Lintang Siltya Utami | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Buku Puisi Sergius Mencari Bacchus Karya Norman Erikson Pasaribu (Dok pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Bagaimana perasaan kita di tengah orang-orang yang disayangi, dicintai, tapi terasa asing? Membawa rahasia yang begitu berat hingga napas terasa seperti beban? Saya merasakannya saat memikiran arah hidup setelah lulus SMA akan bekerja atau kuliah, saat itu berpikir sendirian di kamar, diterangi lampu yang redup. Rasa sunyi yang datang sering kali tak bertuan.

Bisa saja saya beritahu kalau ingin kuliah, tapi saya berpikir biaya kuliah akan mahal. Hal ini ibarat memendam sesuatu yang dalam, bisa saja beritahu ke orang yang kita sayangi, tapi terasa asing sebab tidak mau menjadi beban. Di tengah kegelapan pikiran tersebut saya melihat sebuah buku tipis bercover putih berada di depan saya.

Buku puisi Sergius Mencari Bacchus Karya Norman Erikson Pasaribu terdiri 70 halaman puisi, yang akan menjadi seperti teman bicara di malam-malam paling sepi. Puisi-puisi di dalamnya terasa personal, seolah hanya Norman yang bisa merasakan dan menuangkannya, sekaligus begitu empatik sehingga kejujuran tentang rasa kesepian dan keterasingan dapat menjadi teman bagi siapa pun yang mengalami hal serupa.

Sebagai pecinta sastra, membaca buku Sergius Mencari Bacchus dengan kumpulan 33 puisinya yang berasal dari Jakarta, buku ini juga menjadi pemenang Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Kemudian menjadi finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, sekaligus dinobatkan sebagai salah satu kumpulan puisi terbaik tahun itu versi Tempo.

Buku ini begitu luar biasa, karena berkualitas internasional, karya dari sastrawan Norman yang menerima Sastrawan Muda Asia Tenggara 2017, menjadi Harvard University Asia Center’s Artist in Residence 2023-2024, dan 2025 fellow of Berliner Künstlerprogramm dari DAAD.

Membahas buku ini bisa dimulai dari keunikan tersendiri, yakni terletak pada bentuk puisinya. Norman mendobrak pakem puisi Indonesia yang biasanya disajikan dalam larik pendek, menghadirkan puisi-puisi naratif panjang. Beberapa puisi mencapai 2-3 halaman, satu puisi berjudul Ragam-Macam Payung Beserta Karakteristiknya mencapai 16 halaman.

Pendekatan yang digunakan sangat multidimensional. Buku dari kumpulan sajak ini menjadikan “keberadaan” atau “eksistensi” bahwa pada akhirnya, sesungguhnya tidak ada satu pun manusia yang sama, dan yang perlu adalah memahami keberadaan setiap insan.

Puisi-puisi Norman sebagai spiritual, tapi selalu realistis, namun selalu peka akan kesetaraan hubungan. Kemudian buku ini juga kontribusi signifikan terhadap debat publik tentang kebudayaan, kebangsaan, dan identitas.

Salah satu puisi yang paling menggetarkan adalah Curriculum Vitae. Berkisah tentang seorang anak yang sejak kecil dijauhi keluarganya karena dianggap “berbeda.” Ia tumbuh dengan luka yang tak terobati, berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya. Di sini, Norman tidak sedang memprovokasi. Ia sedang membuka ruang bagi setiap manusia yang pernah merasa asing di rumahnya sendiri.

Pertanyaan eksistensial seperti “Mengapa aku ada?” dan “Untuk apa aku hidup?” menjadi benang merah. Norman tidak memberikan jawaban instan. Justru dengan jujur, ia menunjukkan bahwa proses mencari eksistensi adalah perjalanan yang panjang, kadang menyakitkan, tetapi patut dijalani.

Salah satu aspek paling istimewa dari buku ini adalah caranya berbicara tentang doa. Bukan doa yang manis dan terkabul, melainkan doa yang menggantung, doa yang tampaknya tak pernah didengar. Norman yang berlatar Batak dan Kristen secara terbuka mengakui bahwa tulisannya adalah bagian dari pergulatan iman yang jujur.

Dalam puisinya, doa tidak selalu membawa ketenangan. Kadang doa adalah teriakan, kadang adalah diam yang panjang. Namun yang membuat berani adalah tetap berdoa meskipun belum pernah menerima jawaban. Keberanian ini mengajarkan bahwa spiritualitas sejati bukan tentang hasil, melainkan tentang ketekunan untuk tetap terhubung dengan Yang Kuasa atau setidaknya dengan diri sendiri.

Buku ini berbicara tentang bagaimana kesehatan mental memengaruhi kehidupannya di Jakarta dan bagaimana ia beradaptasi. Menulis bukan sekadar menuangkan kata, tetapi sebuah ritual penyembuhan.

Membaca puisinya adalah sebuah perjumpaan dengan pengakuan bahwa tidak ada satu pun manusia sendirian dalam penderitaannya. Setiap bait yang menggambarkan kegelisahan, kecemasan, atau rasa hampa, seolah mengulurkan tangan bahwa “Kau tidak sendiri.” Dalam dunia yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, buku ini menjadi semacam terapi sastra yang menerima segala bentuk kerapuhan manusia.

Pertama, karena buku ini berani jujur. Di tengah budaya yang sering menuntut kita untuk tampak sempurna, Norman justru memamerkan bagian-bagian yang retak. Kedua, buku ini mengajarkan empati tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Ketiga, buku ini menjadi bukti bahwa puisi tidak hanya untuk kalangan sastrawan; ia bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang mencari makna.

Kerapuhan bukanlah kelemahan. Bahwa kegagalan, luka, dan doa-doa yang tak terjawab adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menjadi diri yang utuh. Buku ini mengajarkan bahwa keberanian sejati bukanlah saat kita sempurna, melainkan saat kita tetap berdiri meski telah terjatuh berkali-kali, inilah makna terdalam yang disampaikan pada buku puisi ini.