Secara simbolik, hujan kerap dimaknai sebagai kesedihan, kerinduan, atau air mata yang tak sempat tumpah. Sementara mata kerap di lambangkan sebagai sosok lain. Entah itu orang yang dicintai, kenangan yang tertinggal, atau masa lalu yang masih memantul dalam pandangan.
Gabungan kedua kata ini menciptakan makna yang lembut sekaligus perih. Air mata yang tertahan di pelupuk mata, perasaan yang meluap namun tak terucap. Nuansa inilah yang menjadi benang merah emosional dari antologi ini.
Hujan yang Tertinggal di Matamu adalah judul sebuah buku antologi puisi dan cerpen yang menghimpun karya dari 237 penulis terpilih dalam edisi Nuram Jingga ke-61, diterbitkan oleh Ellunar. Dari judulnya saja buku ini sudah mengundang pembaca untuk masuk ke wilayah perasaan yang intim. Tentang sesuatu yang jatuh, namun tak sepenuhnya pergi; tentang emosi yang tertahan, namun tetap hidup dalam ingatan.
Isi Buku
Buku ini adalah hasil dari Nuram (Nulis Ramean) jingga, sebuah wadah yang membuka ruang bagi penulis-penulis baru untuk mempublikasikan karya mereka.
Sebagai platform kolektif, Nuram memainkan peran penting dalam regenerasi sastra Indonesia, memberi kesempatan bagi suara-suara segar untuk hadir, dibaca, dan diapresiasi. Dengan melibatkan 237 penulis, Hujan yang Tertinggal di Matamu menjadi potret keberagaman gaya, tema, dan sudut pandang dalam satu buku.
Salah satu cerpen yang menonjol adalah “Mei Tahun Ini Aku Telah Kebanjiran” karya Berbinar. Cerita ini mengisahkan kehidupan pernikahan dengan narasi yang lembut, intim, dan menyentuh.
Kutipan seperti, “Lalu aku cerita perihal Juli-Juli yang akan kulalui bersama kamu. Seprai yang bau bayi, jantung mata, pernikahan hingga tua,” memperlihatkan bagaimana bahasa sederhana mampu menyimpan kedalaman makna tentang komitmen, harapan, dan kehidupan domestik.
Dari sisi puisi, balada berjudul “Seperti Bintang Jatuh: Menghilang Tanpa Sempat Digenggam” karya Oktavia Ningrum juga amat menarik. Judulnya mungkin mengisyaratkan kesedihan, namun isinya justru manis dan membuat pembaca tersenyum.
Puisi ini berkisah tentang sosok remaja SMP yang dinarasikan sebagai pangeran berkuda putih oleh penulis. Namun dengan twist yang jenaka di sini alih-alih kuda putih, sang pangeran justru tengah menaiki angkot putih di tengah hujan lebat. Imaji ini terasa segar, ringan, dan penuh nostalgia.
Kelebihan dan Kekurangan
Keunikan lain dari buku ini terletak pada keberagaman bahasa dan gaya penulisan. Karena ditulis oleh ratusan penulis, setiap puisi dan cerpen memiliki ciri khas tersendiri. Pembaca seolah diajak berpindah dari satu dunia emosi ke dunia lainnya dalam setiap halaman. Sampul bukunya pun cantik dan mendukung nuansa puitis yang diusung.
Satu hal menarik adalah penempatan biodata penulis tepat di bawah karya mereka. Ini menjadi nilai tambah karena pembaca bisa merasa lebih dekat dan “terhubung” dengan penulisnya. Bahkan, dalam beberapa bio, terselip kisah singkat yang terasa seperti latar atau kelanjutan dari puisi dan cerpen yang dibaca.
Namun, buku ini juga memiliki beberapa catatan. Urutan penulis yang disusun secara alfabetis terasa kurang efektif untuk sebuah antologi tematik. Akan lebih kuat jika karya-karya dikelompokkan berdasarkan tema atau nuansa yang selaras dengan judul besar buku.
Selain itu, daftar isi dan sinopsis yang hanya berisi nama-nama penulis berpotensi mengurangi daya tarik awal bagi pembaca baru. Sinopsis akan lebih menggugah jika diisi penggalan puisi atau cerpen terbaik, atau ditulis secara kuratorial oleh penyelenggara.
Meski demikian, Hujan yang Tertinggal di Matamu tetap layak diapresiasi sebagai ruang pertemuan emosi, kreativitas, dan suara-suara baru sastra. Buku ini bukan hanya kumpulan teks, melainkan kumpulan perasaan. Yang mungkin, seperti hujan di mata, pernah juga tertinggal dalam diri kita.
Identitas Buku
- Judul: Hujan yang Tertinggal di Matamu
- Penulis: Penulis Nuram Jingga ke-61
- Penerbit: Ellunar Publisher
- Editor: Febriani Tabita
- Tahun Terbit: Juni 2025
- Tebal: 258 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kemunafikan Berkedok Agama di Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa
-
Mengejar Mimpi atau Menuruti Takdir? Dilema Molly dalam Novel Adore You
-
Ketika Iblis Iri: Pelajaran Berharga dari Rahasia Semesta Sebelum Dunia
-
Horor Gunung Welirang: Kesalahan Fatal Pendakian di Film Dusun Mayit (2025)
-
Membaca Matilda di Era Modern: Masihkah Kita Mendengarkan Anak?
Artikel Terkait
-
Dikaitkan dengan Buku 'Broken Strings' Aurelie Moeremans, Eza Gionino Bereaksi
-
Mencungkil Luka yang Tersembunyi di Novel The Most Beautiful Little Secret
-
Wajib Baca! 5 Rekomendasi Buku yang Cocok untuk Self-Healing dan Refleksi Diri
-
Jika Kucing Lenyap dari Dunia: Tentang Kehilangan dan Arti Kehidupan
-
Kesaksian Diah Permatasari Bertemu Sosok Bobby Saat Syuting Bersama Aurelie Moeremans
Ulasan
-
Review We Are All Trying Here: Merasa Tertinggal Bukan Berarti Terlambat
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
-
Film Nobody Loves Kay dan Sisi Gelap yang Jarang Dibahas dari Dunia Esports
-
Kemunafikan Berkedok Agama di Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa
-
Mengejar Mimpi atau Menuruti Takdir? Dilema Molly dalam Novel Adore You
Terkini
-
Harga Rp12 Jutaan, Xiaomi 17T Pro Masih Layak Disebut Flagship Killer?
-
Unik dan Modis! 4 Rekomendasi Tabi Shoes Brand Lokal yang Wajib Dilirik
-
Anti-Boring! 4 OOTD Modern Edgy Classic ala Sooin MEOVV yang Mudah Disontek
-
Manifesto Lingkungan Hidup Emang Keren tapi Kalah Sakti dari Ketegasan Emak
-
Hemat dan Ramah Lingkungan, Biasakan 'Repair First' sebelum Membeli Baru