Hayuning Ratri Hapsari | Fathorrozi πŸ–ŠοΈ
Buku Drunken Molen karya Pidi Baiq (Goodreads)
Fathorrozi πŸ–ŠοΈ

Usai menuntaskan buku Drunken Molen karya Pidi Baiq, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana, bahwa buku ini tidak sekadar lucu. Ia adalah kumpulan cerita yang mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih santai, lebih hangat, dan kadang-kadang lebih nyeleneh daripada yang biasa kita lakukan.

Buku ini berisi delapan belas kisah keseharian seorang ayah, suami, sekaligus lelaki Bandung bernama Pidi Baiq. Jika saya boleh menggambarkannya, sosok Pidi dalam buku ini terasa seperti versi dewasa dari karakter Dilan yang santai, suka berkelakar, sulit ditebak, tetapi diam-diam memiliki cara berpikir yang dalam.

Sejak cerita pertama berjudul Naruto Bersyukur, saya sudah dibuat tersenyum. Bayangkan saja, seorang ayah mengadakan syukuran karena anaknya berhasil menamatkan permainan Naruto. Kedengarannya absurd, bahkan mengada-ada. Namun justru di sana letak kejeniusan humor Pidi Baiq.

Dalam acara syukuran itu, ia berkata:

β€œApa salahnya kalau saya adakan syukuran atas jerih payah anak saya, Timur ini, karena sudah bisa tamat menyelesaikan game Naruto.” (halaman 31).

Kalimat itu terdengar lucu, tetapi setelah dipikir-pikir ada makna yang menarik di baliknya. Bukankah sering kita terlalu sibuk menghargai pencapaian besar hingga lupa merayakan kebahagiaan kecil? Pidi seolah mengingatkan bahwa apresiasi terhadap usaha seseorang tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang serius.

Keunikan Drunken Molen terletak pada kemampuannya mengubah kejadian biasa menjadi sesuatu yang menghibur. Ada kisah saat Pidi berpura-pura menjadi patung di depan pengamen. Ada cerita ketika ia mendadak menjadi bisu di hadapan tukang pos. Ada pula kisah seorang sales yang datang menawarkan barang, tetapi justru diajak bermain badminton terlebih dahulu sebelum berbicara soal dagangan.

Humornya memang tidak selalu membuat saya terbahak-bahak. Bahkan dibandingkan beberapa karya Pidi Baiq lainnya, kelucuannya terasa lebih halus. Namun justru karena itu cerita-ceritanya terasa lebih membekas. Saya sering hanya tersenyum saat membaca, lalu tertawa sendiri beberapa jam kemudian ketika mengingat kembali tingkah absurd yang dilakukan sang tokoh.

Salah satu cerita favorit saya adalah The Beatles Jual Serabi. Hanya Pidi Baiq yang bisa mengawali kisah dengan kalimat begini:

β€œItu masih jam 5 pagi, The Beatles sudah disuruh nyanyi oleh istri saya di ruang tengah. Mereka tidak bisa nolak meskipun mereka Inggris.” (halaman 78).

Kalimat tersebut langsung menunjukkan gaya khas Pidi yang jenaka, tidak masuk akal, tetapi mengalir begitu saja sehingga terasa wajar.

Di balik humor itu, ada cerita tentang seorang penjual serabi tua yang tetap bekerja meski usianya telah senja. Pidi lalu membantu menjualkan dagangannya dan ikut merasakan bagaimana sulitnya mencari nafkah dari pagi hari. Kisah yang awalnya lucu perlahan berubah menjadi refleksi sosial yang menyentuh.

Penutup cerita itu bahkan terasa seperti sindiran yang halus namun tajam:

β€œ...si Emak yang meskipun sudah uzur, masih harus tetap bekerja demi bisa membantu meringankan beban pemerintah...” (halaman 87).

Bagian lain yang menurut saya paling mengena adalah cerita tentang para tukang gali dan tukang cukur dalam bab Nazar. Awalnya saya mengira itu hanya keisengan khas Pidi Baiq. Namun semakin jauh membaca, saya justru menemukan sisi kemanusiaan yang kuat.

Pidi menjelaskan maksud tindakannya dengan kalimat yang sangat menyentuh:

β€œSaya cuma ingin ngasih uang, ingin lihat Bapak rapi. Dan saya, biarkan saya punya cara sendiri untuk memberinya.” (halaman 185).

Bagi saya, kutipan ini menjelaskan banyak hal tentang cara pandang Pidi Baiq. Di balik semua keusilan dan keanehan yang ia lakukan, ada kepedulian terhadap orang lain. Ia tidak ingin membantu dengan cara yang membuat orang merasa rendah. Ia ingin memberi sambil tetap menjaga martabat mereka.

Karena itulah saya merasa Drunken Molen bukan sekadar kumpulan cerita humor. Buku ini berbicara tentang keluarga, kepedulian, empati, dan cara menikmati hidup. Hubungan Pidi dengan istrinya, Rosi, juga digambarkan hangat dan menghibur. Sementara interaksinya dengan Timur dan Bebe membuat buku ini terasa akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hal lain yang saya sukai adalah gaya bahasa Pidi Baiq yang ringan dan mengalir. Ia tidak terlalu peduli pada aturan bahasa yang kaku. Tulisan-tulisannya terasa seperti mendengar seorang teman bercerita langsung di hadapan kita. Akibatnya, buku ini sangat mudah dibaca dan bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Namun jangan salah. Meski ringan, banyak gagasan menarik yang terselip di dalamnya. Pidi seolah mengajarkan bahwa hidup tidak harus dijalani dengan wajah tegang. Kita boleh bercanda, boleh iseng, boleh tertawa, selama tidak melukai orang lain. Bahkan dalam beberapa cerita, keisengannya justru menjadi jalan untuk membantu sesama.

Setelah membaca buku ini, saya merasa mendapatkan sudut pandang baru tentang kehidupan. Kadang kita terlalu sibuk mengejar hal-hal besar hingga lupa menikmati peristiwa-peristiwa kecil yang sebenarnya menyimpan kebahagiaan. Pidi Baiq mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal target dan pencapaian, tetapi juga soal kemampuan menertawakan diri sendiri dan menikmati perjalanan.

Intinya, Drunken Molen adalah buku yang lucu, hangat, absurd, dan diam-diam mengandung banyak pelajaran. Mungkin tidak semua orang akan memahami cara berpikir Pidi Baiq. Namun bagi saya, buku ini berhasil menunjukkan bahwa humor bukan sekadar alat untuk tertawa, melainkan juga cara untuk memahami kehidupan dengan lebih ringan dan manusiawi.

Identitas Buku

Judul: Drunken Molen; Cacatnya Harian Pidi Baiq

Penulis: H. Pidi Baiq

Penerbit: DAR! Mizan

Cetakan: I, 2008

Tebal: 212 Halaman

ISBN: 978-979-752-898-0

Genre: Fiksi/Humor