Dalam Kerumunan Terakhir, Okky Madasari beralih dari tema-tema ketidakadilan hukum dan politik konvensional menuju medan pertempuran baru yaitu, dunia maya. Novel ini merupakan sebuah catatan sosiologis yang dibungkus dalam fiksi, merekam bagaimana teknologi informasi telah mengubah cara manusia berinteraksi, mencintai, membenci, hingga mendefinisikan jati diri mereka sendiri.
Okky mengajak kita melihat bahwa di balik layar ponsel yang bercahaya, terdapat kerumunan besar yang haus akan pengakuan, namun sering kali kehilangan kemanusiaannya.
Tokoh sentral dalam novel ini adalah Jayanegara, seorang pemuda dari desa yang merasa tidak berdaya dan tidak dianggap di dunia nyata. Di kampungnya, ia hanyalah anak seorang guru yang gagal memenuhi ekspektasi sosial. Namun, segalanya berubah ketika ia mengenal internet. Di dunia maya, Jayanegara lahir kembali sebagai "Matahari".
Sebagai Matahari, ia memiliki kuasa. Ia bisa menjadi siapa saja, bicara apa saja, dan memengaruhi banyak orang. Melalui blog dan media sosial, ia membangun basis pengikut yang loyal. Ia memimpin kerumunan digital untuk mengkritik, menghujat, atau memuja sesuatu. Namun, keasyikan Jayanegara di dunia virtual perlahan-lahan mengikis hubungannya dengan realitas. Hubungannya dengan ayahnya semakin renggang, dan cintanya pada Maera, seorang perempuan yang ia kenal melalui dunia digital menjadi penuh dengan kepura-puraan dan obsesi.
Konflik memuncak ketika batas antara yang nyata dan yang maya benar-benar runtuh. Jayanegara terjebak dalam pusaran hoaks, perundungan siber (cyberbullying), dan radikalisme digital. Ia menyadari bahwa kerumunan yang ia pimpin dan ia ikuti bisa berbalik menjadi monster yang sangat mengerikan, yang siap menerkam siapa saja, termasuk dirinya sendiri.
Okky Madasari dengan sangat apik menggambarkan bagaimana internet menjadi pelarian bagi mereka yang kalah di dunia nyata. Jayanegara adalah representasi dari banyak orang yang merasa "kecil" di kehidupan sehari-hari namun menemukan panggung raksasa di media sosial. Novel ini mempertanyakan, apakah eksistensi kita diukur dari jumlah pengikut dan "like", atau dari kontribusi nyata kita pada lingkungan sekitar?
Salah satu poin terkuat dalam novel ini adalah penggambaran sifat kerumunan digital. Kerumunan ini anonim, impulsif, dan sering kali tidak memiliki empati. Okky menunjukkan bagaimana sebuah isu kecil bisa digoreng menjadi kemarahan massal hanya dalam hitungan detik. Fenomena cancel culture dan penghakiman massal secara daring digambarkan sebagai bentuk baru dari eksekusi lapangan yang tanpa pengadilan.
Hubungan antara Jayanegara dan ayahnya mencerminkan jurang yang dalam antara generasi "tua" yang masih memegang nilai-nilai konvensional dengan generasi "digital native" yang menganggap layar ponsel adalah pusat semesta. Sang ayah tidak mampu memahami dunia anaknya, sementara Jayanegara menganggap ayahnya adalah sisa-sisa masa lalu yang tidak lagi relevan.
Okky menggunakan bahasa yang lugas namun penuh dengan observasi detail mengenai perilaku manusia modern. Narasi dalam novel ini bergerak cepat, seolah mengikuti ritme media sosial yang terus berubah setiap saat. Penggunaan istilah-istilah teknologi dan media sosial diintegrasikan dengan baik ke dalam plot, sehingga pembaca merasa benar-benar berada di tengah pusaran informasi yang dialami tokoh-tokohnya.
Meskipun temanya sangat kontemporer, Okky tetap mempertahankan kedalaman psikologis karakternya. Kita bisa merasakan kesepian yang amat sangat di balik kegaduhan status-status media sosial Jayanegara. Ini adalah ironi yang berhasil disampaikan penulis: bahwa di tengah kerumunan yang paling ramai sekalipun, manusia bisa tetap merasa paling sendirian.
Kerumunan Terakhir adalah cermin yang jujur bagi masyarakat Indonesia saat ini. Kita melihat fenomena penyebaran berita bohong (hoaks) demi kepentingan politik, ujaran kebencian yang dibungkus dengan moralitas, hingga hilangnya privasi demi konten. Okky memperingatkan bahwa tanpa kesadaran dan literasi digital yang kuat, teknologi yang seharusnya membebaskan justru bisa menjadi penjara baru bagi pikiran manusia.
Identitas Buku
- Judul: Kerumunan Terakhir
- Penulis: Okky Madasari
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tanggal Terbit: 2 Mei 2016
- Tebal: 360 Halaman
Baca Juga
-
Novel Delicious Lips: Berawal dari Rasa Turun ke Hati
-
Ulasan Drama Taxi Driver, Keadilan Hukum di Balik Taksi Mewah Misterius
-
Ulasan Drama Hometown Cha Cha Cha, Romansa Manis di Pesisir Desa Gongjin
-
Novel Utang dan Sampah Sesudah Pesta, Ketika Menolak Tunduk pada Realita
-
Ulasan Novel Halte Alam Baka, Pertemuan di Batas Dua Dunia yang Mengharukan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Memoar Getir Vabyo: Ketika Eksploitasi Kerja Dibungkus Ironi Komedi
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
-
Nuku: Sultan Pemberontak yang Mengguncang Imperium VOC di Nusantara Timur
-
Novel Delicious Lips: Berawal dari Rasa Turun ke Hati
-
Ulasan Film The Substance: Pertarungan Dua Ego dalam Satu Tubuh yang Rusak
Terkini
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Nonton Pee Nak 5: Siap-siap Ketawa di Antara Jump Scare yang Bikin Jantungan!
-
Marco Bezzecchi vs Marshal: Valentino Rossi Tak Menyangka Muridnya Diskors
-
Anti-Apek! 4 Parfum Pria Paling Segar Buat Dipakai Gym dan Olahraga Outdoor
-
Proklamasi di Kedai Kopi: Lahirnya Republik Marilah Cerita