Langit bulan Januari diwarnai awan kelabu, tapi hati kami lagi cerah-cerahnya. Liburan awal tahun menjadi waktu yang selalu dinantikan orang-orang untuk menjauh sejenak dari aktivitas pekerjaan, perkuliahan, dan rutinitas-rutinitas membosankan lainnya.
Sebagai warga lokal Kediri, rasanya kurang afdal kalau belum menikmati keindahan pesona Gunung Kelud yang berdiri gagah di ujung timur Kabupaten Kediri. Tepatnya, gunung ini berada di perbatasan antara tiga kabupaten, yaitu Kediri, Blitar, dan Malang. Terdapat beberapa pilihan jalur untuk menuju puncak. Pertama, ada jalur wisata yang terletak di Rejomulyo, Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Kedua, untuk pendaki sejati yang suka tantangan, bisa mendaki melalui jalur Laharpang Puncu, Kediri atau Tulungrejo dan Karanrejo Blitar.
Libur awal tahun kemarin, saya pergi menikmati keindahan Gunung Kelud bersama kakak saya. Tentu saja, kami memilih jalur wisata yang mudah dilalui. Tidak ada trek melelahkan, jalurnya bahkan sudah berupa jalan cor. Tak hanya itu, untuk menuju puncak Gunung Kelud kita juga bisa menggunakan ojek dengan tarif sekitar Rp30.000-Rp40.000 untuk satu kali jalan. Sedangkan tiket masuk ke Kawasan wisatanya sendiri hanya kisaran Rp10.000 saja.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 09.30 pagi. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai tujuan dari kawasan Kota Kediri bagian barat. Semula, kami melewati jalanan kota yang datar dan mulus. Tetapi semakin dekat dengan kawasan gunung, medan berubah menjadi tikungan tajam dan tanjakan panjang yang cukup menguji mesin motor. Kami hanya bisa berdoa dan berdzikir dalam hati sepanjang jalan, berharap tiba dengan selamat.
Namun, di balik perjalanan yang menegangkan, pemandangan yang tersaji di pinggir jalan sangat memanjakan mata. Hutan-hutan hijau, kebun nanas, dan hamparan sawah yang menyejukkan hati dan pikiran.
Perjalanan Menuju Puncak Kawah Gunung Kelud
Kami sampai di tempat parkir motor sekitar pukul 10.45 dan langsung bersiap menuju puncak. Jalur yang kami pilih, tentu jalur wisata. Setelah melakukan pemanasan sebentar, kami memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Sebelumnya, petugas parkir mengatakan butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai puncak. Beberapa saat setelah meninggalkan tempat parkir, kami merasa pilihan kami tepat. Dengan berjalan kaki, kami bisa jauh lebih puas mengabadikan momen di setiap sudutnya yang indah.
Sesekali kami berhenti untuk meregangkan kaki, minum air, dan tentu saja… foto-foto! Pemandangan yang kami lihat terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Mungkin itu sebabnya, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam, kami jalani selama satu jam lebih.
Tepat pukul 12 siang, kami tiba di puncak Gunung Kelud yang berdiri di ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut. Meski langit mendung dan kabut mulai turun, suasananya justru terasa syahdu. Angin dingin menyapa kulit, dan sunyi di sekitar membawa ruang untuk merenung. Kami berfoto dengan latar kawah yang ikonik itu. Ada jasa foto di sana, tapi kami lebih memilih bergantian memotret dan memakai tripod untuk foto bersama.
Sebelum turun, kami sempat mengisi ulang tenaga dengan menyantap sosis bakar. Setelah energi kembali terisi, kami berkemas. Hujan mulai turun rintik-rintik, dan mantel hujan pun dikeluarkan dari tas. Perjalanan turun kami lakukan dengan lebih fokus. Tidak ada sesi foto-foto lagi, hanya langkah demi langkah yang membawa kami kembali ke bawah dengan selamat. Tepat pukul 14.00, kami tiba di parkiran.
Satu hal yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Gunung Kelud, kami sempatkan berhenti sebentar di perjalanan pulang untuk membeli nanas dengan harga Rp10.000 per satu ikat yang berisi 4-5 buah nanas. Tak lupa kami juga membeli sambal rujak satu botol sebagai pelengkapnya.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Kami sampai di daerah Kota Kediri dalam waktu sekitar 40 menit saja. Hari itu ditutup dengan perpisahan kecil. Saya harus kembali ke asrama, dan kakak saya pulang ke rumah.
Sampai jumpa lagi, Gunung Kelud. Semoga saya bisa datang kembali, membawa cerita baru dan pulang dengan takjub yang sama.
Baca Juga
-
Sekali Duduk Tamat! 7 Rekomendasi Drakor yang Bikin Susah Berhenti Nonton
-
Review Anna: Drama yang Membuktikan bahwa Kebohongan Tak Membawa Ketenangan
-
Drama Flower of Evil: Saat Seorang Detektif Harus Selidiki Suaminya Sendiri
-
Seru Banget! 5 Rekomendasi Drakor Aksi yang Bikin Tegang Sekaligus Terhibur
-
Gen Z dan Hubungan 'Just Friend': Saat Batas Pertemanan Semakin Kabur
Artikel Terkait
-
Jelang Jamu Persik Kediri, Bojan Hodak Dipusingkan dengan Masalah Ini!
-
Bojan Hodak Pusing Pilih Starting XI Persib Jelang Lawan Persik Kediri, Kenapa?
-
Beckham Putra Berharap Persib Lanjutkan Tren Tak Terkalahkan di GBLA saat Jamu Persik
-
Suka Traveling dan Rekam Momen? DJI Osmo Pocket 3 Bisa Jadi Kamera Andalan
-
Comeback Dramatis, Pelatih Persik Kediri: Kami Benar-benar Butuh Kemenangan Ini
Ulasan
-
Agent Kim Reactivated: Saat Pertengkaran Remaja Sukses Guncang Dua Negara
-
Review Film Inglourious Basterds: Dilema Moral dan Balas Dendam Nazi
-
Ulasan Reborn Rich: Fantasi Kesempatan Kedua dan Harga Sebuah Balas Dendam
-
Review The Eyes: Drama Thriller Mencekam tentang Misteri Kematian si Kembar
-
Review Anna: Drama yang Membuktikan bahwa Kebohongan Tak Membawa Ketenangan
Terkini
-
Sekali Duduk Tamat! 7 Rekomendasi Drakor yang Bikin Susah Berhenti Nonton
-
Krisis Kompetensi BGN: Pertaruhan Gizi Anak di Bawah Bayang-bayang Politik
-
Bye Kusam! 4 Micellar Water Licorice untuk Kulit Bersih, Sehat, dan Cerah
-
Review Cek Khodam: Komedi Horor yang Telat Menunggangi Momentum Tren Viral
-
Dubliners: Kisah 15 Cerpen yang Mengungkap Sisi Gelap Kehidupan Dublin