Saat menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, pernahkah kamu merasa bahwa apa yang kamu jalani hari ini bukanlah kehidupan yang benar-benar kamu inginkan? Atau mungkin, kamu merasa kehilangan kontrol terhadap banyak hal yang terjadi dalam hidup?
Jika iya, kamu tidak sendiri. Sepertinya masalah ini adalah hal yang menjadi keresahan banyak orang, termasuk saya pribadi. Antara nilai-nilai yang dipegang dan ekspektasi sosial rasanya ada jarak yang terlampau jauh. Merasa dituntut oleh banyak hal, tapi di satu sisi merindukan kebebasan untuk bisa mengekspresikan diri sendiri apa adanya.
Jika berada dalam posisi seperti ini, buku karya Nago Tejena berjudul 'Aku yang Sudah Lama Hilang' adalah bacaan yang tepat untuk menemanimu memvalidasi emosi.
Sebagaimana judulnya, buku ini membahas tentang bagaimana proses pendewasaan menempa hidup seorang manusia. Yakni ketika menjadi dewasa ternyata perlahan mengikis kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang kita dapatkan semasa kecil.
Menjadi dewasa juga ternyata membuat pandangan kita semakin kabur tentang apa yang benar-benar kita inginkan. Kita begitu mudah silau dengan kehidupan orang lain, hingga gampang terpengaruh dengan masukan eksternal yang diterima dari lingkungan sekitar. Ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang rasanya semakin sulit dinikmati karena standar yang kita tetapkan terhadap hidup ternyata terlalu jauh dari realita yang harus dihadapi.
Tidak hanya kebahagiaan, antusiasme kita pada banyak hal pelan-pelan mulai terkikis oleh banyaknya beban kehidupan. Belum lagi tuntutan sebagai orang dewasa rasanya memaksa diri untuk berada di luar jalur yang selama ini diinginkan.
Saat seseorang semakin dewasa, menetapkan batasan yang sehat ternyata tidak semudah itu. Kita lebih sulit untuk berkata 'tidak', lalu melakukan apa yang orang lain inginkan. Padahal di masa kecil dulu, kita bisa mengekspresikan diri apa adanya. Lalu semakin dewasa, kemampuan tersebut seolah menghilang oleh rasa sungkan, tidak enakan, dan keinginan untuk membahagiakan semua orang.
Jadi, buku ini seolah menjawab berbagai keresahan di atas lalu mengajak pembaca untuk kembali mengenali diri sendiri. Mengenali diri di sini mencakup segala kelebihan maupun kekurangan yang kita miliki.
Sebagai perempuan sekaligus seorang ibu muda, saya merasa relate dengan banyak hal yang dibahas. Mulai dari stigma sosial yang menuntut seorang perempuan harus begini dan begitu, ditambah saat menjalani status sebagai ibu beserta tanggungjawabnya yang mengikis identitas diri sendiri.
Lama-lama saya jadi bertanya, saya ini sebenarnya siapa dan maunya apa? Hari demi hari berlalu hanya untuk mendedikasikan waktu buat keluarga, sementara tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Nah, buku ini terasa memvalidasi banyak perasaan terkait hal di atas. Barangkali tidak hanya bagi seorang ibu seperti saya, tetapi juga orang lain dengan latar belakang berbeda namun punya konflik yang sama. Yakni kehilangan jati dirinya.
Kelebihan dari buku ini adalah premis yang diangkat adalah topik yang sangat relatable tapi tidak menggurui. Meskipun banyak buku yang membahas tentang pencarian jati diri, namun penulis mengajak pembaca untuk benar-benar merefleksikan diri sendiri sesuai versinya masing-masing. Misalnya kenapa semakin dewasa, banyak yang merasa makin bingung dengan apa yang diinginkan, bagaimana cara menyikapi kehilangan identitas sebagai manusia yang bebas untuk memilih jalan hidup, dan masalah pencarian jati diri lainnya.
Tapi kekurangannya, buku ini rasanya hanya sekedar memvalidasi. Sampai di halaman terakhir, saya tidak menemukan solusi praktis tentang apa yang mesti dilakukan selanjutnya.
Secara umum, buku ini cukup menarik. Bagi kamu yang sedang lelah dengan kehidupan yang sedang dijalani dan butuh bacaan untuk merefleksikan diri, buku ini bisa menjadi rekomendasi bacaan untuk menemani waktu luangmu. Selamat membaca!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
-
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
-
Resep Kaya ala Orang Cina: Ketika Strategi yang Tepat Terlihat Seperti Hoki
Artikel Terkait
-
Mengenal Budaya Makassar Lewat Novel Romansa Anjungan Losari Karya Nurfatimah AZ
-
Ulasan Buku Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: Kritik Sosial dan Godaan Beragama
-
Ulasan Novel Bandung After Rain: Cita Rasa Cinta dan Budaya Lokal yang Khas
-
Ulasan Novel I Think I Am Ugly: Stop Insecure, Kita Semua Cantik!
-
Ulasan Novel Pulang Nak, Ummi Rindu: Mimpi Buruk Para Anak Rantau
Ulasan
-
Review We Are Jeni: Film Dokumenter tentang Disosiatif Identity Disorder
-
Belajar dari Seong Hui Ju dan Ian di Perfect Crown: Komunikasi Itu Penting
-
Maya: Menyibak Ilusi, Menyelami Luka Sejarah dan Cinta yang Tak Pernah Usai
-
Young Sheldon: Kisah Anak Jenius yang Sulit Dipahami, tapi Sulit Dibenci
-
Andai Mas Laut Tahu: Ironi Politik Hari Ini dalam Laut Bercerita
Terkini
-
Deforestasi Hari Ini Bukan Lagi soal Pembangunan, tapi Krisis Ekologis
-
Drama 'Moving 2' Mulai Syuting, Ini Daftar Pemain yang Dipastikan Bergabung
-
Moving Season 2 Bagikan Video Pembacaan Naskah, Pemeran Baru Jadi Sorotan
-
Siap Mengocok Perut, Oh Jung Se Tampil Nyentrik di Film 'Wild Sing'
-
Ironi Super League: Liga Tertinggi yang Jauh dari Kata Profesional!