Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring adalah buku psikologi karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, seorang psikiater yang juga dikenal suka bercanda. Buku ini berisi pengalaman pribadinya dalam menghadapi kehilangan anak dan ayahnya. Sebagai seorang psikiater, ia memahami berbagai teori duka yang dipelajari selama kuliah dan diterapkan kepada pasien.
Namun, ketika hal itu terjadi pada dirinya sendiri, semua teori tersebut terasa tidak lagi berguna. Buku ini penuh dengan paradoks dan pertentangan dalam hidup. Dari judulnya saja sudah menimbulkan rasa penasaran—pria kok berduka, dan berduka kok mencuci piring, memang ada hubungannya?
Buku ini menggambarkan situasi berduka—sesuatu yang abstrak—dengan analogi yang mudah dipahami. Penggambaran duka dijelaskan begitu detail, mulai dari detik pertama hingga bertahun-tahun setelah kehilangan. Intinya, buku ini seperti “tutorial” untuk mempersiapkan diri menghadapi duka yang kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi. Bahkan hal sederhana seperti mencuci piring—yang sering kali dianggap sepele atau bahkan dibenci—diangkat menjadi refleksi yang selaras dengan proses berduka itu sendiri.
Buku ini diawali dengan bab “Selamat Datang di Klub Berduka” beserta aturan-aturannya. Duka tidak harus selalu karena kehilangan seseorang, dan tidak boleh dibanding-bandingkan. Setiap kehilangan memiliki sisi unik dan rasa sakit masing-masing. Tujuannya adalah saling memahami, bukan saling mengunggulkan siapa yang lebih besar dukanya. Bahkan seseorang yang kehilangan ikan koi atau anabul sekalipun tidak bisa dianggap berlebihan.
Kemudian, pada bab “24 Jam Pertama”, dijelaskan secara detail apa yang terjadi dalam kurun waktu tersebut, termasuk berbagai emosi yang muncul. Pada fase ini, seseorang biasanya merasa bingung karena menyadari bahwa hidupnya akan berubah. Tidak jujur rasanya jika seseorang hanya merasakan sedih saat kehilangan orang yang telah lama sakit. Ada pula perasaan lega karena tidak lagi harus menjaga, begadang, atau menyaksikan penderitaan orang tersebut. Emosi yang muncul adalah campuran antara sedih dan lega—sebuah “roller coaster” emosi.
Bab selanjutnya membahas anggapan “jangan menangis saat berduka”, terutama bagi pria yang dituntut terlihat kuat. Menangis sering dianggap membuat almarhum tidak tenang. Padahal, manusia seharusnya boleh mengekspresikan emosi alaminya. Melabeli emosi sebagai positif atau negatif pun tidak selalu tepat. Misalnya, rasa senang (yang dianggap positif) tidak tepat jika muncul saat orang lain mengalami musibah. Begitu pula sebaliknya. Selain itu, ungkapan “semoga diganti dengan yang lebih baik” juga terasa kurang tepat, karena orang yang telah meninggal memiliki tempat tersendiri di hati, bukan untuk digantikan atau dilupakan.
Selanjutnya terdapat bab “Tutorial Mencuci Piring” yang menjadi inti filosofi judul buku ini. Diceritakan bagaimana kronologi meninggalnya sang anak yang lama-kelamaan terasa “biasa” untuk diceritakan, berbeda dengan awal kejadian yang penuh sesak dan air mata. Ketika banyak pelayat datang dan menanyakan hal yang sama, pada akhirnya jawaban pun menjadi singkat. Keinginan untuk “merekam cerita” agar tidak perlu mengulanginya muncul, tetapi sebenarnya yang dibutuhkan pelayat bukan sekadar cerita, melainkan koneksi emosional langsung dengan orang yang berduka.
Bab “Tenang Saja, Kamu Pasti Menyesal” terdengar paradoks. Isinya membahas penyesalan, baik dari pasien maupun dari pengalaman pribadi. Manusia memang membutuhkan penyesalan sebagai bagian dari emosi alami, sama seperti senang dan sedih. Salah satu contohnya adalah keputusan sulit terkait penandatanganan DNR (Do Not Resuscitate). Menambah detak jantung mungkin memperpanjang hidup beberapa menit, tetapi juga bisa menambah penderitaan.
