Di banyak desa, Ramadan selalu punya ritmenya sendiri. Setelah salat Tarawih, lampu-lampu masjid dan musala tetap menyala. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun bergantian, menciptakan suasana yang hangat dan menenangkan. Tadarus bukan sekadar kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga.
Namun, ada satu fenomena yang menurut saya perlu digeser sekaligus butuh direnungkan kembali. Di beberapa tempat, termasuk di desa saya, kegiatan tadarus biasanya dihentikan begitu khatam 30 juz, yang sering terjadi pada malam ke-24 atau ke-25 Ramadan. Setelah itu, suasana masjid menjadi lebih lengang. Tidak ada lagi giliran membaca Al-Qur’an seperti malam-malam sebelumnya. Seolah-olah begitu khatam tercapai, misi Ramadan pun dianggap selesai.
Alasan yang sering saya dengar cukup sederhana: jika memulai lagi dari awal, dikhawatirkan tidak bisa khatam lagi pada malam terakhir Ramadan. Kekhawatiran ini akhirnya membuat banyak orang memilih untuk berhenti sebelum mencapai puncak Ramadan. Dari sudut pandang tertentu, hal ini bisa dimaklumi. Khatam memang menjadi semacam target yang membanggakan, bahkan menjadi simbol kesuksesan dalam menjalani tadarus.
Namun di sisi lain, saya melihat ada yang perlu kita luruskan dalam cara memaknai ibadah ini.
Ramadan pada dasarnya bukan tentang mengejar garis akhir berupa khatam semata. Yang lebih utama adalah menjaga konsistensi membaca Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan, dalam banyak pemahaman keagamaan, membaca satu ayat dengan penuh penghayatan pun sudah bernilai besar, apalagi jika dilakukan secara rutin, terlebih pada malam-malam Ramadan. Jadi, khatam bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ketika tadarus dihentikan hanya karena sudah mencapai 30 juz, saya merasa ada pergeseran orientasi. Ibadah yang seharusnya berfokus pada proses, yakni membaca, memahami, dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, justru berubah menjadi semacam target yang selesai ketika angka 30 tercapai. Setelah itu, aktivitas berhenti, seakan tidak ada lagi yang perlu dilakukan.
Padahal, justru di sepuluh malam terakhir Ramadan, semangat ibadah seharusnya semakin ditingkatkan. Malam-malam ini diyakini sebagai waktu yang penuh keutamaan; bahkan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ironis rasanya jika pada fase yang sangat penting ini, aktivitas membaca Al-Qur’an justru menurun atau bahkan berhenti.
Saya juga melihat bahwa kekhawatiran “tidak khatam lagi” sebenarnya tidak perlu menjadi beban. Membaca Al-Qur’an tidak harus selalu berujung pada khatam. Tidak ada kewajiban untuk mengulang pencapaian tersebut dalam satu bulan yang sama. Justru, jika setelah khatam kita tetap melanjutkan membaca, meskipun hanya beberapa halaman setiap malam, itu menunjukkan kecintaan yang lebih tulus terhadap Al-Qur’an.
Fenomena ini mungkin juga dipengaruhi oleh tradisi yang sudah berlangsung lama. Di masyarakat desa, kebiasaan acap kali diwariskan tanpa banyak dipertanyakan ulang. Selama ini, khatam dianggap sebagai penutup yang pas sehingga tidak banyak yang merasa perlu untuk melanjutkan. Padahal, jika dipikirkan kembali, tidak ada alasan kuat untuk menghentikan sesuatu yang jelas bernilai ibadah.
Menurut saya, ini menjadi kesempatan bagi kita untuk pelan-pelan menggeser cara pandang. Bukan berarti menghilangkan tradisi khatam, melainkan melengkapinya dengan pemahaman yang lebih utuh. Khatam bisa tetap dirayakan sebagai pencapaian, tetapi bukan sebagai titik akhir. Setelah itu, tadarus bisa dilanjutkan dengan ritme yang lebih santai tanpa tekanan harus mengulang dari awal hingga selesai lagi.
Dengan begitu, Ramadan tidak hanya diisi dengan semangat mengejar target, tetapi juga dengan keikhlasan dalam menjalani proses. Masjid dan musala pun tetap hidup hingga malam terakhir, tidak hanya ramai di awal dan pertengahan, tetapi juga di penghujung Ramadan yang justru paling istimewa.
Maka, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai di akhir, melainkan seberapa konsisten kita berjalan. Karena dalam ibadah, kerap kali yang bernilai bukan hanya hasilnya, melainkan ketekunan dan keistikamahan dalam menjalaninya.
Baca Juga
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
-
Meracik Penawar Luka Sendiri dari Buku Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri: Tak Semua Rumah Menjadi Tempat Pulang
Artikel Terkait
-
Bacaan Doa Akhir Ramadan Sesuai Sunnah, Penyempurna Ibadah sekaligus Mohon Ampunan
-
Kapan Sidang Isbat Lebaran 2026 Digelar? Ini Jadwal Resmi Kemenag RI
-
5 Rekomendasi Ngabuburit, Isi Aktivitas Produktif Jelang Buka Puasa
-
Viral, Bule Ngamuk Bawa Parang karena Terganggu Suara Tadarus Musala
-
Apakah Tadarus Harus Bulan Ramadan? Begini Ketentuan dan Anjurannya
Kolom
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
-
Ketika Siaran Pidato Terputus: Rakyat Lebih Cemas Perang Dunia atau Biaya Hidup?
-
Ketika "Bersyukur" Jadi Tameng Eksploitasi: Membedah Crab Mentality di Dunia Kerja
-
Ketika Barang Kecil Terasa Mewah: Membaca Paradoks Biaya Hidup Indonesia
Terkini
-
Gaya Kepelatihan Berkelas Eropa! Alasan Mengejutkan John Herdman Nonton Timnas dari Tribun Penonton
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
Spider-Man: Brand New Day dan Awal Era Mutan di Marvel Cinematic Universe
-
4 Pelembap Retinol Ampuh Pudarkan Bekas Jerawat dan Muluskan Tekstur Kulit
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata