Film Coraline (2026) merupakan penayangan ulang versi remastered dari film animasi stop-motion klasik tahun 2009 yang disutradarai oleh Henry Selick. Adaptasi dari novel Neil Gaiman ini kembali menghidupkan kisah gelap dan imajinatif yang telah menjadi ikon horor anak-anak.
Dengan peningkatan visual 3D remastered, film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Januari 2026, didistribusikan oleh CBI Pictures dan tersedia dalam format 2D serta 3D di jaringan seperti CGV dan Cinépolis. Penayangan ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-15 film asli, menawarkan pengalaman baru bagi penonton lama maupun generasi muda. Di Indonesia, tiket sudah bisa dipesan melalui aplikasi bioskop terkait, dengan harga mulai dari Rp 50.000 tergantung lokasi dan format.
Other Mother dan Tombol Mata
Coraline mengikuti petualangan Coraline Jones, seorang gadis berusia 11 tahun yang pindah ke rumah tua bernama Pink Palace Apartments bersama orang tuanya yang sibuk bekerja. Coraline, disuarakan oleh Dakota Fanning, merasa bosan dan diabaikan.
Suatu malam, ia menemukan pintu rahasia di dinding rumahnya yang membawa ke dunia paralel. Di sana, ia bertemu Other Mother dan Other Father (disuarakan oleh Teri Hatcher dan John Hodgman), versi alternatif orang tuanya yang tampak sempurna: penuh perhatian, makanan lezat, dan hiburan ajaib. Namun, ada yang aneh—mata mereka diganti tombol jahit. Dunia ini penuh keajaiban, seperti taman bercahaya dan pertunjukan tikus sirkus, tapi segera terungkap sebagai jebakan mengerikan.
Plot film ini dibangun dengan ketegangan bertahap, mencampur elemen fantasi dengan horor psikologis. Coraline harus menggunakan kecerdasan dan keberaniannya untuk melarikan diri dari Other Mother, yang ternyata adalah makhluk jahat bernama Beldam, pencuri jiwa anak-anak. Bantuan datang dari kucing hitam misterius (Keith David) dan tetangga eksentrik seperti Mr. Bobinsky (Ian McShane) dan Miss Spink serta Miss Forcible (Jennifer Saunders dan Dawn French). Cerita klimaks dalam pertarungan cerdas melawan ilusi, menekankan tema apresiasi terhadap kehidupan nyata meski tidak sempurna.
Review Film Coraline
Dari segi penyutradaraan, Henry Selick, yang juga menggarap The Nightmare Before Christmas, membuktikan keahliannya dalam animasi stop-motion. Diproduksi oleh Laika Studios, film ini menggunakan teknik manual yang rumit: ribuan boneka mini, set detail, dan ribuan ekspresi wajah yang diganti tangan. Versi 2026 dengan remastered 3D meningkatkan kedalaman visual, membuat elemen seperti tombol mata atau jaring laba-laba terasa lebih hidup dan menyeramkan. Warna-warna cerah dunia paralel kontras tajam dengan dunia nyata yang suram, menciptakan atmosfer mimpi buruk yang memikat. Musik oleh Bruno Coulais menambah nuansa eerie dengan nada orkestra dan lagu-lagu seperti Exploration yang ikonik.
Pemeran suara luar biasa. Dakota Fanning menyampaikan emosi Coraline dengan sempurna: rasa penasaran, ketakutan, dan keteguhan. Teri Hatcher brilian sebagai Other Mother, berubah dari manis menjadi monsterik. John Hodgman menambahkan humor ringan sebagai Other Father. Karakter pendukung seperti Wybie (Robert Bailey Jr.) memberikan dinamika persahabatan, sementara narasi dari kucing hitam menambah misteri.
Tema utama Coraline adalah pencarian identitas dan bahaya godaan. Film ini mengajarkan anak-anak untuk menghargai keluarga meski tidak ideal, serta waspada terhadap hal-hal yang terlalu sempurna. Elemen horornya—seperti transformasi mengerikan Other Mother—membuatnya menjadi gateway horror ideal, menakutkan tapi tidak berlebihan. Bagi dewasa, ini metafora tentang pelecehan emosional dan manipulasi, membuatnya multilayered. Neil Gaiman sendiri memuji adaptasi ini sebagai setia pada novelnya, meski ada penambahan seperti karakter Wybie untuk alur visual.
Visualnya memukau dan menghibur. Masuk nominasi Oscar Best Animated Feature, tapi kalah dari Up. Secara box office, total 185 juta dolar AS worldwide dari budget 60 juta dolar AS, termasuk re-release 2024 yang sukses besar. Versi 2026 diprediksi laris karena nostalgia, dengan review awal memuji 3D remastered yang bikin horor lebih mendalam. Film ini disebut stop-motion terbaik abad ini dan masterpiece gateway horror.
Secara keseluruhan, Coraline (2026) adalah pengalaman sinematik yang timeless. Ini bukan sekadar animasi anak, tapi karya seni yang menggabungkan keindahan dan kegelapan. Kalau kamu belum menonton, ini kesempatan sempurna di bioskop Indonesia mulai 21 Januari 2026. Bagi penggemar, re-release ini seperti kembali ke dunia tombol mata—menakutkan tapi adiktif. Rating pribadiku: 9/10.
Baca Juga
-
Ulasan Gintama: Yoshiwara in Flames, Aksi Spektakuler Tsukuyo dan Gintoki
-
Review The Marked Woman: Hadir dengan Tema Identitas dan Keadilan Sosial!
-
Review Serial Messiah: Drama Thriller Provokatif tentang Iman dan Politik
-
Ulasan Film Garuda di Dadaku: Animasi Epik yang Membakar Semangat Muda!
-
Disclosure Day: Thriller Sci-Fi Spielberg yang Penuh Emosi dan Ketegangan!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Teach You A Lesson vs Study Group: Drakor Mana yang Paling Recommended?
-
Review Drama Filing For Love: Angkat Isu Fatherless yang Bikin Mewek
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih
-
Novel Bandung Menjelang Pagi: Sisi Gelap Kota Kembang ala Brian Khrisna
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
Terkini
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia
-
Ji Sung Jadi Mantan Bos Geng di Drama Comedy-Thriller 'The Apartment Job'
-
Demam Piala Dunia Dimulai: Dari Stadion ke Kebahagiaan Hidup yang Bermakna
-
AI Memang Tidak Menghakimi, Tapi Apakah Curhat ke ChatGPT Benar-benar Menyehatkan?