat!
-
Review Serial From Season 4: Malam yang Penuh Teror di Kota yang Terkutuk!
-
Review His & Hers: Kisah Pasangan yang Terjebak dalam Lingkaran Konflik!
Artikel Terkait
-
5 Rekomendasi Film Sambut Akhir Pekan, Ada 28 Years Later hingga Elio
-
Review Film Elio: Perihal Sepi, Luar Angkasa, dan Makhluk Asing
-
Review Film Hi-Five: Ketika Organ Donor Bikin Kamu Jadi Superhero!
-
Sinopsis Elio, Film Baru Pixar tentang Petualangan Bocah di Semesta Lain
-
Review Film The Phoenician Scheme: Rekonsiliasi Ayah dan Anak di Tengah Proyek Ambisius
Ulasan
-
Episode 3 dan 4 Drama Gold Land Terasa Semakin Gelap dan Mendebarkan
-
Di Balik Sorotan Kamera: Pertarungan Moral dalam Novel Take Four
-
Rewang Sebagai Perekat Hati, Menilik Tradisi Masak Basamo di Muaro Jambi
-
Trauma Masa Kecil dan Topeng Sosial dalam Novel Andreas Kurniawan
-
Seraut Kenangan dalam Secangkir Kopi di Kedai Tempo Doeloe Kalisat Jember
Terkini
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
-
Raja Antioksidan! 4 Masker Astaxanthin untuk Lawan Penuaan dan Flek Hitam
-
Teach You a Lesson Rilis Jadwal Tayang, Drama Aksi Terbaru Berlatar Sekolah
-
Jadi Dokter Bedah Plastik, Intip Karakter Lee Jae Wook di Doctor on the Edge
-
Bosan Desain TWS Itu-itu Aja? Realme Buds T500 Pro Bawa Desain Kotak Permen