Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 karya Baek Se-hee hadir sebagai lanjutan dari memoar yang sebelumnya telah menyentuh banyak pembaca dengan kejujuran emosionalnya.
Jika buku pertama terasa seperti jeritan seseorang yang sedang mencari pegangan, maka sekuelnya ini lebih menyerupai langkah pelan menuju penerimaan diri. Tidak sepenuhnya sembuh, tetapi mulai memahami.
Isi Buku
Buku ini masih menggunakan format yang sama: percakapan antara “Aku” (penulis) dan psikiaternya. Dialog-dialog tersebut bukan sekadar tanya jawab, melainkan potret nyata dari proses terapi kejiwaan.
Pembaca diajak masuk ke ruang konsultasi, menyaksikan bagaimana pikiran yang kusut perlahan diurai, bagaimana emosi yang selama ini dipendam akhirnya menemukan bahasa.
Fokus utama buku ini adalah perjuangan Baek Se-hee melawan distimia, sebuah bentuk depresi ringan namun berlangsung lama. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia hidup dengan perasaan hampa, cemas, dan sering kali merasa bersalah tanpa sebab yang jelas.
Distimia bukanlah ledakan emosi yang terlihat dramatis, melainkan kelelahan batin yang konstan. Sunyi, tetapi melelahkan.
Yang membuat buku ini berbeda dari buku sebelumnya adalah pendekatannya yang lebih reflektif. Jika sebelumnya Baek Se-hee tampak gelisah dan penuh pertanyaan, di buku kedua ini ia mulai belajar menerima. Bukan berarti semua masalah selesai, tetapi ada perubahan cara pandang: dari membenci diri sendiri menjadi mencoba memahami diri sendiri.
Topik yang diangkat pun semakin luas dan dalam. Mulai dari keinginan untuk dicintai, kecemasan terhadap masa depan, hubungan dengan tubuh dan makanan, hingga pertanyaan besar tentang hidup dan mati.
Judul buku ini sendiri, yang terdengar kontras antara keinginan mati dan keinginan makan tteokpokki, menjadi simbol dari dualitas manusia. Kelelahan hidup yang berjalan berdampingan dengan keinginan kecil untuk tetap bertahan.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada kejujurannya. Baek Se-hee tidak berusaha terlihat kuat atau sempurna. Ia justru menunjukkan sisi rapuhnya tanpa filter.
Dalam banyak bagian, pembaca bisa merasa bercermin, seolah apa yang dialami penulis juga pernah mereka rasakan, meski dalam bentuk yang berbeda. Inilah yang membuat buku ini terasa dekat dan relevan.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga memberikan gambaran nyata tentang proses terapi psikologis. Pembaca diperkenalkan pada berbagai istilah psikiatri, tetapi disampaikan dalam bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Percakapan antara penulis dan psikiaternya membantu menjelaskan bagaimana pola pikir negatif terbentuk, serta bagaimana cara perlahan mengubahnya.
Namun, buku ini bukan bacaan yang ringan secara emosional. Muatan perasaan dalam buku ini terasa begitu nyata. Ada ruang sunyi di antara dialog-dialognya. Ruang yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang pernah merasakan hal serupa.
Buku ini mengajarkan bahwa proses menerima diri adalah perjalanan panjang yang penuh naik turun. Kadang maju, kadang mundur, tetapi tetap berjalan.
Dalam konteks yang lebih luas, I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 juga berfungsi sebagai pengingat penting tentang kesehatan mental. Bahwa depresi tidak selalu terlihat, bahwa seseorang bisa tampak “baik-baik saja” di luar, tetapi berjuang keras di dalam. Buku ini mengajak pembaca untuk lebih peka, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang depresi atau terapi, tetapi tentang keberanian untuk tetap hidup. Tentang bagaimana seseorang, di tengah kelelahan yang luar biasa, masih bisa menemukan alasan kecil untuk bertahan. Bahkan jika itu hanya sesederhana keinginan untuk makan tteokpokki.
Dan mungkin, dari situlah proses penyembuhan benar-benar dimulai.
Identitas Buku
- Judul: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2
- Penulis: Baek Se Hee
- Penerbit: Haru
- Tahun Terbit: 2021
- Tebal: 232 Halaman
- ISBN: 9786237351474
- Jenis: Esai/Self Improvement
Tag
Baca Juga
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Negara Ring of Fire, Mengapa Anggaran Bencana Masih Seperti Lelucon?
Artikel Terkait
-
Kenangan yang Tak Pernah Kering dalam Buku 'Orang-Orang Berpayung Hitam'
-
Ulasan Novel Anak Asli Asal Mappi, Dedikasi Anak Negeri Tanah Papua
-
Menikah Bukan Sekadar Cinta: Ulasan Buku Karena Menikah Tak Sebercanda Itu
-
Di Era e-Book, Mengapa Buku Fisik Tidak Pernah Tergantikan?
-
Membongkar Ambisi Nuklir di Balik Retorika Soekarno
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?