Pernahkah kita merasa bahwa dunia ini begitu ramai, tetapi terasa begitu sunyi? Rasanya seperti berdiri di tengah keramaian, tetapi tidak ada satu suara pun yang benar-benar menyentuh hati. Saat membaca baris demi baris puisi dalam buku “Di Hadapan Rahasia” karya Adimas Immanuel, untuk pertama kalinya saya merasa bahwa kesunyian itu dimengerti.
Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Januari 2020 ini bukan sekadar kumpulan kata puitis biasa. Lebih dari itu, ia adalah ruang aman bagi siapa pun yang sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang eksistensi, kerapuhan, dan tentu saja, rahasia-rahasia kecil yang kita sembunyikan dari dunia.
Di era modern yang serba terbuka, menjaga kesehatan mental sering kali terasa seperti menyembunyikan ribuan rahasia sekaligus. Lalu, bagaimana buku ini bisa menjadi teman perjalanan kita?
Terdiri dari 112 halaman, buku ini memuat 70 puisi yang sangat kaya makna. Keunikannya tidak hanya terletak pada diksi-diksi puitis Adimas, tetapi juga pada proses kreatifnya. Sebagian besar puisinya lahir dari interpretasi pribadinya terhadap lukisan-lukisan klasik dunia dan alunan musik.
Buku puisi “Di Hadapan Rahasia” adalah perwujudan dari pesan bahwa seni lainnya (lukisan dan musik) bisa divisualisasikan kembali menjadi puisi yang menggetarkan jiwa.
Dari segi bahasa, Adimas memang tidak main-main. Ia menyuguhkan diksi dengan level tinggi yang secara cerdas menciptakan metafora berlapis yang membuat kita harus berhenti sejenak, menarik napas, lalu merenung.
Ada kepiawaian dalam memperkenalkan kosakata seperti “kelindan” atau “taswir” yang membuat kita ikut belajar sambil menikmati estetika. Sapardi Djoko Damono pun pernah menyebut bahwa buku ini adalah bagian penting dari sikap seorang modernis dalam sastra Indonesia.
Terdapat keunikan gaya bahasa dalam kumpulan puisi ini, saat kita membacanya terasa begitu intim dan personal. Seperti yang diungkapkan oleh penyanyi sopran Mariska Setiawan mengutip dari laman Kompas, seorang kolaborator Adimas dalam peluncuran resital piano bersama Ananda Sukarlan di tahun 2016, puisi-puisi Adimas memiliki atmosfer yang begitu personal. Ada rasa yang sangat jujur, namun ditutupi oleh pola kata yang rapi.
Membaca puisi ini seperti memahami makna makna serta situasi yang berbeda-beda, lalu semakin dalam akan menemukan lapisan emosi yang dapat bikin kita tersadar.
Salah satu kekuatan terbesar Adimas adalah kemampuannya mengajak pembaca untuk menginterpretasikan makna yang berbeda-beda. Sebab, setiap orang menghadapi rahasia dan kepedihan dengan cara yang berlainan.
Mengapa buku ini penting untuk diketahui dan dibaca, terutama bagi mereka yang peduli pada kesehatan mental? Di tengah berbagai tekanan psikologis yang terjadi kita membutuhkan media yang tidak hanya informatif, namun juga terapeutik. Membaca puisi-puisi Adimas memberikan efek katarsis sebagai sebuah pelepasan emosi yang terpendam.
Buku ini menjadi tempat di mana kita bisa “bertemu” dengan luka orang lain, dan menyadari bahwa kerapuhan manusia itu universal. Berikutnya buku ini juga dapat menarik para pembaca hingga pembaca memahami adanya pelukan hangat dari kata-kata di buku tersebut.
Buku Adimas Immanuel memiliki ciri khas yang kuat, serta menawarkan jiwa yang lelah bisa berteduh dan mendapatkan semangat nya kembali. Sekaligus mengajak kita untuk mempertanyakan hidup alih-alih melarikan diri darinya.
Salah satu puisi menjadi jembatan antara pembaca dan dunia rahasia adalah "Ketika Kau Mulai Membaca". Terletak di halaman 62, puisi ini sebagai momen kekuatan kata-kata pada kita.
Makna salah satu puisi ini berada di bait 'dan mulai membaca keragauanku' serta bait 'seolah percaya cuma aku yang tahu', kedua bait ini membawa diri sendiri saling mempercaya satu sama lain atas keraguan yang ada. Lalu kepercayaan yang timbul karena sudah terbaca dari sebuah keraguan menjadi tahu tentang diri sebenarnya.
Salah satu puisi yang ada di buku ini sebagai interpretasi bahwa banyak hal di luar kendali kita, tapi membaca sebuah keraguan dapat memahami atau mengakui arti rasa kenyamanan dan percaya serta memahami satu sama lain dan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Setelah membaca semua puisi nya, kita merasakan rasa rendah hati. Buku ini memikirkan kembali setiap kehidupan dengan segala kerumitannya dan hal tersebut sebagai kunci ketahanan mental.
Dampak nyata baca buku ini, tumbuhnya kesadaran bahwa kita tidak harus memiliki jawaban untuk semuanya dan merasa kecil di hadapan rahasia adalah hal yang manusiawi.
Buku ini cocok untuk pecinta sastra dan memahami rasa rendah hati, kepercayaan, dan ingin belajar berdamai dengan sisi gelap pada diri sendiri.
Identitas Buku:
Judul: Di Hadapan Rahasia
Judul Asli: Di Hadapan Rahasia
Penulis: Adimas Immanuel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Januari 2020
Tebal: 112 halaman
ISBN: 9786020324814
Genre: Sastra Puisi
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Menjadi 'Pemantik Api' Diri Sendiri dalam Buku The Fire Starter Sessions
-
Menyusuri Gelap Kota di Taksi Malam: Antara Realita dan Moral yang Rapuh
-
Ketika Waktu Memanggil: Cinta yang Tersesat di Medan Perang Sarajevo 1993
-
Misteri Ringan dan Hangat: Catatan dari Toko Barang Bekas yang Mencurigakan
-
Kesan Buya Hamka Berkunjung di Irak lewat Buku Di Tepi Sungai Dajlah
Ulasan
-
Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
-
Buku 'Rumah Baru dan Hal-Hal Baru', Makna Besar tentang Rumah dan Masa Lalu
-
Buku Esai Sayup Sunyi Suara Kata: Catatan dari Pinggiran Ruang Kelas
-
Kisah 13 Anak dan Dunia Penuh Kehangatan di Novel "Angin dari Tebing 1"
-
Membaca Perjalanan Mustahil Samiam: Sebuah Petualangan Mencari Akar yang Mengusik Logika
Terkini
-
Niatnya Go Green Pakai Wadah Sendiri, Eh Malah Kena 'Pajak' Tak Terduga
-
Siswa SMK Bukan Hanya Calon Tenaga Kerja, Tapi Juga Anak yang Perlu Dijaga
-
Cerita Lebih Ringkas, Remake Anime One Piece Garapan Wit Studio Tayang 2027
-
Di Era Flexing, Hidup Sederhana Malah Terlihat Memalukan
-
Stop Buang Sampah di Jalan, Kesadaran itu Perlu!