“Permisi, pakeeet!”
Suara akrab dari kurir paket menjadi hal yang kita tunggu-tunggu setelah melakukan belanja online. Suara yang sama seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan yang terasa membahagiakan. Paket datang, kita menyambutnya dengan antusias. Apalagi jika barang yang ditunggu sudah lama masuk keranjang belanja dan akhirnya tiba di depan rumah.
Lantas, ketika benda itu sudah berada di tangan, yang pertama kita lakukan, tentu saja adalah unboxing. Sebuah ritual yang tidak lagi terasa asing di era ketika banyak hal bisa dilakukan secara digital. Dengan penuh semangat, kita membuka kemasan paket yang datang, mulai dari plastik paling luar, lalu kardus, hingga bubble wrap yang membungkus benda yang kita beli. Setelah dapat barangnya, kemasan mulai tersisihkan. Bahkan tak sampai satu jam sejak tiba di rumah, lapisan-lapisan kemasan paket itu sudah berpindah ke tempat sampah.
Iya, seperti itulah yang sering terjadi selama ini. Kebiasaan tersebut masih kerap dilakukan oleh banyak orang. Di mana perhatian kita saat belanja online hanya tertuju pada barang yang kita beli saja. Sementara, kemasan hanyalah kita anggap sebagai pelindung sementara yang sudah kehilangan nilai ketika barang sudah sampai di tangan kita.
Namun, di balik itu, pernahkah kita berpikir bahwa kemasan yang baru saja kita buang itu sebenarnya bisa saja diubah menjadi sesuatu yang bernilai dan memiliki manfaat?
Dalam konten Member Take Over yang diunggah di akun media sosial @yoursay_id, saya membaca teman-teman member berbagi pengalamannya terkait hal ini. Di antara mereka ada yang memanfaatkan kembali kardus paket untuk meletakkan barang-barang, menyimpan bubble wrap dengan rapi agar bisa digunakan lagi lain kali, menggunakan plastik untuk menyimpan dokumen agar tetap aman saat terkena air, bahkan ada pula yang mengubah kemasan paket menjadi kerajinan tangan yang tak hanya mempunyai manfaat, tetapi juga bisa punya nilai jual.
Sedangkan saya pribadi, selama ini hanya menerapkan konsep reuse pada kardus bekas paket. Jika masih layak, kardus tersebut biasanya saya gunakan untuk menyimpan berbagai barang kecil yang mudah tercecer, seperti bros, scrunchie, dan jarum pentul. Sementara untuk plastik dan bubble wrap masuk ke tempat sampah.
Tetapi kemudian, ketika saya sedang mencari bahan untuk menulis artikel ini, saya seolah diingatkan kembali jika kemasan paket yang selama ini saya buang, sebenarnya masih bisa mempunyai nilai. Kardus bisa dikumpulkan dan dijual ke pengepul. Bubble wrap dapat digunakan kembali untuk melindungi barang pecah belah. Sementara plastik kemasan masih bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga.
Jika demikian, mengapa kita masih sering kali memilih buru-buru membuangnya?
Sederhana saja, kemasan paket masih sering dianggap sebagai barang bekas yang kehilangan fungsi begitu barang di dalamnya sudah berada di tangan kita. Sehingga membuangnya pun menjadi pilihan yang dirasa praktis, mudah, dan cepat membuat rumah bersih dari benda yang kita nilai sebagai "sampah". Budaya penggunaan plastik sekali pakai yang sudah menjadi kebiasaan pun turut menjadi faktor yang membuat kita mudah membuang barang-barang yang sudah tidak kita lihat lagi manfaatnya.
Namun demikian, kita juga tidak bisa serta-merta menghakimi orang yang memilih membuang kemasan paket sebagai orang yang tidak mencintai lingkungan. Keterbatasan ruang bisa jadi menjadi alasan mereka segera menyingkirkan barang yang dianggap tidak bermanfaat, alih-alih menyimpannya lebih lama. Ada orang-orang yang tidak suka melihat tumpukan barang bekas di rumahnya. Dan ada pula orang-orang yang tidak memiliki banyak waktu untuk mendaur ulang barang-barang tersebut. Sehingga pilihan mereka adalah membuang atau menjualnya ke pengepul rongsokan.
Di sisi lain, kita pun perlu memahami bahwa memanfaatkan kembali tidak sama dengan menimbun. Kita tidak harus menyimpan semuanya di rumah hingga bertumpuk dan menjadi sarang serangga. Yang bisa kita lakukan adalah dengan memilih yang masih layak dan memungkinkan untuk digunakan kembali. Sementara itu, sisanya bisa didaur ulang. Jika memang tidak sempat, lebih baik dijual ke pengepul daripada dibuang begitu saja ke tempat sampah. Dengan demikian, meskipun memanfaatkan barang bekas, tempat kita tinggal bisa tetap terjaga kebersihannya.
Sekarang mungkin masih banyak orang yang berpikir menggunakan barang sekali pakai lalu membuangnya adalah cara paling praktis. Namun, untuk menjaga bumi kita dari sampah yang berlebih, langkah kecil dari diri kita sendiri sangat bisa dilakukan dengan memulainya dari hal yang paling sederhana. Seperti halnya memanfaatkan kembali kemasan paket untuk dijadikan barang yang bernilai guna.
Sebab tanpa kita sadari, setiap kita membuang kemasan paket, kita sedang menyumbang lebih banyak sampah yang sulit terurai ke bumi dan bisa berakibat fatal untuk lingkungan kita di masa depan. Oleh karena itu, mulai sekarang, sebelum membuang kemasan paket, alangkah baiknya kita berpikir dua kali dan bertanya: apakah benda ini benar-benar sudah tidak berguna, atau hanya belum menemukan manfaat berikutnya?
Tag
Baca Juga
-
Bawa Tas Belanja Sendiri: Langkah Sederhana untuk Memulai Gaya Hidup Less Waste
-
Saat Impian ke Tanah Suci Berujung Nestapa: Di Mana Letak Tanggung Jawab Influencer?
-
Sila Kelima Pancasila: Mengapa Keadilan Masih Terasa Begitu Jauh dari Jangkauan?
-
Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
-
Saat Semua Orang Ingin Didengar, Pancasila Mengajarkan Kita untuk Mendengar
Artikel Terkait
Kolom
-
Bukan Sekadar Salah Kelola: Ada Pola 'Titip Proyek' di Balik MBG?
-
Promo Belanja Tanggal Kembar:Tradisi Baru Kaum Rebahan Buru Diskon Midnight
-
Beras Mahal Menjerit, Beli Rokok Sanggup: Ironi Prioritas Keluarga Indonesia
-
Capek-Capek Eka Kurniawan Masuk Nominasi Man Booker, Saingannya Cuma AU!
-
Checkout Impulsif Tanggal Kembar: Promo 6.6 Datang, Keranjang Belanja Aman?
Terkini
-
3 HP Murah Samsung Paling Laris di Dunia Q1 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
MAMAMOO Ungkap Ikatan Persahabatan yang Kuat di Lagu Terbaru, 4 Flowers
-
Mengupas Lapis-Lapis Makna dalam Buku "Tuhan, Seindah Apa di Hujung Sana?"
-
Menyingkap Jejak Sejarah Kesultanan Ternate dalam Petualangan Matara
-
Tayang di Bioskop, Colony Soroti Upaya Profesor Lawan Virus Zombi