Beberapa waktu lalu, saya duduk di pinggir kasur pada hari Minggu sore, mencoba menikmati secangkir kopi. Namun, bukannya merasa rileks, batin saya justru bergejolak hebat. Ada suara sumbang di kepala yang terus berbisik, "Kenapa kamu cuma diam?
Orang lain sedang membangun bisnis startup di akhir pekan, ada yang sedang mengelola toko online, dan ada yang baru saja mencairkan komisi affiliate. Sementara kamu? Kamu hanya membuang waktu."
Seketika, rasa kopi itu berubah hambar, berganti dengan rasa bersalah yang mencekik. Saya merasa seperti pecundang besar hanya karena membiarkan waktu berlalu tanpa ada angka yang masuk ke rekening. Di usia 20-an ini, saya telah terjangkit penyakit akut: merasa "berdosa" jika tidak memiliki side hustle.
Keresahan pribadi ini adalah potret buram dari fenomena sosial yang sedang mencekik generasi kita. Kita hidup di era di mana satu pekerjaan utama dianggap tidak lagi cukup, bukan hanya secara finansial, tapi juga secara status sosial.
Ada glorifikasi yang berlebihan terhadap "kesibukan tanpa henti". Jika Anda tidak punya proyek sampingan, Anda dianggap tidak punya ambisi.
Media sosial memperparah ini dengan menyuguhkan narasi "anak muda sukses dengan tujuh sumber pendapatan".
Fenomena ini menciptakan standar kesuksesan yang tidak manusiawi, di mana kita dipaksa untuk terus mengejar cuan setiap detik, seolah-olah waktu istirahat adalah lubang hitam yang menghisap masa depan kita.
Tekanan ini memiliki akar ekonomi yang sangat nyata dan pahit. Berdasarkan laporan ekonomi global, inflasi dan kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan kenaikan upah minimum memaksa anak muda untuk mencari jalan pintas finansial.
Data dari berbagai survei tenaga kerja menunjukkan bahwa lebih dari 50% generasi Z memiliki pekerjaan sampingan, bukan karena mereka "kreatif", melainkan karena mereka "terdesak".
Biaya hidup yang melonjak membuat satu gaji hanya numpang lewat untuk membayar tagihan dasar. Masalahnya, kebutuhan ekonomi ini kemudian dibungkus dengan narasi passion dan produktivitas, sehingga kita tidak lagi merasa sedang dieksploitasi oleh keadaan, melainkan merasa sedang "berjuang demi mimpi".
Analisis saya terhadap situasi ini membawa pada satu kesimpulan: kita telah kehilangan kemampuan untuk memiliki hobi yang murni. Dulu, kita menulis karena suka; sekarang kita menulis dan langsung berpikir bagaimana cara memonetasinya.
Dulu kita memasak karena hobi; sekarang kita berpikir apakah masakan ini bisa dijual lewat aplikasi food delivery. Setiap inci kreativitas kita telah dikomodifikasi.
Urgensi masalah ini terletak pada kelelahan mental yang luar biasa. Kita sedang menciptakan generasi yang paling produktif secara angka, namun paling kering secara jiwa. Kita menjadi robot yang baterainya terus dipaksa terisi demi mengejar angka di layar ponsel, tanpa pernah benar-benar merasa "cukup".
Mari kita bicara jujur, pernahkah Anda merasa cemas saat melihat teman sebaya mengunggah pencapaian finansial mereka sementara Anda masih berjuang dengan cicilan dasar?
Rasa cemas itu adalah bukti bahwa kita telah menyerahkan harga diri kita pada angka nominal. Kita terjebak dalam ilusi bahwa "kaya sebelum tiga puluh" adalah satu-satunya indikator keberhasilan hidup.
Padahal, apa gunanya tabungan yang membuncit jika kita tidak lagi punya energi untuk menikmatinya? Apa gunanya memiliki lima side hustle jika setiap malam kita harus tidur dengan bantuan obat penenang karena otak yang tak bisa berhenti berhitung? Kita sedang menukar masa muda yang berharga dengan kelelahan yang permanen.
Saya ingin mengajak Anda untuk berani mengambil kembali hak Anda untuk menjadi "biasa saja". Berhenti merasa gagal hanya karena Anda tidak punya bisnis sampingan.
Menghargai waktu istirahat dan menjaga kewarasan adalah investasi yang jauh lebih mahal daripada saldo tambahan dari pekerjaan yang membuat Anda menderita. Jangan biarkan tekanan ekonomi merampas kegembiraan Anda dalam menjalani hidup yang sederhana.
Jadi, besok pagi, saat suara di kepala itu kembali menyuruh Anda untuk mencari cuan tanpa henti, beranilah untuk menjawab: "Hari ini, cukup satu pekerjaan saja, dan sisanya adalah untuk saya menjadi manusia." Karena pada akhirnya, kekayaan sejati adalah saat Anda memiliki waktu untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah.
Baca Juga
-
Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
-
Anak Bungsu Jelang Lebaran: Saat Titah Perantau Jadi Beban di Punggung Saya
-
Lagu "Mejikuhibiniu" Sukses Hancurkan Standar Musik Saya Tanpa Ampun
-
Saya Menjual Idealisme Musik Saya Demi Desahan Manis Bertajuk 'Malu-Malu'
-
Saya Menumbalkan Lambung Demi Sesobek Saset Kopi Susu saat Sahur
Artikel Terkait
Kolom
-
Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
-
Bagi Seorang Ayah seperti Saya, Bulan Ramadan Justru Datangkan Perasaan Ngenes yang Berganda
-
Ketika Ucapan Idulfitri Diwakili oleh Mesin Kecerdasan Buatan
-
Belajar Melepaskan: Bagaimana Proses Decluttering Mengajarkan Kita Hidup Lebih Ringan
-
Kenapa Ide Kreatif Muncul Saat Kita Melamun dan Mau Tidur?
Terkini
-
6 Cara Simpel Bikin Penampilan Laki-Laki Makin Stand Out di Hari Lebaran!
-
SUGA BTS Resmi Jadi Salah Satu Penulis Buku Terapi Musik untuk Anak Autisme
-
Berlayarnya Blitar Holland, Kisah Perjalanan Haji 1938 di Novel Rindu
-
Wajib Tahu! Bedanya Parfum Siang dan Malam yang Bikin Wangimu Makin Sempurna
-
Cinta Suci Nadia: Saat Kesalehan Diuji oleh Masa Lalu yang Kelam