Jalan raya selalu punya dua wajah. Pada siang hari, terlihat biasa saja. Aspal panjang, kendaraan lalu-lalang, dan pemandangan yang terus berganti. Namun ketika malam tiba, terutama di jalur yang sepi dan jauh dari keramaian, suasananya berubah total. Lampu kendaraan hanya menerangi sebagian kecil jalan di depan, sementara sisanya tenggelam dalam kegelapan yang sulit ditebak.
Perasaan itulah yang menjadi fondasi utama film Passenger, horor terbaru garapan sutradara André Øvredal. Film berdurasi 94 menit ini diproduksi oleh Paramount Pictures dan dibintangi Lou Llobell sebagai Maddie, Jacob Scipio sebagai Tyler, Melissa Leo sebagai Diana, serta Joseph Lopez sebagai sosok misterius yang dikenal sebagai Passenger.
André Øvredal sendiri bukan nama baru bagi pencinta horor. Sebelumnya pernah membuat The Autopsy of Jane Doe, Scary Stories to Tell in the Dark, dan The Last Voyage of the Demeter. Dalam Passenger, dia kembali menunjukkan kemampuannya membangun ketegangan tanpa terlalu bergantung pada ledakan jumpscare.
Sinopsis Film Passenger
Kisahnya mengikuti Tyler dan Maddie, pasangan muda yang memutuskan meninggalkan kehidupan lama mereka di New York untuk menjalani gaya hidup nomaden menggunakan van modifikasi.
Pada awalnya perjalanan tersebut merupakan kebebasan yang selama ini mereka impikan. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidur di area parkir, bertemu sesama pelancong, dan menikmati hidup tanpa rutinitas yang mengikat.
Namun seiring waktu, hubungan keduanya mulai mengalami gesekan. Maddie mulai mempertanyakan masa depan mereka, sementara Tyler masih ingin mempertahankan gaya hidup tersebut. Konflik itu semakin rumit ketika mereka menyaksikan kecelakaan mengerikan di jalan terpencil pada malam hari.
Sejak kejadian itu, sesuatu mulai mengikuti mereka. Sosok misterius yang mereka sebut Passenger perlahan muncul dan menjadi ancaman yang semakin nyata. Semakin jauh mereka mencoba melarikan diri, semakin dekat pula teror tersebut mengejar mereka.
Review Film Passenger
Setelah menonton Passenger, saya merasa film ini mengingatkan pada subgenre horor yang semakin jarang disentuh Hollywood: horor road trip.
Padahal kalau melihat ke belakang, jalan raya pernah menjadi salah satu lokasi horor paling efektif dalam sejarah perfilman. Kita bisa melihatnya dalam film Duel karya Steven Spielberg, The Hitcher yang menjadikan seorang pembunuh misterius sebagai ancaman di jalanan, hingga Jeepers Creepers yang memanfaatkan perjalanan antarkota sebagai awal dari mimpi buruk para karakternya.
Belakangan, Hollywood lebih sering kembali ke formula yang sama. Rumah berhantu, apartemen angker, rumah sakit kosong, atau bangunan tua yang menyimpan kutukan. Formula itu memang masih efektif, tetapi lama-kelamaan terlalu familier.
Di sinilah Passenger menyegarkan. Film ini mengingatkan bahwa jalan raya sebenarnya menawarkan jenis ketakutan yang berbeda. Ketika seseorang berada di rumah berhantu, setidaknya masih ada pilihan untuk keluar dari rumah tersebut. Namun ketika seseorang sedang berkendara di tengah malam, jauh dari kota, jauh dari sinyal, dan jauh dari bantuan, rasa tidak berdayanya jauh lebih besar.
Jalan raya menciptakan ilusi kebebasan sekaligus jebakan. Karakter bisa terus bergerak, tetapi belum tentu bisa melarikan diri.
Konsep inilah yang membuat horor road trip begitu menarik. Ancaman tidak terbatas pada satu lokasi. Monster atau bahaya dapat muncul kapan saja. Penonton tidak pernah tahu apakah karakter akan menemukan tempat aman atau justru memasuki wilayah yang lebih berbahaya.
Passenger memanfaatkan ketidakpastian itu dengan cukup baik. Banyak adegannya sebenarnya sederhana. Maddie berjalan sendirian di area parkir, Tyler mengemudi di jalan kosong, atau pasangan tersebut berhenti di tengah hutan. Namun karena lokasi-lokasi itu begitu luas dan sunyi, ketegangan muncul secara alami.
Saya bahkan merasa jalan raya adalah salah satu lokasi horor paling realistis yang pernah ada. Sebagian besar orang mungkin tidak pernah masuk rumah berhantu. Tidak semua orang pernah mengunjungi bangunan tua yang menyimpan kutukan. Namun hampir semua orang pernah mengalami perjalanan malam di jalan yang sepi.
Ketakutan-ketakutan kecil itulah yang membuat horor jalan raya terasa dekat dengan pengalaman nyata. Karena itu saya cukup menyayangkan Hollywood saat ini jarang mengeksplorasi subgenre tersebut. Padahal ruang kreatifnya masih sangat besar. Jalan raya bisa menjadi tempat munculnya pembunuh berantai, makhluk supernatural, fenomena psikologis, bahkan teror eksistensial tentang kesepian dan keterasingan.
Passenger memang bukan film yang merevolusi genre horor. Premisnya relatif simpel dan beberapa aspek cerita mungkin kurang dijelaskan secara mendalam. Namun, film ini berhasil mengingatkan penonton, rasa takut tidak selalu membutuhkan rumah tua yang berdebu atau monster dengan latar belakang rumit.
Di tengah tren horor modern yang sering kali sibuk membangun semesta, franchise, dan mitologi panjang, Passenger menurut saya adalah penyegaran.
Film Passenger sudah tayang di bioskop Indonesia sejak 27 Mei 2026, dan masih tayang. Sobat Yoursay, ayo nonton!
Baca Juga
-
Dapur Berhantu: Teror Mistis Mengintai Chef Ambisius di House of Spoils
-
Review Film Perewangan: Teror Mistis dalam Pesugihan Rumah Makan!
-
Review Film My Annoying Brother, Komedi Mengharukan tentang Arti Keluarga
-
Review Film Venom: The Last Dance, Aksi Terakhir yang Intens dan Brutal
-
Romansa Rasa Bestie dengan Kritik Sosial dalam Film Love in the Big City
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel The Infinite Quest, Rahasia Mengerikan di Balik Eksperimen Ilegal
-
Review Novel Di Tanah Berhala: Teror Desa Kerti Swara dan Kutukan Berdarah
-
Dilema Ketika Cinta Lama Datang Kembali di Novel Endless Love
-
Review Film Renoir: Ketika Kita Terlalu Remehkan Perasaan Anak
-
Tanpa Romansa Guru dan Murid: Sisi Menarik di Absolute Value of Romance
Terkini
-
Hitung-hitungan Dapur yang Rusak Akibat Isu Dugaan Korupsi Proyek MBG
-
Proyek MBG Ditilep Kroni, Sebuah Pelajaran Berharga Mengenai Logika Culas
-
Ketika Makanan Anak Sekolah Jadi Ladang Rente, Sebuah Refleksi Dugaan Korupsi MBG
-
Greenwashing: Saat Produk Ramah Lingkungan Justru Dorong Konsumsi Berlebih
-
4 Ide OOTD Effortlessly Cool ala Hong Min Gi untuk Look Santai yang Kece!