Kalau kamu pernah merasa penasaran kenapa plastik ada di mana-mana, dari bungkus mie instan sampai sikat gigi di kamar mandi, buku Plastic: Past, Present, and Future karya Eun-ju Kim ini bisa jadi bacaan ringan yang membuka mata.
Meski ditulis dengan gaya yang cocok untuk pembaca muda, jangan salah, isinya tetap penuh informasi menarik yang relevan banget buat semua umur.
Buku Plastic: Past, Present, and Future berisi tentang bagaimana plastik dibuat, di daur ulang, dan penggunaannya selama ini dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, disini membahas juga tentang kualitas plastic dan dampaknya terhadap lingkungan.
Awalnya kupikir ini hanya buku pengetahuan biasa buat anak-anak yang bagus , tapi ya gitu-gitu aja. Tapi ternyata, buku ini berhasil menjelaskan topik yang super kompleks dengan cara yang sederhana, visual, dan tetap insightful, bahkan buat pembaca dewasa.
Buku ini, sesuai dengan judulnya, terbagi dalam tiga bagian utama: tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan plastik.
Cara penyampaiannya juga menyenangkan. Mungkin karena ilustrasinya yang menarik, jadi pembahasannya terlihat santai dan tidak membuat ngantuk.
Ilustrasi dari Ji-won Lee juga patut diapresiasi. Warna-warnanya berani dan menarik, tapi tetap informatif. Anak-anak bisa langsung nyantol, sementara kita yang dewasa juga terbantu memahami konsep-konsepnya dengan cepat.
Setiap halaman menjadi lebih hidup dan mudah dipahami, terutama untuk visual learner.
Bagian yang membahas sejarah tentang plastik juga cukup mengejutkan.
Di zaman dulu, plastik ditemukan sebagai bahan alternatif alami yang semakin langka.
Waktu itu, plastik dianggap penemuan keren yang menyelamatkan alam! Seiring waktu, penggunaan plastik yang berlebihan mulai menjadi masalah, dan di bagian masa kini, buku ini mengangkat isu-isu seperti sampah, mikroplastik, dan dampak ekologisnya.
Disampaikan dengan cara yang tidak menggurui, justru bikin mikir, “Oh iya, kok bisa ya sampai separah ini?”
Dari situ, pembaca mulai diajak menyadari bahwa plastik ternyata ada di segala aspek kehidupan, mulai dari benda yang kita pegang setiap hari sampai yang keberadaannya nyaris tak kita sadari.
Menariknya lagi, buku ini nggak hanya menyoroti sisi buruk dari plastik.
Disini juga dijelaskan bahwa plastik sebenarnya memiliki manfaat dalam mempermudah kehidupan di era modern ini.
Tapi justru karena sifatnya yang “terlalu awet” itulah, plastik jadi masalah besar buat lingkungan. Penulis menjelaskan semua ini tanpa terkesan menggurui atau mengulang-ulang, dan itu menurutku prestasi sendiri.
Meski sulit untuk benar-benar lepas dari plastik sepenuhnya, buku ini nggak memaksa kita untuk langsung berhenti total.
Sebaliknya, kita diajak mulai dari hal-hal kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendukung inovasi para ilmuwan dan aktivis, dan yang paling penting, menyadari bahwa setiap orang punya peran, sekecil apa pun kontribusinya.
Tidak muluk-muluk sih, tapi realistis dan membumi. Kita diajak melihat bahwa kita punya peran, sekecil apa pun.
Secara umum, buku ini cocok banget dibaca bareng anak-anak atau adik kecil, tapi juga tetap meaningful buat orang dewasa yang pengen mulai peduli lingkungan. Bacanya cepat, tapi efeknya bisa lama di hati, dan semoga juga di tindakan kita sehari-hari.
Jadi, kalau kamu lagi cari bacaan ringan yang bisa bikin kamu lebih paham (dan peduli) soal plastik, buku ini bisa jadi pilihan yang tepat. Tidak berat, tapi penuh dengan makna.
Buku yang ringan, jujur, dan penuh harapan. Sangat rcommended!
Baca Juga
-
Ketika Hijab Terasa Berat: Panduan Hati bagi Muslimah yang Sedang Berproses
-
Cerita Sebelum Bercerai: Mengingat Kembali Alasan untuk Bertahan
-
Ketika Hati Gelisah, Memburu Jiwa Tenang Menawarkan Jawabannya
-
Nota Cinta Saya: Pesan Lembut untuk Hati Seorang Muslimah
-
Review Takhta Mayaloka, Misteri Teknologi di Balik Kesempurnaan Virtual
Artikel Terkait
-
Bikin Merinding, Anak Sulung Asri Welas Ambil Alih Peran Ayah Usai Orang Tua Berpisah
-
Heboh Isu Nikahi Kerabat Sultan Malaysia saat Buron, Terkuak Status Kewarganegaraan Riza Chalid
-
Hamil Anak Bule di Luar Nikah, Lina Mukherjee Sadar Tak Patut Dicontoh
-
Ngamuk Thalia Dituduh Anak Hasil Selingkuh Sarwendah, Ruben Onsu Siap Lapor Polisi
-
Inovasi Material Baru, Harapan Energi Surya yang Lebih Murah dan Berkelanjutan?
Ulasan
-
Our Generation: Setting Lokasi Cakep dan Nuansa Psikologis Menggigit Abis!
-
Bentuk Entitled Parent pada Karakter Lee Ji Young di Teach You a Lesson
-
Film Hokum: Menelisik Mitos yang Turun-temurun Hidup dalam Ingatan Kolektif
-
Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang
-
Menemukan Kebahagiaan dari dalam Diri di Buku The Simple Way to Happiness
Terkini
-
Black Clover Hadirkan Season 2 pada Oktober 2026, Sutradara Baru Diumumkan
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
-
Teach You a Lesson dan 'Bahasa Cinta' Seorang Guru untuk Anak Didiknya
-
Joshua SEVENTEEN Siap Berpidato di Markas Besar UNESCO Paris pada 25 Juni
-
Tayang Tahun Depan! Pixar Kenalkan Gangster Kucing Jalanan di Film Gatto