Ekspektasi tinggi otomatis muncul ketika ada film memakai label ‘bab terakhir’. Kita membayangkan sesuatu yang besar, emosional, dan terasa final dengan klimaks yang merangkum perjalanan panjang dengan memuaskan. Namun, saat nonton film Danur: The Last Chapter, yang terasa justru hal sebaliknya. Yup, ini bukan penutup cerita yang megah, tapi cerita yang terasa kecil, mungil, mini, lemah dari seharusnya.
Film ini kembali disutradarai Awi Suryadi dan diproduksi MD Pictures, dengan Prilly Latuconsina sebagai Risa, Zee Asadel sebagai Riri, serta Anya Zen sebagai Canting.
Secara garis besar, film ini melanjutkan kisah setelah Sunyaruri, ketika Risa memilih menutup kemampuan supranaturalnya dan mencoba hidup normal sebagai PNS. Namun, ketenangan itu terganggu ketika adiknya mulai menunjukkan perilaku aneh, dan Risa kembali terseret ke dalam pengalaman mistis. Kali ini dengan kemampuan baru, yakni merasakan langsung kematian para arwah.
Sekilas kisahnya sebenarnya punya fondasi yang menarik. Bahkan bisa dibilang cukup kuat untuk jadi penutup cerita dari film yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Ada konflik personal, ada ancaman baru, dan ada peluang eksplorasi emosional yang lebih dalam. Sayangnya, film ini tidak benar-benar memanfaatkan potensinya untuk jadi sesuatu yang lebih besar.
Salah satu alasan utama kenapa film ini terasa ‘kecil’ adalah skala ceritanya yang terlalu terbatas. Sebagai penutup dari waralaba panjang, aku berharap ada rasa konsekuensi yang lebih luas. Misalnya, keterkaitan yang lebih kuat dengan film-film sebelumnya, atau konflik yang terasa sebagai akumulasi dari semua kejadian yang pernah dialami Risa. Namun, yang terjadi di sini lebih kayak kasus baru yang berdiri sendiri.
Hubungannya dengan masa lalu ada, tapi tidak cukup kuat memberikan rasa klimaks yang utuh. Alih-alih menjadi puncak perjalanan, film ini terasa seperti epilog yang berdiri di samping cerita utama.
Hal lain yang membuatnya terasa kurang besar adalah pola penceritaannya yang repetitif. Sepanjang film, aku melihat struktur yang terus diulang: Risa mendapat penglihatan, merasakan kematian seseorang, lalu kembali ke realita. Siklus ini berjalan berkali-kali tanpa perkembangan signifikan. Akibatnya, ketegangan yang seharusnya meningkat malah jadi flat begitu saja. Tak ada eskalasi yang benar-benar terasa, padahal dalam sebuah ‘final chapter’ eskalasi adalah kunci.
Padahal, konsep ‘merasakan kematian’ punya potensi luar biasa. Ini bisa jadi pintu masuk ke horor yang lebih emosional, bahkan tragis. Hantu tak lagi sebatas entitas yang menakutkan, tapi juga korban yang ingin didengar. Sayangnya, pendekatan ini tidak digali cukup dalam.
Film ini tetap kembali pada pola horor pasaran. Yup, suasana dibangun, karakter berjalan, lalu muncul penampakan. Di titik ini, terasa jelas film ini terlalu bermain aman.
Dari sisi antagonis, kehadiran Canting sebenarnya dimaksudkan sebagai ancaman baru. Namun, dibandingkan figur-figur sebelumnya dalam semesta Danur, karakter ini kurang memiliki daya ikat yang kuat. Desainnya yang cenderung klise membuatnya sulit meninggalkan kesan mendalam.
Untuk ukuran film terakhir (penutup), seharusnya kita mendapatkan sosok yang benar-benar ikonik, bukan sebatas tambahan dalam daftar antagonis.
Kesan ‘kecil’ ini juga terasa dalam klimaksnya. Film ini terburu-buru mencapai garis akhir tanpa memastikan perjalanan menuju ke sana terasa maksimal.
Terlepas dari itu, film ini menunjukkan kualitas yang tidak bisa dianggap remeh. Gaya visual khas Awi Suryadi masih terasa kuat. Pergerakan kamera yang dinamis, sudut pengambilan gambar yang kreatif, hingga penggunaan refleksi sebagai elemen visual. Semua ini mempertegas secara teknis film ini solid. Ironisnya, tidak diimbangi dengan keberanian dalam bercerita.
Dengan ini jelas, film Danur: The Last Chapter terasa puas hanya dengan berada di zona nyaman. Sebagai penutup, tidak ngasih rasa ‘akhir’ yang benar-benar kuat. Ini ibarat sebatas ucapan selamat tinggal yang singkat, tanpa perpisahan yang membekas.
Sudahkah Sobat Yoursay nonton film-film edisi Lebaran 2026? Jika belum, coba saja nonton film Danur: The Last Chapter. Ini bukan film yang buruk, hanya saja, kamu harus menurunkan sedikit ekspektasi. Selamat nonton, ya.
Baca Juga
-
Film Peaky Blinders: The Immortal Man, Lebih Personal Kendati Melelahkan
-
Na Willa, Film yang Berhasil Bikin Orang Dewasa Merasa Jadi Anak Kecil Lagi
-
Ukuran Monster di Troll 2 Tambah Gede, tapi Ceritanya Kok Jadi Jinak?
-
Pelangi di Mars, Ketika Film Anak Gagal Memahami Anak
-
Iron Lung, Teror Kosmik dari Ruang Sempit yang Menghimpit
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sekecil Apapun Mimpi, Ia Patut Diperjuangkan: Membaca Novel Nonik Jamu
-
Di Persimpangan Warna dan Ideologi: Riwayat Sunyi Seorang Anak Tanah Air
-
Potret Keteguhan dari Lereng Gunung di Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
-
Menjemput Jawaban di Atas Kapal Blitar Holland: Ulasan Novel "Rindu"
-
Review Novel Komet Minor Tere Liye Ungkap Rahasia Gelap Orang Tua Ali
Terkini
-
Skip Jakarta! Irene Red Velvet Umumkan Jadwal Tur Asia Pertama 'I Will'
-
BTS Guncang Netflix! Konser Comeback ARIRANG Raih 18,4 Juta Penonton dalam 24 Jam
-
Deep Clean & Soothe: 4 Cleanser Allantoin yang Menjaga Kelembapan
-
Hyunjung Rolling Quartz Alami Cedera akibat Perkelahian, Agensi Minta Maaf
-
Studio Dragon Sulap Drama Korea Jadi Musikal, Ada Crash Landing on You