Rekomendasi buku untuk pecinta kucing dan sastra Jepang karya Genki Kawamura berjudul Sekai Kara Neko Ga Kieta Nara, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Jika Kucing Lenyap dari Dunia. Dari judulnya saja sudah jelas akan membuat para pecinta kucing berpikir dua kali untuk tidak membacanya. Novel ini diceritakan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, bahkan untuk anak kecil sekalipun, dan mampu membawa pembaca pada perasaan haru, tawa, serta pencerahan hidup.
Sinopsis Novel
Apa yang akan kamu lakukan jika umurmu tinggal hitungan hari? Bagaimana perasaanmu jika kamu tahu bahwa kematian sudah sangat dekat?
Novel ini dibuka dengan gambaran kedekatan tokoh utama dengan kematian. Tokoh utama, yang disebut “Aku”, adalah seorang penyendiri yang bekerja sebagai tukang pos dan memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya. Suatu hari, ia didiagnosis menderita kanker stadium akhir dengan sisa umur yang tinggal hitungan jari.
Tiba-tiba, muncul sosok iblis yang ia sebut Aloha, dengan penampilan dan wajah yang persis dengannya, berpakaian cerah dan penuh warna seperti hendak berlibur musim panas. Iblis tersebut menawarkan perpanjangan hidup dengan syarat: setiap satu hari tambahan umur, tokoh “Aku” harus menghilangkan satu benda yang ia sayangi dari dunia ini.
Pertanyaan pun muncul: jika kamu berada di posisinya, maukah kamu menerima tawaran sang iblis? Jika iya, benda apa yang rela kamu hilangkan? Mantan kekasihmu? Atau bahkan binatang kesayanganmu?
Tanpa banyak pertimbangan dan adegan dramatis, tokoh “Aku” menghabiskan sisa hidupnya dengan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mulai menghilangkan benda-benda seperti jam, telepon, film, dan lainnya, hingga akhirnya tiba pada pilihan tersulit: menghilangkan hewan peliharaannya.
Tokoh “Aku” berpikir berkali-kali tentang rencana menghilangkan kucingnya. Bagaimanapun, Kubis—nama kucingnya—mengingatkannya pada ibu dan ayahnya, serta orang-orang yang pernah singgah dalam hidupnya. Hadirlah kenangan tentang ibunya yang sangat menyayangi salad dan kubis hingga akhir hayatnya. Seekor kucing ternyata bisa menjadi lebih dari sekadar hewan peliharaan; ia bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga. Jika kucing benar-benar lenyap dari dunia, apakah kepingan kebahagiaan dan kenangan indah juga akan ikut lenyap?
Akhirnya, tokoh “Aku” memutuskan untuk tidak menghilangkan kucingnya. Dari sini muncul kesadaran dan berbagai pertanyaan reflektif: apakah hubungannya dengan orang-orang terkasih sudah baik? Apakah ia sudah cukup memberi perhatian? Apakah ia telah memanfaatkan hari-hari berharga yang terbatas ini dengan baik? Apakah ia terlalu sibuk bekerja hingga lupa memberi waktu untuk dirinya sendiri?
Di akhir cerita, tokoh “Aku” memilih untuk bersyukur dan berhenti menghilangkan benda-benda dari dunia demi tambahan satu hari hidup. Ia memilih memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, dimulai dari hal-hal kecil—berawal dari Kubis.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Buku ini cukup tipis dengan spasi yang lebar sehingga mudah diselesaikan dalam sekali duduk. Namun, karena merupakan hasil terjemahan, beberapa kalimat terasa kurang padu meskipun maknanya tetap dapat dipahami. Selain itu, ekspektasi pembaca terhadap pembahasan tentang kucing mungkin akan sedikit berkurang, karena ternyata kucing hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan isi cerita.
Kekurangan lain dari buku ini adalah bagian akhir cerita yang dibuat menggantung. Penulis seolah menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk menafsirkan dan menyelesaikan makna akhir kisahnya sendiri. Bagi sebagian pembaca, hal ini bisa menjadi kelebihan karena memberi ruang refleksi, tetapi bagi pembaca yang menginginkan akhir cerita yang jelas dan tuntas, akhir yang menggantung ini bisa terasa sedikit menyebalkan dan kurang memuaskan.
Identitas Buku
Judul Asli (bahasa Jepang): (Sekai Kara Neko Ga Kieta Nara)
Judul Indonesia: Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Penulis: Genki Kawamura
Penerjemah: Ribeka Ota
Editor: Anton Kurnia
Pemeriksa Aksara: Dian Pranasari
Penata Isi: @nurhasanahrdiwan12
Perancang Sampul: @designgendang & Garisinau
Cetakan II: Februari 2021
Penerbit: BACA
Baca Juga
-
Hana Tara Hata: Prekuel yang Menghidupkan Kembali Series Bumi
-
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Di Balik Janji Dai Nippon
-
Gelandangan di Kampung Sendiri: Kritik yang Tak Pernah Usang
-
Putri Cina Karya Shindunata: Luka Dari Zaman ke Zaman
-
Menyusu Celeng: Satire Politik tentang Nafsu, Dendam, dan Kuasa
Artikel Terkait
Ulasan
-
Malam 3 Yasinan: Horor Psikologis yang Menggali Luka dan Rahasia Keluarga
-
Hana Tara Hata: Prekuel yang Menghidupkan Kembali Series Bumi
-
Menjajaki Trek Gunung Kawi: si Cantik yang Butuh Effort!
-
Buku Obat Sedih Dosis Tinggi, Refleksi agar Semangat Menjalani Hidup
-
Belajar Komitmen Terhadap Janji di Novel Bidadari Bermata Bening
Terkini
-
Redmi Turbo 5 Max Meluncur Bulan Ini, HP MediaTek Dimensity 9500s dan Baterai 9.000 mAh
-
Spesifikasi Infinix Note Edge 5G Resmi Muncul, HP Murah Rp 3 Jutaan Bawa Chipset Dimensity 7100
-
Wajib Baca! 5 Rekomendasi Buku yang Cocok untuk Self-Healing dan Refleksi Diri
-
Guliran FIFA Series 2026 dan 2 Alasan dari Semesta yang Patahkan Klaim PSSI Anak Emas FIFA
-
Rubah yang Belajar Menjadi Jujur