Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
From Zero to Survive (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Buat yang mengikuti perjalanan Theo Derick dari Instagram sampai podcast, momen ketika ia merilis buku From Zero to Survive rasanya seperti ada rasa bangga, ada juga rasa penasaran. Seperti apa sih isi kepala seseorang yang selama ini kita dengar suaranya, tapi kini dituangkan dalam bentuk tulisan?

Antusiasme itu yang bikin banyak orang rela datang langsung ke toko buku. Secara tampilan, buku ini memang menarik. Hardcover dengan desain minimalis dan kesan timeless membuatnya terlihat elegan. Jujur saja, ini tipe buku yang enak dipajang di rak. 

Isi Buku

Dari segi isi, buku ini adalah rangkuman perjalanan hidup Theo. Tentang bagaimana ia memulai dari nol, tanpa privilege, dengan kondisi yang jauh dari ideal. Ia bercerita tentang perjuangan bertahan hidup, tentang tekanan sebagai bagian dari sandwich generation, dan tentang bagaimana ia perlahan belajar menerima hidup.

Yang menarik, lewat buku ini kita bisa melihat sisi Theo yang lebih terbuka atau bahkan mungkin lebih rapuh. Ada luka yang terasa nyata, ada beban yang selama ini mungkin hanya tersirat di kontennya. Di titik ini, buku ini terasa jujur.

Cara penyampaiannya buku ini pun terasa mirip. Seolah kita sedang mendengar Theo berbicara, hanya saja dalam bentuk tulisan.

Hal ini membuatnya jadi mudah dibaca dan terasa akrab. Tapi di sisi lain, ekspektasi untuk menemukan sesuatu yang lebih dalam atau lebih detail jadi sedikit tidak terpenuhi.

Meski begitu, tetap ada banyak insight yang bisa dipetik. Salah satunya soal percaya pada proses. Theo mengingatkan bahwa kita hanya bisa mengontrol usaha, bukan hasil. Sisanya adalah urusan Tuhan.

Ada juga hal menarik tentang sesuatu yang jarang kita lakukan, Theo mengajak kita melihat kekurangan sebagai peluang. Bahwa sesuatu yang kita anggap lemah, bisa jadi kekuatan, asal cara pandangnya diubah.

Hal lain yang cukup ditekankan adalah kebiasaan kecil, terutama dalam keuangan. Bahkan saat kondisi masih pas-pasan, membangun habit yang baik dianggap jauh lebih penting daripada menunggu “nanti kalau sudah punya uang lebih”.

Dan yang paling relate: soal momentum. Theo percaya bahwa kesempatan tidak datang begitu saja ke semua orang tapi datang ke mereka yang sudah siap. Jadi fokus utamanya bukan mengejar kesempatan, tapi mempersiapkan diri.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu bagian paling berkesan dari buku ini adalah analogi tentang pulpen. Pulpen tidak disebut sukses karena mahal atau keren, tapi karena bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Menulis lancar, dipakai banyak orang, dan bahkan direkomendasikan. Sederhana, tapi kena. Karena pada akhirnya, “berfungsi dengan baik” itu lebih penting daripada sekadar terlihat hebat.

Ketika membuka buku ini, ada satu hal yang langsung terasa: buku ini tipis. Dengan sekitar 115 halaman dan cukup banyak bagian yang diisi ilustrasi atau kutipan satu halaman penuh. Buku ini bisa selesai dibaca dalam satu sampai dua kali duduk.

Buat sebagian orang, ini menyenangkan. Tapi buat yang datang dengan ekspektasi tinggi, mungkin akan ada sedikit rasa kecewa. 

Kalau kamu belum banyak mengikuti konten Theo, buku ini bisa jadi pintu masuk yang ringan dan inspiratif. Tapi kalau kamu sudah cukup familiar, mungkin buku ini akan terasa seperti rangkuman podcast Theo Derick dalam bentuk tulisan. 

Identitas Buku

  • Judul: From Zero to Survive (Seni Menang dalam Hidup dengan Realistis) 
  • Penulis: Theo Derick
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tahun Terbit: 2025
  • Jumlah Halaman: 115 halaman
  • Genre: Non-fiksi, Self-improvement, Pengembangan Diri