Novel "Melangkah" karya J.S. Khairen merupakan sebuah pencapaian literasi yang unik dalam khazanah sastra kontemporer Indonesia. Penulis yang dikenal dengan gaya penceritaan yang lincah dan imajinatif ini berhasil menggabungkan elemen petualangan, fantasi, teknologi, hingga kekayaan budaya lokal dalam satu narasi yang utuh.
Novel ini bukan sekadar cerita perjalanan fisik, melainkan sebuah alegori tentang keberanian manusia untuk menghadapi ketakutan terdalam dan terus melangkah maju meski dunia di sekitarnya tampak runtuh.
Bayangkan sebuah hari di mana seluruh Indonesia mendadak kehilangan denyut nadinya. Listrik padam secara total, sinyal telekomunikasi lenyap, dan mesin-mesin berhenti menderu. Bangsa ini seketika terlempar kembali ke masa kegelapan di tengah era modernitas yang sedang angkuh-angkuhnya.
Di tengah kekacauan masif ini, narasi berfokus pada sekelompok anak muda, Eko, kawan-kawannya, dan beberapa tokoh sentral lainnya yang terjebak dalam situasi hidup dan mati.
Namun, padamnya listrik bukanlah sekadar masalah teknis. Ada kekuatan kuno yang bangkit, sebuah ancaman yang berakar dari sejarah masa lalu Nusantara yang selama ini hanya dianggap mitos. Perjalanan membawa mereka menuju Sumba, sebuah pulau eksotis yang menyimpan kunci dari segala kegelapan ini.
Di sana, mereka tidak hanya harus bertahan hidup dari ancaman fisik dan konflik sosial yang pecah akibat kepanikan massal, tetapi juga harus berhadapan dengan entitas mistis dan rahasia besar yang menyelimuti silsilah serta takdir mereka sendiri.
Mereka harus bergerak, menembus hutan, mendaki perbukitan, dan melawan ego pribadi demi satu tujuan, memastikan langkah kaki tidak terhenti oleh ketakutan.
Salah satu kekuatan utama Melangkah terletak pada keberanian J.S. Khairen dalam mengeksplorasi genre techno-fantasy yang berakar pada budaya Nusantara. Penulis sangat piawai menjahit unsur-unsur modernitas seperti persoalan ketergantungan manusia pada gawai dan internet dengan mitologi lokal yang kental.
Sumba bukan hanya sekadar latar tempat, melainkan karakter yang hidup dengan segala adat istiadat, kepercayaan, dan aroma tanahnya yang khas. Melalui novel ini, Khairen seolah ingin mengingatkan bahwa ketika teknologi yang kita agung-agungkan gagal, manusia harus kembali menoleh pada akar budaya untuk menemukan jalan keluar.
Narasi "Melangkah" digerakkan oleh sekelompok karakter dengan latar belakang yang beragam. Fokus cerita terletak pada bagaimana tokoh-tokoh ini membawa beban masa lalu dan konflik internal yang berbeda ke dalam satu tim.
J.S. Khairen memberikan suara yang khas pada setiap karakternya, mereka tidak digambarkan sebagai pahlawan super yang tanpa cela, melainkan manusia biasa yang memiliki rasa takut dan keraguan.
Perjalanan menuju "titik pusat" di Sumba menjadi sarana bagi para tokoh ini untuk melakukan dekonstruksi terhadap diri mereka sendiri. Pembaca akan melihat bagaimana karakter-karakter ini bertransformasi dari individu yang terisolasi oleh ego masing-masing menjadi satu kesatuan yang solid.
Dinamika persahabatan dan pengorbanan yang digambarkan terasa sangat organik, membuat pembaca ikut peduli pada nasib setiap tokohnya.
Di balik balutan petualangan yang menegangkan, "Melangkah" menyimpan kritik sosial yang tajam. Penulis menyoroti betapa rapuhnya peradaban modern yang terlalu bergantung pada konektivitas digital.
