Lintang Siltya Utami | aisyah khurin
Novel Setan Van Oyot (Goodreads)
aisyah khurin

Novel Setan van Oyot karya Djokolelono merupakan sebuah pencapaian unik dalam khazanah sastra populer Indonesia. Djokolelono, yang lebih dikenal sebagai pelopor fiksi ilmiah Indonesia melalui seri Penjelajah Antariksa, kali ini membawa pembacanya ke arah yang berbeda, sebuah perpaduan antara horor gotik, sejarah kolonial, dan mitologi lokal yang kental.

Novel ini bukan sekadar cerita hantu yang mengandalkan kejutan (jump scare), melainkan sebuah pembangunan atmosfer yang lambat, mencekam, dan berakar pada luka sejarah di tanah Jawa.

Cerita berlatar di sebuah perkebunan tua di daerah Jawa Tengah yang dikenal dengan nama Oyot. Nama "Oyot" sendiri dalam bahasa Jawa berarti "akar", sebuah metafora yang sangat pas untuk menggambarkan bagaimana rahasia masa lalu merambat dan mencengkeram kehidupan karakter-karakternya.

Narasi dimulai ketika seorang pemuda kota datang ke perkebunan tersebut, hanya untuk menemukan dirinya terjebak dalam jaring misteri yang melibatkan sisa-sisa kejayaan kolonial Belanda dan kekuatan gelap yang menghuni hutan di sekitarnya.

Djokolelono sangat mahir dalam menggambarkan kontras antara kemegahan arsitektur landhuis (rumah perkebunan) Belanda yang dingin dengan kelebatan hutan jati yang menyimpan aura mistis. Di Oyot, batas antara yang rasional dan yang supranatural menjadi kabur. Suara-suara di malam hari, penampakan sosok misterius yang dijuluki "Setan van Oyot", dan perilaku penduduk desa yang tertutup menciptakan ketegangan yang konsisten sepanjang cerita.

Tokoh utama dalam novel ini berfungsi sebagai wakil dari pembaca modern yang skeptis. Kedatangannya ke Oyot awalnya didorong oleh alasan logis (pekerjaan atau warisan), namun perlahan-lahan logikanya dipaksa menyerah oleh kejadian-kejadian yang tidak masuk akal. Transformasi karakternya dari sosok yang mengandalkan nalar menjadi sosok yang harus menerima eksistensi "kekuatan lama" adalah inti dari perjalanan psikologis dalam novel ini.

"Setan" dalam judul ini bukan sekadar entitas hantu tanpa wajah. Ia adalah representasi dari memori kolektif yang menyakitkan. Melalui kilas balik dan fragmen sejarah yang disisipkan Djokolelono, kita memahami bahwa kengerian di Oyot bermula dari ketamakan, kekejaman sistem tanam paksa, dan eksploitasi manusia di masa kolonial. Van Oyot menjadi simbol bagi mereka yang "tertinggal" dan tidak tenang karena dendam yang belum tuntas.

Karakter-karakter penduduk lokal di sekitar perkebunan digambarkan dengan sangat menarik. Mereka tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi merupakan pemegang kunci informasi. Mereka hidup berdampingan dengan misteri tersebut, menganggapnya sebagai bagian dari keseimbangan alam yang tidak boleh diganggu.

Salah satu kekuatan utama Setan van Oyot adalah penggunaan genre horor untuk membicarakan dendam sejarah. Djokolelono mengeksplorasi bagaimana tindakan manusia di masa lalu, khususnya ketidakadilan rasial dan ekonomi meninggalkan residu energi yang negatif.

Novel ini menegaskan bahwa hantu yang paling menakutkan bukanlah sosok yang muncul di kegelapan, melainkan dosa-dosa nenek moyang yang tidak pernah ditebus. Tanah Oyot menjadi saksi bisu bagaimana keringat dan darah para pekerja perkebunan di masa lalu bertransformasi menjadi kutukan yang menghantui para penerusnya, baik itu orang Belanda maupun pribumi yang mengambil alih kekuasaan tersebut.

Meskipun Djokolelono memiliki latar belakang penulisan fiksi ilmiah yang teknis, dalam Setan van Oyot ia menunjukkan kemampuan deskriptif yang sangat puitis namun kelam. Ia sangat detail dalam menggambarkan indra bau tanah basah, suara gesekan daun jati, hingga dinginnya ubin marmer tua. Detail-detail ini membuat horor dalam novel ini terasa sangat fisik dan nyata.

Alur ceritanya disusun seperti sebuah penyelidikan. Pembaca tidak langsung diberi tahu siapa atau apa "Setan" tersebut. Kita diajak untuk mengumpulkan kepingan teka-teki melalui dokumen tua, cerita rakyat setempat, dan pengalaman langsung sang tokoh utama. Teknik ini sangat efektif untuk menjaga rasa ingin tahu pembaca tetap tinggi hingga bab terakhir.

Djokolelono tidak hanya mengandalkan elemen horor Barat, tetapi juga memasukkan unsur kearifan lokal Jawa yang kental. Konsep tentang punden, penghormatan terhadap leluhur, dan kepercayaan bahwa alam memiliki "penunggu" dijalin dengan sangat rapi ke dalam plot kolonialnya. Hal ini membuat novel ini terasa sangat autentik dan dekat dengan masyarakat Indonesia, memberikan nuansa horor yang berbeda dari novel-novel terjemahan.

Setan van Oyot adalah sebuah karya sastra populer yang cerdas. Ia berhasil menghibur sekaligus mengajak pembaca untuk merenung. Djokolelono membuktikan bahwa kisah misteri bisa menjadi medium yang sangat efektif untuk menyampaikan kritik sejarah dan sosial.

Bagi penggemar sastra misteri yang mencari sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar cerita seram biasa, Setan van Oyot adalah bacaan wajib. Ini adalah perjalanan menuju jantung kegelapan tanah Jawa yang akan membuat kamu terus terjaga, bukan karena takut, melainkan karena terpesona oleh kepiawaian bertutur sang maestro, Djokolelono.

Identitas Buku

  • Judul: Setan Van Oyot
  • Penulis: Djokolelono
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tanggal Terbit: 1 April 2019
  • Tebal: 270 Halaman