Hikmawan Firdaus | Athar Farha
Scene Film The Punisher: One Last Kill (IMDb)
Athar Farha

Film The Punisher: One Last Kill, special 48 menit dari Marvel Studios, menghadirkan kembali sosok Frank Castle yang selama ini hidup di bayang-bayang. Tayang di Disney+ Hotstar sejak 12 Mei 2026, film khusus ini menjadi jembatan menuju proyek MCU berikutnya, meski durasinya terlalu singkat untuk menampung kompleksitas karakter Frank.

Film ini langsung jadi bahan pembicaraan penggemar Marvel, terutama fans lama versi Punisher milik Jon Bernthal. Setelah bertahun-tahun karakter ini cuma didiamkan di sudut MCU, akhirnya Frank kembali dengan cerita yang jauh lebih gelap, brutal, dan emosional dibanding sebagian besar proyek Marvel belakangan ini.

Disutradarai Reinaldo Marcus Green bersama naskah yang ditulis langsung Jon Bernthal. Dari situ saja sebenarnya ekspektasi sudah cukup tinggi. Bernthal selama ini bukan cuma aktor yang memainkan Frank Castle, tapi juga orang yang terlihat memahami luka di balik karakter tersebut.

Untuk jajaran pemain, Jon Bernthal tentu kembali sebagai Frank Castle alias The Punisher. Lalu ada Judith Light sebagai Ma Gnucci, bos mafia tua yang menyimpan dendam besar pada Frank. Selain itu muncul juga beberapa wajah dari semesta ‘Daredevil: Born Again’ yang membuat benang merah sebagai jembatan menuju konflik MCU street-level yang lebih besar.

Ceritanya sendiri berlangsung di Hell’s Kitchen yang semakin kacau. Tingkat kriminalitas naik, kekerasan semakin brutal, dan kota seperti kehilangan harapan. Di tengah kondisi itu, Frank Castle hidup dalam persembunyian setelah berhasil lolos dari penjara.

Namun kali ini Frank bukan sosok mesin perang yang siap menghajar siapa saja. Dia terlihat lelah. Trauma kehilangan istri dan anaknya terus menghantui hidupnya. Ingatan tentang masa lalu datang tanpa ampun, membuat Frank hidup di antara rasa marah dan kehampaan. 

Situasi berubah menjadi jauh lebih buruk ketika Ma Gnucci muncul kembali. Bos mafia tua yang keluarganya pernah dibantai Frank itu akhirnya memutuskan membalas dendam. Namun Ma Gnucci nggak ingin Frank mati dengan cepat. Dia ingin Frank menderita, diburu, dan kehilangan semua tempat untuk bersembunyi.

Karena itu Ma Gnucci membuka perburuan besar-besaran pada Frank Castle. Semua kriminal di Hell’s Kitchen ditawari bayaran besar untuk menemukan dan membunuh Punisher. Dari preman jalanan, gangster kecil, hingga pembunuh bayaran mulai memburu Frank dari berbagai arah. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Frank menjadi target satu kota penuh.

Di tengah kondisi mental yang semakin hancur, Frank dipaksa kembali mengangkat senjata demi bertahan hidup. Namun, semakin banyak darah yang tumpah, semakin besar pula rasa bersalah dan luka lama yang terus menghancurkan dirinya dari dalam.

Konflik Emosional yang Masih Bisa Digali, Tapi Mentok di Minimnya Durasi

Poster Film The Punisher: One Last Kill (IMDb)

Paruh awal One Last Kill merupakan drama psikologis tentang seseorang yang sebenarnya sudah kehilangan alasan untuk terus hidup. Jon Bernthal memainkan rasa kosong itu dengan luar biasa. Tatapan matanya menggambarkan bahwa sudah terlalu lama bertahan hidup. Bukan hidup bahagia, melainkan sebatas melanjutkan hidup. 

Masalahnya, saat film ini mencoba berubah menjadi aksi penuh dalam waktu yang sangat singkat. Setelah cukup lama membangun trauma dan konflik batin Frank, cerita tiba-tiba langsung menekan pedal gas menuju rentetan baku tembak, pembantaian brutal, dan aksi berdarah khas Punisher.

Peralihannya terlalu cepat dan rasanya kayak dua episode berbeda yang dipaksa menyatu dalam satu film pendek. 

Padahal konflik emosional Frank masih bisa digali jauh lebih dalam. Hubungannya dengan trauma, rasa bersalah, bahkan kelelahan mentalnya baru mulai terasa menarik, tapi film keburu masuk ke mode aksi total karena minimnya durasi yang terus berjalan. Inilah masalah terbesarnya. 

Semua elemen penting sebenarnya sudah ada. Karakter kuat, konflik personal menarik, atmosfer kelam, sampai aksi brutal yang grounded. Namun, waktu 48 menit membuat semuanya jadi kurang totalitas. 

Bahkan Ma Gnucci yang harusnya bisa menjadi ancaman psikologis menarik untuk Frank malah kurang dieksplorasi. Judith Light tampil cukup menyeramkan dengan aura dingin dan dendamnya, tapi karakter ini muncul terlalu sedikit untuk meninggalkan dampak besar.

Meski begitu, saat film mulai masuk ke wilayah aksi, tampaknya itulah yang dirindukan penggemar. Yup, aksinya brutal dan setiap pertarungan punya konsekuensi.

Frank juga bertarung bukan sebagai superhero, melainkan pria yang bisa mati kapan saja. Tubuhnya lelah, pukulannya berat, dan rasa sakitnya terasa nyata. Sayangnya beberapa adegan aksi terasa dipotong terlalu cepat lewat editing yang agak berantakan. Kadang koreografi pertarungannya baru mulai seru, lalu kamera langsung berpindah ke adegan lain. Ritme seperti ini membuat beberapa momen kehilangan impact yang seharusnya bisa jauh lebih kuat.

Kendati begitu, bila Sobat Yoursay fans MCU film spesial ini wajib tonton karena ini merupakan jembatan ke cerita lebih besar dalam Spider-Man: Brand New Day yang segera rilis . Selamat nonton ya.