Ketika "layar" yang biasa kita tatap menjadi gelap, manusia kehilangan arah dan moralitas seringkali ikut memudar demi bertahan hidup. Khairen memotret fenomena kepanikan massal dan bagaimana hoaks serta ketakutan dapat melumpuhkan logika manusia lebih cepat daripada padamnya listrik itu sendiri.
Selain itu, novel ini juga menyentuh isu mengenai pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap leluhur. Ada pesan tersirat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya menghancurkan apa yang telah dijaga oleh alam selama ribuan tahun. Ketidakseimbangan antara ambisi manusia dan kelestarian alam akan selalu berujung pada konsekuensi yang besar.
Gaya bahasa J.S. Khairen dalam Melangkah terasa sangat sinematik. Ia mampu mendeskripsikan adegan aksi dengan tempo yang cepat sehingga memicu adrenalin pembaca, namun tetap bisa memberikan ruang untuk momen-momen kontemplatif yang puitis.
Deskripsi mengenai bentang alam Sumba, kuda-kuda sandel, hingga ritual adat ditulis dengan detail yang kaya, membuat pembaca seolah bisa merasakan embusan angin padang rumput di kulit mereka.
Penggunaan istilah teknis dan unsur fantasi disajikan dengan porsi yang pas, sehingga tidak membingungkan pembaca yang mungkin baru pertama kali mencicipi genre ini.
Dialog-dialog yang dihadirkan pun terasa segar dan relevan dengan gaya bicara anak muda masa kini, namun tetap memiliki kedalaman filosofis ketika memasuki inti persoalan tentang kehidupan.
"Melangkah" adalah sebuah karya yang ambisius dan berhasil membuktikan bahwa penulis Indonesia mampu menghasilkan cerita petualangan fantasi berkualitas tinggi dengan identitas lokal yang kuat.
J.S. Khairen berhasil menciptakan sebuah dunia yang luas, penuh teka-teki, namun tetap memiliki kehangatan emosional di dalamnya.
Identitas Buku
Judul: Melangkah
Penulis: J.S. Khairen
Penerbit: Grasindo
Tanggal Terbit: 21 Maret 2020
Tebal: 355 Halaman
Baca Juga
-
Ulasan Novel Halaman Terakhir, Ketika Kekuasaan Dapat Membungkam Keadilan
-
Novel Three Sisters, Dinamika Kehidupan Tiga Saudara dengan Status Berbeda
-
Drama Strangers From Hell, Misteri Kos-Kosan Murah yang Mengikis Mental
-
Drama The Fiery Priest, Membongkar Misteri di Balik Kematian Pastor Lee
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
Artikel Terkait
-
Tarian Bumi: Kisah Pedih Perempuan Bali di Tengah Belenggu Tradisi
-
Dawuk: Ketika Cinta dan Gosip Berubah Jadi Tragedi
-
Novel Pasung Jiwa, Jeritan Sunyi di Balik Penjara Moralitas Masyarakat
-
Kesetiaan Bertabrakan dengan Kebenaran dalam Novel The Silence of Bones
-
Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya: Belajar Tertawa di Tengah Luka
Ulasan
-
Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia
-
Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5
-
Review Loki Season 2: Dari God of Mischief Menjadi Penjaga Multisemesta
-
Membaca Yuk Gaul! Jadi Orang Keren Tanpa Kehilangan Arah
-
Kitab Tanbihul Ghafilin: Mengetuk Hati yang Lalai di Tengah Gemerlap Dunia
Terkini
-
Bebas White Cast, Ini 5 Loose Powder Anti Flashback yang Aman untuk Foto
-
Keberanian Gen Z Mendobrak Tradisi: Mewarisi Tak Harus Mengikuti
-
Surat untuk Hari yang Telah Berlalu
-
Bukan Pengangkatan Otomatis, Begini Skema Guru PPPK Jadi PNS pada 2027
-
Kalau Belum Siap Bertanggung Jawab, Pertimbangkan Lagi Punya Anak