Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Buku Rumah yang Hampir Runtuh (gramedia.com)
Ardina Praf

Memiliki rumah sendiri sering dianggap sebagai simbol keberhasilan hidup. Banyak orang merasa telah “mapan” ketika berhasil membeli rumah, terutama melalui kredit jangka panjang.

Namun, buku Rumah yang Hampir Runtuh karya Agung Setyo Wibowo menunjukkan bahwa mimpi tersebut tidak selalu berakhir indah.

Melalui kisah nyata dan refleksi finansial yang jujur, buku ini mengajak pembaca melihat kembali keputusan-keputusan finansial yang sering dianggap wajar, tetapi sebenarnya bisa menjadi sumber masalah dalam kehidupan.

Buku ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis ketika memutuskan mengambil KPR selama 15 tahun di usia muda.

Saat itu, keputusan tersebut terasa membanggakan. Memiliki rumah dianggap sebagai bukti bahwa hidup sudah berada di jalur yang benar.

Namun, keadaan berubah drastis ketika penulis mengalami PHK setahun setelah mengambil cicilan rumah.

Cicilan yang awalnya terasa ringan tiba-tiba berubah menjadi beban besar. Kondisi finansial yang goyah mulai memengaruhi kehidupan rumah tangga.

Pertengkaran dengan pasangan menjadi lebih sering terjadi, sementara rasa bersalah kepada keluarga terus menghantui. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman justru berubah menjadi sumber kecemasan.

Melalui pengalaman tersebut, penulis kemudian mengajak pembaca melihat fenomena yang lebih luas. Ia membahas bagaimana banyak orang terjebak dalam utang tanpa benar-benar menyadarinya.

Mulai dari KPR, kartu kredit, pinjaman online, hingga sistem paylater yang terlihat praktis, semuanya bisa menjadi jerat finansial yang perlahan mengikis ketenangan hidup.

Buku ini juga mengaitkan persoalan tersebut dengan nilai-nilai spiritual, termasuk ayat Al-Qur’an dan doa Nabi, sebagai pengingat agar manusia lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.

Salah satu keunikan buku ini adalah pendekatannya yang sangat personal. Alih-alih hanya menyajikan teori tentang keuangan atau bahaya utang, penulis memilih bercerita melalui pengalaman hidupnya sendiri.

Hal ini membuat pembaca merasa lebih dekat dengan cerita yang disampaikan.

Selain itu, buku ini tidak hanya membahas aspek finansial secara praktis, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai spiritual dan moral.

Penulis menunjukkan bagaimana keputusan ekonomi seseorang tidak hanya berdampak pada kondisi materi, tetapi juga pada ketenangan batin dan keharmonisan keluarga.

Keunikan lainnya adalah cara buku ini memotret fenomena sosial yang sangat relevan dengan kehidupan modern.

Banyak orang saat ini terdorong untuk terlihat sukses secepat mungkin, termasuk dengan memiliki rumah, kendaraan, atau gaya hidup tertentu.

Buku ini menjadi semacam cermin yang mengajak pembaca untuk bertanya kembali: apakah semua itu benar-benar kebutuhan, atau hanya tekanan sosial semata.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini tergolong sederhana, reflektif, dan mudah dipahami. Penulis menggunakan narasi yang terasa seperti curahan pengalaman pribadi, sehingga pembaca dapat merasakan emosi dan kegelisahan yang dialaminya.

Bahasa yang digunakan tidak terlalu teknis seperti buku keuangan pada umumnya. Sebaliknya, penulis lebih banyak menggunakan pendekatan cerita dan perenungan.

Hal ini membuat buku ini nyaman dibaca oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan finansial.

Selain itu, penulis juga menyisipkan kutipan nilai-nilai keagamaan yang memperkuat pesan moral dalam buku.

Perpaduan antara kisah nyata, refleksi hidup, dan pesan spiritual membuat buku ini terasa lebih mendalam dibandingkan sekadar buku motivasi finansial biasa.

Pesan utama dari buku ini adalah pentingnya kesadaran dalam mengambil keputusan finansial. Banyak orang terjebak dalam utang karena ingin memenuhi standar hidup tertentu atau karena tergoda oleh kemudahan sistem kredit.

Buku ini mengingatkan bahwa utang tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan keluarga, bahkan ketenangan spiritual seseorang. Oleh karena itu, setiap keputusan finansial perlu dipikirkan dengan matang.

Melalui kisahnya, penulis juga mengajak pembaca untuk kembali menata hidup dengan lebih bijak. Hidup yang tenang tidak selalu identik dengan kepemilikan materi yang banyak.

Justru, kebebasan dari jerat utang dan hidup dalam ridha Tuhan menjadi bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, Rumah yang Hampir Runtuh bukan hanya kisah tentang kesulitan ekonomi, tetapi juga perjalanan refleksi tentang makna rumah, keluarga, dan keberkahan dalam hidup.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS