M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Sengkolo: Petaka Satu Suro (IMDb)
Ryan Farizzal

Film horor Indonesia terus berkembang dengan mengangkat elemen budaya lokal yang kental, dan Sengkolo: Petaka Satu Suro menjadi salah satu contoh terbaru yang menjanjikan ketegangan mistis. Disutradarai oleh Deni Saputra dalam debut penyutradaraannya, film ini diproduksi oleh MVP Pictures di bawah pengawasan produser kreatif Hadrah Daeng Ratu.

Sebagai sekuel dari Sengkolo: Malam Satu Suro (2024), film ini memperluas universe horor berbasis mitos Jawa, khususnya malam 1 Suro yang dianggap keramat dan penuh bahaya supranatural. Sengkolo: Petaka Satu Suro tayang perdana di bioskop Indonesia pada 22 Januari 2026, dengan durasi 102 menit dan rating D17+ yang menandakan konten dewasa berupa kekerasan dan elemen menyeramkan.

Rahayu dan Beban Tragedi Keluarga

Salah satu adegan di film Sengkolo: Petaka Satu Suro (IMDb)

Cerita berpusat pada Rahayu (Aulia Sarah), seorang bidan desa yang hidup harmonis bersama suaminya, Cipto (Dimas Aditya), dan anaknya di desa pesisir Sukowati. Kehidupan tenang mereka terganggu oleh serangkaian kejadian aneh yang menimpa warga, terutama para wanita hamil. Teror semakin intens menjelang malam 1 Suro, di mana entitas negatif bernama Sengkolo—simbol kemalangan dan bencana dalam budaya Jawa—mulai mendominasi.

Rahayu harus menghadapi duka pribadi, termasuk tragedi keluarga, sementara adiknya, Ratih (Cindy Nirmala), pulang dan ikut terjerat dalam misteri ini. Elemen supranatural seperti penampakan hantu, ritual dukun, dan atmosfer gelap desa pesisir menjadi tulang punggung narasi yang terinspirasi dari mitos Jawa tentang malam keramat tersebut.

Review Film Sengkolo: Petaka Satu Suro

Salah satu adegan di film Sengkolo: Petaka Satu Suro (IMDb)

Dari segi akting, Aulia Sarah tampil menonjol sebagai Rahayu. Perannya menuntut pendalaman emosi yang ekstrem, dari ibu rumah tangga biasa hingga menjadi korban kerasukan. Sarah mengaku peran ini paling menguras energi sepanjang kariernya karena harus beralih antara kondisi manusia normal dan nyurup (kerasukan). Aktingnya benar-benar tidak main-main, dengan ekspresi wajah dan gerak tubuh yang membuat horor terasa lebih personal dan emosional.

Dimas Aditya sebagai suami memberikan dukungan solid, meski karakternya lebih sebagai pendukung. Cindy Nirmala sebagai Ratih menambah lapisan drama keluarga, sementara Agla Artalidia (Marni), Sharon Jovian, Diaz Ardiawan (Yudi), Ence Bagus, dan Annisa Hertami melengkapi ensemble cast dengan performa yang konsisten. Secara keseluruhan (overall), akting jajaran pemain ini membuat cerita tidak hanya bergantung pada jump scare, tetapi juga pada konflik internal karakter.

Sutradara Deni Saputra berhasil menciptakan atmosfer mencekam melalui sinematografi yang gelap dan moody. Latar desa pesisir dengan pantai berombak dan rumah-rumah kayu tua memberikan nuansa autentik Jawa, didukung oleh sound design Dolby Surround 7.1 yang memperkuat efek suara angin, bisikan hantu, dan ritual mistis. Elemen visual seperti hantu putih atau darah digambarkan secara sadis; film ini dapat dikategorikan sangat brutal dan sadis. Namun, kekuatannya juga terletak pada penggabungan horor dengan drama emosional, seperti tema kehilangan dan pengorbanan. Produser Hadrah Daeng Ratu menekankan bahwa cerita ini dekat dengan masyarakat Jawa sehingga terasa relatable bagi penonton Indonesia. Fakta menariknya, film ini mengangkat mitos 1 Suro sebagai inti cerita, di mana malam itu diyakini membuka gerbang dunia gaib.

Kelebihan utama film ini adalah intensitasnya yang konstan dari awal hingga akhir, dengan ending yang sangat klimaks dan membuat berdebar. Cuplikan (trailer) resmi sudah menunjukkan potensi teror ekstrem, seperti penampakan yang semakin menjadi-jadi menjelang 1 Suro. Dibandingkan pendahulunya (Sengkolo: Malam Satu Suro), sekuel ini terasa lebih emosional dan brutal, mirip dengan horor Barat seperti Evil Dead Rise tetapi dengan cita rasa lokal. Tema pengorbanan untuk orang tercinta menambah pesan moral bahwa takdir tidak bisa dihindari, namun jangan sampai kehilangan arah karena duka.

Di sisi lain, kekurangan mungkin terletak pada prediktabilitas plot horor Indonesia standar—penampakan, dukun, dan balas dendam gaib—yang bisa terasa klise bagi penonton veteran genre ini. Suasana gelap dari awal membuatnya terasa ekstrem (extreme), tetapi bisa melelahkan jika Anda tidak menyukai horor gore. Selain itu, karena baru tayang, rating IMDb belum tersedia, tetapi respons awal di media sosial terpantau positif.

Secara keseluruhan, Sengkolo: Petaka Satu Suro adalah film horor solid yang memadukan mistis Jawa dengan drama keluarga, cocok untuk penggemar genre yang mencari teror autentik. Rating pribadi dari saya: 7.5/10. Kalau kamu kuat menghadapi malam 1 Suro, segera tonton di bioskop untuk pengalaman maksimal ya, Sobat Yoursay!