Novel Melangkah karya J.S. Khairen menghadirkan perpaduan unik antara petualangan, isu sosial, dan konsep ekonomi yang jarang ditemui dalam karya fiksi populer Indonesia.
Dengan latar yang dinamis, dari ruang kelas kampus hingga lanskap eksotis Sumba. Novel ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana teori ekonomi dapat hidup dalam realitas.
Sinopsis Novel
Cerita berpusat pada empat mahasiswa jurusan ekonomi yaitu Arif, Aura, Siti, dan Ocha. Awalnya hanya berniat berlibur setelah ujian. Namun, perjalanan mereka berubah drastis ketika terjadi pemadaman listrik misterius di seluruh Jawa dan Bali, disertai ancaman kekuatan besar yang berpotensi mengguncang Nusantara.
Di tengah situasi genting tersebut, mereka justru terjebak dalam konflik yang jauh melampaui kapasitas mereka sebagai mahasiswa biasa.
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada integrasi konsep ekonomi ke dalam alur cerita. Teori seperti invisible hand, elastisitas, hingga keseimbangan pasar (equilibrium) tidak hanya disebutkan, tetapi juga diaplikasikan dalam strategi yang digunakan para tokoh untuk menghadapi konflik.
Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri, terutama bagi pembaca yang memiliki latar belakang ekonomi atau ingin melihat bagaimana teori akademis dapat diterjemahkan dalam situasi nyata.
Namun, Melangkah tidak berhenti pada aspek intelektual semata. Novel ini juga mengangkat konflik emosional yang cukup kompleks, terutama melalui karakter Runa, seorang tokoh yang berambisi menyelamatkan tanah Sumba dari eksploitasi elit.
Motifnya terdengar mulia, tetapi metode yang digunakan justru menempatkannya pada posisi antagonis. Di sinilah novel ini menyajikan refleksi penting: bahwa luka masa lalu yang tidak diselesaikan dapat mengubah seseorang menjadi sosok yang ia benci.
Di sisi lain, dinamika persahabatan keempat tokoh utama menjadi elemen yang cukup menonjol. Mereka bukan karakter ideal. Aura digambarkan keras kepala, Siti cenderung emosional, sementara Ocha tampak mudah terpengaruh lingkungan sosial. Ketidaksempurnaan ini membuat karakter terasa lebih manusiawi, meskipun sikap mereka mungkin terasa kurang dewasa atau sulit dijadikan panutan.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya penceritaan dalam novel ini cenderung menggunakan pendekatan telling dibanding showing. Penulis seringkali langsung menjelaskan situasi atau emosi tokoh, alih-alih membiarkannya berkembang melalui adegan. Meski demikian, keindahan bahasa justru muncul kuat di bagian pembuka setiap bab, memberikan kesan puitis yang sayangnya tidak selalu konsisten sepanjang cerita.
Dari segi alur, Melangkah mengikuti pola klasik cerita petualangan: tokoh utama menghadapi konflik besar, melalui berbagai rintangan, hingga akhirnya mencapai resolusi. Beberapa elemen terasa familiar, termasuk trope “antagonis dengan masa lalu kelam”.
Namun, upaya penulis memasukkan unsur fiksi ilmiah dan budaya lokal memberikan warna tersendiri, meskipun pada beberapa bagian konsep tersebut terasa kurang dijelaskan secara mendalam.
Latar Sumba sendiri menjadi daya tarik penting dalam novel ini. Keindahan alam, nuansa budaya, serta sentuhan mistis yang dihadirkan berhasil menciptakan atmosfer yang kuat. Pembaca seolah diajak berkelana langsung ke wilayah tersebut, sekaligus menyadari potensi dan kerentanan daerah terhadap eksploitasi.
Pada akhirnya, Melangkah adalah novel yang berani mencoba banyak hal sekaligus: menggabungkan petualangan, ekonomi, kritik sosial, dan refleksi kehidupan dalam satu narasi. Meski tidak semua elemen berjalan sempurna.
Novel ini mengingatkan bahwa dalam hidup, seperti halnya dalam cerita, melangkah ke depan tidak selalu tentang menjadi sempurna. Melainkan tentang berani mencoba, belajar dari kesalahan, dan terus bergerak meski penuh ketidakpastian.
Identitas Buku
- Judul: Melangkah
- Penulis: J.S. Khairen
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
- Tanggal Terbit: 22 Maret 2020
- Jumlah Halaman: 360 halaman
- ISBN: 978-602-052-331-6
- Genre: Fantasi, Aksi, Petualangan
Baca Juga
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
-
Ketika Darah Rakyat Mengakhiri Takhta: Sumatera dalam Kacamata Anthony Reid
-
Adaptasi yang Belum Tuntas: Dilema Film Rembulan Tenggelam di Wajahmu
-
Adaptasi yang Belum Tuntas: Dilema Film Rembulan Tenggelam di Wajahmu
-
Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
-
Ketika Darah Rakyat Mengakhiri Takhta: Sumatera dalam Kacamata Anthony Reid
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan
-
Turki vs Amerika Serikat: Ujian Mental di Akhir Fase Grup Piala Dunia 2026