M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi cerpen Cinta yang Mengalah dan Luka yang Tertinggal (Gemini AI/Nano Banana)
Fathorrozi 🖊️

Aku masih ingat betul aroma obat yang mengendap di setiap sudut rumah kami. Pekat, pahit, dan tak pernah benar-benar pergi. Bau itu seperti kenangan yang menolak dilupakan, menempel di dinding, di sela-sela sprei, bahkan meresap ke dalam napasku. Di kamar depan yang dulu hangat oleh tawa, kini hanya tersisa suara detak jam dan helaan napas yang kian pelan.

Di sanalah Munawarah, istriku, berbaring. Tubuhnya tak lagi seperti dulu. Ringkih, seolah waktu menggerogotinya perlahan. Namun, senyumnya tak pernah berubah. Senyum itu masih sama seperti saat pertama kali ia menyambutku dengan teh hangat di sore yang sederhana.

“Kalau nanti kamu menikah lagi, aku tidak apa-apa,” katanya suatu malam, suaranya tipis seperti helaian benang yang hampir putus.

Aku menatapnya lama. Kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke danau tenang dalam dadaku. “Jangan bicara begitu. Aku masih punya kamu.”

Munawarah hanya tersenyum. Senyum yang tak pernah bisa kuterjemahkan sepenuhnya. “Aku tahu batas tubuhku. Aku hanya ingin kamu tetap hidup seperti biasa.”

Sejak malam itu, kalimatnya tinggal seperti gema yang tak pernah benar-benar hilang. Ia mengendap, mengganggu, dan pada akhirnya mengalahkanku, hingga aku menikah lagi.

Janah datang ke hidupku seperti musim yang berbeda. Ia muda, cantik, dan hidup. Tangannya cekatan, tutur katanya lembut, dan ada kehangatan yang sempat lama hilang dari hari-hariku. Ia membawa warna baru, meski di dalam hatiku, warna lama belum pernah benar-benar pudar.

Seminggu setelah pernikahan, aku membawanya pulang. Rumah yang sama. Rumah yang dulu penuh cinta, kini menjadi medan pertemuan dua rasa yang saling bertabrakan.

“Ini rumah sederhana,” kataku, mencoba terdengar biasa.

Janah mengangguk pelan. “Yang penting, kita saling menjaga di dalamnya.”

Aku ingin percaya itu cukup.

Kami masuk. Kamar depan masih seperti sebelumnya. Sunyi dan beraroma obat. Munawarah menoleh saat kami mendekat. Matanya menangkap sosok Janah, dan untuk sesaat, waktu seperti berhenti.

“Munawarah…” suaraku tercekat, “Ini Janah.”

Tak ada kata. Hanya tatapan panjang yang terasa seperti pertanyaan tanpa suara. Lalu, perlahan, air mata itu jatuh. Satu. Dua. Lalu tak terbendung. Dadaku sesak.

“Kenapa, Mun?” tanyaku, panik, seolah jawaban apa pun akan menghukumku.

Ia tak menjawab. Tangisnya sunyi, tapi terasa lebih bising dari teriakan.

Janah berdiri di belakangku, kaku, seperti tamu yang tersesat di rumah orang lain. “Aku ke dapur saja,” bisiknya, lalu pergi tanpa menunggu balasan.

Aku duduk di samping ranjang. “Kamu yang mengizinkan semua ini, kenapa sekarang menangis?”

Munawarah hanya memejamkan mata. Air matanya terus mengalir, seperti sesuatu yang selama ini ia tahan, akhirnya menemukan jalan keluar.

Malamnya, saat suara peralatan masak berdenting dari dapur, aku kembali ke kamar depan. Munawarah tampak gelisah, napasnya tak beraturan.

“Aku... Aku sesak,” katanya tiba-tiba.

“Sejak kapan?” tanyaku cepat, panik.

Ia menatapku. Tatapan yang tak lagi hanya lemah, tapi juga penuh luka. “Sejak kamu pulang bersama Janah.”

Kata-kata itu seperti pisau yang ditarik perlahan di dadaku.

“Rasanya seperti ada yang menusuk di sini,” lanjutnya, menunjuk ulu hati. “Aku kira aku kuat. Aku kira aku ikhlas. Aku kira...”

Tangannya dingin saat kugenggam. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar kehilangan arah.

Di dapur, kehidupan mencoba berjalan seperti biasa. Di kamar ini, sesuatu sedang runtuh.

Malam itu aku tak tidur. Langit-langit kamar menjadi saksi bisu kegelisahanku. Dua perempuan. Dua dunia. Dan aku berdiri di tengahnya, seperti orang yang tak tahu harus pulang ke mana.

Janah adalah jawaban atas kebutuhan yang selama ini kosong. Ia hadir dengan segala yang tak lagi bisa diberikan Munawarah. Tapi Munawarah, ia adalah awal dari segalanya. Ia adalah rumah.

“Kalau aku teruskan ini, aku membunuhnya pelan-pelan,” gumamku dalam gelap.

Keesokan paginya, aku duduk berhadapan dengan Janah. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan.

“Janah, aku ingin bicara.”

Ia mengangguk pelan, seolah sudah tahu akhir dari kalimatku.

“Aku tidak bisa melanjutkan ini.”

Sunyi jatuh di antara kami.

“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.

Aku tertegun. “Kamu tahu?”

Janah tersenyum. Tipis, getir. “Perempuan bisa merasakan. Dari cara kamu menatapnya dan cara dia menangis.”

Aku tak sanggup menatap balik.

“Aku tidak ingin menjadi alasan seseorang semakin hancur,” lanjutnya. “Apalagi perempuan yang sudah menjadi bagian dari hidupmu jauh sebelum aku datang.”

“Maafkan aku!”

Ia menggeleng. “Mungkin aku memang hanya singgah. Tidak semua yang datang harus tinggal, kan?”

Hari itu, aku melepaskannya. Bukan karena aku tak menginginkannya. Tapi karena aku tak sanggup kehilangan diriku sendiri di antara dua cinta yang saling melukai.

Kini, hidupku kembali sederhana. Pagi-pagi aku mengajar, sore hari duduk di samping ranjang Munawarah. Kadang ia tersenyum, kadang hanya menatap kosong, seperti mencoba berdamai dengan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia mengerti.

“Terima kasih sudah memilihku,” katanya suatu sore.

Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Aku tidak pernah benar-benar memilih, aku hanya kembali ke tempat yang tak pernah meninggalkanku. Rumah asalku.”

Di luar, tawa anak-anak berlarian di halaman. Hidup terus berjalan. Dan aku akhirnya mengerti bahwa mendua bukan tentang memiliki lebih banyak cinta, melainkan tentang kehilangan cara untuk mencintai tanpa menyisakan luka.