Salah satu bagian yang menarik adalah ketika ayahnya meninggal sebelum momen wisudanya. Saat itu, dr. Andreas sempat berpikir bahwa waktunya belum tepat—mengapa harus sekarang? Namun, jika dipikir kembali, sebenarnya tidak akan pernah ada waktu yang benar-benar tepat untuk seseorang meninggal. Selalu saja terasa “tanggung”: belum menikah, belum melihat cucu, atau masih ada banyak hal yang belum selesai. Pada akhirnya, kematian tidak menunggu kesiapan manusia.
Bab “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak” menjadi bagian yang paling menggetarkan. Diceritakan sejak kelahiran anaknya yang memiliki kelainan saraf kranial yang memengaruhi pancaindra hingga kemampuan menelan. Sebagai seorang psikiater, ia memahami teori penerimaan, tetapi di sini ia benar-benar mempraktikkannya. Dalam detik-detik terakhir selama sekitar tiga puluh menit, ia hadir sepenuhnya, sadar, dan menghitung detak jantung anaknya yang semakin menurun—sesuatu yang jarang dialami orang lain dengan kesadaran penuh.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Buku ini memiliki kelebihan dalam menggambarkan duka secara detail dan realistis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Analogi sederhana seperti mencuci piring membuat hal yang abstrak terasa dekat, serta penyampaian emosi yang jujur menjadikan buku ini relevan untuk banyak orang.
Tidak ada karya yang sempurna, bahkan buku best seller sekalipun. Satu hal yang kurang saya setujui terdapat pada bab awal yang menyarankan “mengutuklah jika perlu”. Menurut saya, hal ini sudah melewati batas, terutama dalam sudut pandang agama, apalagi jika sampai mengutuk takdir Tuhan. Nabi pun berduka dan menangis ketika kehilangan putranya, tetapi tidak sampai pada tindakan berlebihan seperti mengutuk atau melampiaskan emosi secara ekstrem. Bagi saya, hal tersebut tidak bisa dinormalisasi.
Identitas Buku
- Judul: Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
- Penulis: Andreas Kurniawan
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-12, April 2023
- ISBN: 978-602-06-7468-1
Baca Juga
-
Bukan Anak Bungsu Biasa: Menilik Rahasia Kekuatan Amelia di Si Anak Kuat
-
Dusta Indah dan Doa yang Nyata: Mengenal Sosok Ibu dalam Karya Kang Maman
-
Cinta Suci Nadia: Saat Kesalehan Diuji oleh Masa Lalu yang Kelam
-
Harga Sebuah Percaya: Mengapa Cinta Tak Cukup Hanya Dititipkan dalam Doa?
-
Lima Sekawan Nyaris Terjebak: Tragedi Salah Target yang Berujung Petualangan Mencekam
Artikel Terkait
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
-
Review Rumah Kaca: Akhir Tragis Perjuangan Minke di Tangan Pangemanann
-
5 Parfum Pria yang Awet dan Segar, Cocok Dipakai saat Silaturahmi Lebaran
-
Bebas Bau Badan Seharian! 5 Deodoran Pria Tahan Lama untuk Hari Raya
-
Wangi Mewah di Minimarket! 7 Rekomendasi Parfum Pria Indomaret yang Tahan Lama
Ulasan
-
Novel Orang-Orang Proyek: Menguak Sisi Gelap Pembangunan Jembatan
-
Harga Sebuah Ego, Menggugat Lenyapnya Nyawa di Novel Bulan Karya Tere Liye
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
-
Dari Rumah Penuh Konflik ke Puncak Kesuksesan: Transformasi Jennifer Lawrence di Film Joy
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
Terkini
-
RM BTS Sampaikan Terima Kasih dan Permintaan Maaf usai Konser ARIRANG
-
Panduan Lengkap: Dari Keringkan Sampai Jadi Bubuk, Cara Mengolah Bunga Telang di Rumah
-
Bibir Kering dan Pecah-Pecah? Ini 4 Lip Serum Vitamin E yang Layak Dicoba
-
FIFA Series 2026: John Herdman Pertebal Dinding Pertahanan Timnas Indonesia
-
Tayang 2026, Film Witch on the Holy Night Garapan ufotable Rilis First Look