Nama Devy Anastasia mungkin lebih dulu dikenal publik lewat konten memasaknya yang berseliweran di Instagram. Wajahnya familiar di linimasa, gerakannya cekatan meracik bahan, dan videonya kerap muncul di kolom pencarian bagi pencinta reels kuliner.
Namun suatu hari, sebuah potongan video yang membahas masa lalunya lewat begitu saja. Tentang pembunuhan sang ibu dan kondisi rumahnya di Banjarmasin. Kaget? Tentu. Dari situlah rasa penasaran terhadap sosok di balik layar itu tumbuh.
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab lewat buku pertamanya, Satu Hari Lagi, karya Devy Anastasia yang terbit pada 2025 oleh GagasMedia.
Buku bergenre memoar sekaligus self-improvement ini mengusung semangat sederhana namun kuat: “Taste The Fear and Do It Anyway.” Sebuah ajakan untuk mengecap rasa takut, lalu tetap melangkah.
Isi Buku
Buku ini disusun dalam beberapa fase kehidupan Devy yang terasa runtut dan emosional. Bagian awal membawa pembaca pada masa kecilnya, sebuah kehidupan yang awalnya terbilang mapan, bahkan bisa disebut lahir dengan “sendok emas”.
Namun segalanya berubah drastis ketika tragedi pembunuhan sang ibu terjadi. Dalam hitungan hari, dunia yang semula terasa aman runtuh. Label sosial yang kejam, tekanan keluarga besar, dan kehilangan figur ibu membentuk bab paling kelam dalam hidupnya.
Fase berikutnya menyoroti masa SMA dan kebimbangan selepas lulus. Devy muda digambarkan sebagai pribadi yang belum matang dalam mengambil keputusan. Ia impulsif, sering salah perhitungan, dan kerap tidak berpikir panjang. Sebuah potret yang terasa sangat manusiawi. Ia tidak menulis dirinya sebagai sosok tanpa cela. Justru di situlah kekuatan memoar ini: kejujuran.
Keputusan kembali ke Jakarta demi mempersiapkan diri ke Jerman menjadi titik balik penting. Namun perjalanan itu tidak dilapisi kemudahan. Devy mengalami penolakan kerja berkali-kali. Ia pernah ditipu saat melamar pekerjaan, diminta membayar sejumlah uang dengan dalih biaya pendaftaran.
Ia juga mengakui kebodohannya di masa lalu. Tidak bertanya ketika tidak tahu, terlalu gengsi untuk terlihat tidak paham. Refleksi ini melahirkan salah satu pelajaran paling kuat dalam buku: lebih baik terlihat bodoh sebentar karena bertanya, daripada bodoh selamanya karena diam.
Masa di Jerman pun bukan kisah glamor perantau sukses. Ia hidup serba kekurangan, kesulitan bahasa, bahkan pernah merasakan titik terendah yang membuatnya nyaris kehilangan arah.
Dari kehidupan yang dulu nyaman, ia harus belajar menerima realitas tinggal di rumah tanpa listrik dan meminta makan ke gereja. Kontras hidupnya begitu tajam: dari privilese menjadi minus. Ia pernah gagal mengikuti ajang memasak nasional, sebuah kegagalan yang sempat meruntuhkan mentalnya.
Namun yang menarik, buku ini bukan sekadar katalog penderitaan. Devy menulisnya sebagai proses penyembuhan. Ia mengibaratkan menulis buku ini seperti menyiram alkohol ke luka basah. Perih, tapi perlu untuk membersihkan.
Buku ini ia dedikasikan sebagai permintaan maaf kepada orang-orang yang pernah ia rugikan selama proses bertahan hidup. Sekaligus sebagai ucapan terima kasih bagi mereka yang tetap tinggal.
Tema sentral buku ini sederhana: bertahan satu hari lagi. Devy tidak menjanjikan transformasi instan. Ia tidak menyuguhkan resep sukses lima langkah. Ia hanya menunjukkan bahwa hidup sering kali berubah tanpa peringatan.
Privilege bisa hilang. Rasa aman bisa runtuh. Tetapi selama seseorang memilih bangun dan menghadapi satu hari lagi, harapan tetap ada.
Kelebihan dan Kekurangan
Kekuatan narasi Devy terletak pada keberaniannya mengakui kesalahan pribadi. Ia menolak menyalahkan keadaan semata. Ia menyoroti bahaya eksternalisasi, kebiasaan menyalahkan faktor luar tanpa introspeksi.
“Semakin lama kamu menyalahkan keadaan, semakin lama kamu terjebak di tempat yang sama,” tulisnya. Kalimat itu terasa relevan bagi siapa pun yang pernah merasa hidup tidak adil.
Membaca Satu Hari Lagi di masa hidup yang sedang berselimut awan hitam bisa terasa seperti menemukan celah cahaya. Kisah Devy memang tidak sempurna. Ia penuh kekurangan, keputusan keliru, dan kegagalan. Tetapi justru karena itulah ia dekat. Ia tidak berdiri sebagai motivator di atas panggung, melainkan sebagai manusia yang jatuh berkali-kali lalu memilih bangkit.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa hidup bukan tentang menjadi tanpa takut, melainkan tetap melangkah meski takut. Terkadang, perubahan besar tidak dimulai dari lompatan dramatis, melainkan dari keputusan kecil yang konsisten: bertahan satu hari lagi.
Identitas Buku
- Judul: Satu Hari Lagi
- Penulis: Devy Anastasia
- Penerbit: GagasMedia
- Tahun Terbit: 2025
- ISBN: 978-623-493-324-6
- Tebal: 223 halaman
- Genre: Self-improvement, Memoar/Kisah Nyata
Baca Juga
-
Tutorial Naksir Sahabat Tanpa Kena Mental: Sebuah Review Novel Jungkir Balik
-
Buku Iblis di Pekarangan: Ketika Sisi Gelap Manusia Menjelma Begitu Dekat
-
Ramuan Cinta di Sepiring Spaghetti Bolognese dalam Novel Amo Ravierre
-
Buku Love Yourself First: Mencintai Diri Secukupnya
-
Gak Usah Sok Paling Tangguh, Setiap Generasi Punya Masalahnya Sendiri!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku "You Are Overthinking", Solusi Tenang di Tengah Hiruk Pikuk Pikiran
-
Tutorial Naksir Sahabat Tanpa Kena Mental: Sebuah Review Novel Jungkir Balik
-
Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta: Antara Masa Lalu dan Pilihan Hari Ini
-
Mengurai Emosi Remaja dalam Konflik Keluarga di Novel "Oi Abang Oi"
-
Buku Iblis di Pekarangan: Ketika Sisi Gelap Manusia Menjelma Begitu Dekat
Terkini
-
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Resmi Diadaptasi Menjadi Film
-
Bagai Langit dan Bumi, Performa Pedro Acosta dan Maverick Vinales Disorot
-
Budaya Kirim Parsel: Etika, Relasi Bisnis, dan Batas Gratifikasi
-
Bikin Aura Makin Elegan dan Berkelas! 6 Pilihan Parfum Wanita untuk Lebaran
-
Bukan Hanya Emil, Sinar Kevin Diks Juga Bikin para Penggawa Asia Jadi Insecure di Bundesliga