Kumpulan cerpen Orang-Orang Berpayung Hitam karya Iyut Fitra menghadirkan lanskap cerita yang sunyi, getir, namun sekaligus puitis. Buku ini bukan sekadar rangkaian kisah pendek, melainkan anyaman pengalaman batin yang meresap perlahan ke dalam kesadaran pembaca.
Setiap kisah dalam buku kumpulan cerita pendek ini terasa seperti serpihan ingatan yang tampak sederhana di permukaan, tetapi menyimpan gema emosi yang panjang dan sulit dilupakan.
Seperti cerpen bertajuk Orang-Orang Berpayung Hitam yang kemudian oleh Iyut Fitra dipilih sebagai judul buku. Cerita ini berpusat pada hubungan dua tokoh, yaitu “aku” dan Suluh, yang sejak kecil bersahabat dekat di sebuah desa.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama bermain ayunan di halaman rumah Suluh. Ayunan menjadi simbol kebersamaan, keceriaan masa kanak-kanak, dan kedekatan emosional di antara mereka.
Seiring waktu, mereka tumbuh dewasa. Tokoh “aku” harus pergi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan, meskipun sebenarnya ia dan Suluh sama-sama berat berpisah. Jarak tidak sepenuhnya memutus hubungan mereka; keduanya tetap berkomunikasi dan perlahan menyadari adanya perasaan cinta yang lebih dalam.
Setelah bertahun-tahun, tokoh “aku” kembali dan berniat menikahi Suluh. Ia mengungkapkan keinginannya untuk hidup bersama dan bahkan membayangkan menghadirkan kembali ayunan sebagai simbol kebahagiaan masa lalu mereka.
Namun, cerita berbalik tragis. Sebuah gempa besar menghancurkan kota kecil tempat Suluh tinggal. Banyak bangunan runtuh dan korban berjatuhan. Orang-orang datang dengan payung hitam (simbol duka dan suasana berkabung) untuk mencari keluarga mereka di antara reruntuhan.
Di tengah suasana pilu itu, tokoh “aku” berdiri di depan ayunan yang dulu menjadi saksi kebahagiaan mereka. Ayunan itu kini sepi, bergerak pelan tertiup angin. Ia mencari Suluh, namun tidak menemukannya. Cerita berakhir dengan ketidakpastian nasib Suluh, meninggalkan kesedihan mendalam dan kehilangan yang tak terjawab.
Sebagai seorang penyair, Iyut Fitra membawa kekuatan puisinya ke dalam prosa. Kalimat-kalimatnya mengalir lembut, namun menyimpan kedalaman makna yang kerap menggugah renungan. Ia tidak sekadar bercerita, tetapi juga menyulam kesunyian, luka, dan harapan menjadi narasi yang hidup.
Dalam setiap celah cerita, pembaca diajak menyelami sisi rapuh manusia tentang kehilangan, kegelisahan, dan pencarian makna hidup.
Cerita-cerita dalam buku ini tidak hanya bertumpu pada emosi personal, tetapi juga berpijak pada konteks budaya lokal yang kuat. Unsur adat, tradisi, dan kehidupan masyarakat menjadi latar yang memperkaya narasi. Namun, Iyut Fitra tidak berhenti pada lokalitas semata.
Ia mengangkat persoalan-persoalan yang bersifat universal, tentang relasi manusia, kesepian, ketidakpastian takdir, hingga harapan yang kerap kandas di tengah jalan. Inilah yang membuat buku ini terasa dekat sekaligus luas.
Kekuatan lain dari kumpulan cerpen ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kritik sosial secara halus. Kehidupan sehari-hari yang kompleks disampaikan tanpa nada menggurui.
Sebaliknya, kritik itu hadir dalam bentuk cerita yang tenang, bahkan nyaris lirih, tetapi justru meninggalkan kesan yang dalam. Pembaca tidak dipaksa untuk setuju, melainkan diajak untuk merasakan dan merenungkan.
Apresiasi terhadap karya ini juga datang dari sejumlah penulis. Arafat Nur menilai bahwa buku ini menyuguhkan kejernihan kisah yang kuat dan mampu menyentuh lapisan terdalam perenungan.
Sementara itu, Gol A Gong melihat cerpen-cerpen dalam buku ini seperti puisi panjang yang getir, mencerminkan latar belakang kepenyairan sang penulis.
Pendapat serupa diungkapkan oleh Yetti A.KA, yang menilai bahwa kumpulan cerpen ini mempertegas suara dalam sajak-sajak Iyut Fitra ke dalam bentuk yang lebih komunikatif.
Bahkan, Benny Arnas menyebut bahwa tanpa drama berlebihan, cerita-cerita dalam buku ini tetap mampu menyentuh dan meninggalkan jejak mendalam, dengan Jendela Tua sebagai salah satu cerpen yang paling membekas.
Overall, Orang-Orang Berpayung Hitam adalah buku yang menawarkan pengalaman membaca yang kontemplatif. Ia tidak hadir sebagai hiburan ringan, melainkan sebagai ruang perenungan.
Cerita-ceritanya mengajak pembaca berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, dan menyadari bahwa di balik kehidupan yang tampak biasa, tersimpan lapisan-lapisan emosi yang kompleks.
Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai karya sastra dengan bahasa yang puitis, tema yang dalam, serta nuansa yang melankolis. Iyut Fitra berhasil membuktikan bahwa cerpen tidak harus riuh untuk menjadi kuat, cukup jujur, lirih, dan menyentuh, maka ia akan tinggal lama dalam ingatan.
Identitas Buku
Judul: Orang-Orang Berpayung Hitam
Penulis: Iyut Fitra
Penerbit: Basabasi, Yogyakarta
Cetakan: I, 2017
Tebal: 148 Halaman
ISBN: 978-602-391-353-4
Genre: Fiksi Indonesia / Kumpulan Cerpen
Baca Juga
-
Cari Laptop Rp5 Jutaan? Infinix XBOOK B15 Punya Banyak Kejutan dan Layak Dilirik
-
Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain
-
Huawei MatePad Mini Resmi di Indonesia,Tablet 8,8 Inci yang Nyaman Digenggam dan Memanjakan Mata
-
Sony Xperia 10 VIII Muncul di Geekbench: Chipset Lama, Pesona Tetap Menyala
-
Spek Vivo V80 Lite 5G Terungkap, Performa Dimensity 7360-Turbo Jadi Andalan
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Anak Asli Asal Mappi, Dedikasi Anak Negeri Tanah Papua
-
Menikah Bukan Sekadar Cinta: Ulasan Buku Karena Menikah Tak Sebercanda Itu
-
Di Era e-Book, Mengapa Buku Fisik Tidak Pernah Tergantikan?
-
Membongkar Ambisi Nuklir di Balik Retorika Soekarno
-
Perempuan yang Dihancurkan: Ketika Hidup Tak Lagi Sepenuhnya Milik Sendiri
Ulasan
-
5 Centimeters Per Second: Ketika Cinta Pertama Bertemu dengan Kenyataan
-
Rahasia Bisnis Orang Cina, Arab, dan India: Dagang itu Gak Mudah Lho!
-
Review Film Mutiny: Ketika Jason Statham Terjebak di Kapal Neraka, Masih Bisa Selamat?
-
Review Drama Beyond Evil, Misteri Hilangnya Warga Munju
-
Monster Hands: Ketika Monster Bawah Tempat Tidur Tak Lagi Menakutkan
Terkini
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan