M. Reza Sulaiman | Dinah Ayu Afifi Suherman
Buku Puisi : Retak, Luruh, dan Kembali Utuh karya Prilly Latuconsina
Dinah Ayu Afifi Suherman

Buku puisi Retak, Luruh, dan Kembali Utuh karya Prilly Latuconsina bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan ruang pengakuan yang jujur tentang luka, kelelahan emosional, dan proses berdamai dengan diri sendiri. Buku ini lahir dari pengalaman personal Prilly yang ia ceritakan secara terbuka dalam podcast Suara Berkelas Episode 114—sebuah perjalanan batin tentang authenticity, kelelahan, dan keberanian untuk tetap hidup dengan jujur.

Berikut adalah alasan mengapa buku ini layak dibaca, terutama bagi siapa pun yang pernah merasa rapuh namun tetap harus terlihat kuat.

Authenticity: Keberanian untuk Jujur pada Diri Sendiri

Bagi Prilly, authenticity adalah keberanian untuk tetap jujur dalam setiap peran dan aktivitas yang dijalani. Sebagai seorang aktor, ia memang “meminjam hidup” karakter lain di depan kamera. Namun, hal itu tidak berarti ia meninggalkan dirinya sendiri. Justru menurut Prilly, akting adalah pertemuan antara dunia karakter dan dunia batin—tempat kejujuran tetap hadir.

Kejujuran ini tidak selalu berarti menampilkan semua sisi diri. Manusia memiliki banyak lapisan, dan authenticity adalah tentang tetap jujur pada diri sendiri di mana pun berada, meski dengan versi yang berbeda.

Jarak antara Prilly di Depan Kamera dan di Rumah

Prilly mengakui bahwa ada jarak yang cukup jauh antara dirinya di depan publik dan dirinya saat berada di rumah. Di depan kamera, ia dituntut untuk selalu ceria, penuh energi, dan menjadi sumber semangat. Sementara itu, di rumah ia adalah Prilly tanpa kostum, tanpa label, tanpa ekspektasi—Prilly yang masih belajar, masih rapuh, dan tidak selalu kuat.

Di ruang privat itulah ia bisa menangis, merasa lelah, dan mengakui bahwa dirinya tidak selalu merasa cukup. Perbedaan ini sering kali mengejutkan orang-orang yang baru mengenalnya secara personal, termasuk pasangan dan teman dekat, karena sisi yang selama ini tersembunyi akhirnya muncul.

Luka Masa Kecil dan Emosi yang Dipendam

Prilly menyadari bahwa jarak tersebut berakar dari pola asuh dan lingkungan masa kecilnya. Ia tumbuh dalam sistem yang menuntut kedewasaan terlalu dini—menjadi kakak yang harus mengalah, tidak boleh menangis, dan tidak boleh terlihat lemah.

Akibatnya, emosi-emosi itu terpendam. Ketika dewasa dan berada di lingkungan yang aman, “Prilly kecil” justru muncul ke permukaan. Dalam situasi konflik atau perbedaan pendapat, respons emosinya kadang tidak datang dari Prilly dewasa, melainkan dari anak kecil yang dulu tidak diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan.

Fase Retak: Lelah tetapi Harus Tetap Berjalan

Fase retak adalah titik paling rapuh dalam hidup Prilly. Ia merasa sangat lelah, namun tidak punya pilihan selain terus melangkah. Ia berada di posisi saat banyak orang menyukainya, tetapi tidak benar-benar memahami hidupnya. Semua orang bersandar padanya, sementara ia tidak memiliki tempat untuk bersandar.

Komentar negatif, tuntutan untuk selalu kuat, dan anggapan bahwa ia “tidak pantas sedih” karena hidupnya terlihat sempurna, membuatnya merasa kehilangan nilai diri. Ia bahkan pernah dianalogikan seperti “kain pel yang lusuh”—selalu diperas energinya, namun tak pernah diberi ruang untuk menjadi rapuh. Puisi-puisi di fase ini lahir dari kesendirian, ruang sunyi, dan perasaan bahwa kesedihannya tidak layak didengar.

Fase Luruh: Melepaskan yang Tak Lagi Layak

Memasuki fase luruh, Prilly mulai berani melepaskan hal-hal yang tidak lagi sehat bagi dirinya. Ia meluruhkan rasa tidak pantas dicintai, standar orang lain terhadap dirinya, serta lingkungan yang tidak memberinya ruang untuk menjadi manusia.

Fase ini dipenuhi dialog panjang dengan diri sendiri tentang tujuan hidup, makna perjuangan, dan ekspektasi yang selama ini ia cari. Fase luruh bukanlah fase yang mudah, namun menjadi titik penting untuk menerima bahwa dirinya hanyalah manusia biasa—dengan hak untuk merasa lelah, sedih, dan gagal.

Fase Kembali Utuh: Menerima Proses sebagai Kemenangan

Kembali utuh bukan berarti menjadi versi diri yang lama atau versi yang “lebih sempurna”. Bagi Prilly, kembali utuh adalah fase menerima seluruh penderitaan dan perjuangan sebagai bagian dari proses hidup.

Ia mengaitkan fase ini dengan pemikiran Albert Camus dalam bukunya, The Myth of Sisyphus. Hidup diibaratkan seperti mendorong batu besar ke puncak bukit hanya untuk melihat batu itu berguling kembali ke bawah, lalu kita mengangkatnya lagi ke atas secara terus-menerus. Namun, keberanian untuk terus melanjutkan, menemukan makna bagi diri sendiri, serta menerima absurditas proses hidup adalah sebuah kemenangan sejati.

Bukan berarti kita harus menyerah, tetapi justru menemukan makna di tengah penderitaan tersebut. Sisyphus memilih untuk tetap melakukan tugasnya dan memilih untuk hidup daripada menyerah pada kematian. Dengan menerima bahwa perjuangan adalah proses untuk menjadi utuh, kita dapat menemukan makna kehidupan versi diri sendiri. Perjuangan itu sendiri adalah kemenangan. Di situlah manusia menemukan makna hidupnya.

Penutup: Sebuah Jalan Pulang Menuju Keutuhan Baru

Buku Retak, Luruh, dan Kembali Utuh adalah pengingat bahwa patah dan runtuh bukan akhir dari segalanya. Selalu ada jalan pulang—bukan ke diri yang lama, tetapi menuju keutuhan yang baru.

Prilly berharap setiap pembaca menemukan damai melalui buku ini, meski hati pernah hancur. Karena pada akhirnya, keutuhan tidak datang dari hidup yang sempurna, melainkan dari keberanian menerima proses.