Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Kenangan di Surabaya, Maret 2025 (Dokumentasi Pribadi)
Ukhro Wiyah

Sejujurnya, sempat ada keraguan untuk menulis catatan perjalanan ini. Rasanya ada begitu banyak hal yang ingin saya ceritakan. Namun akhirnya saya mencoba merangkumnya dalam satu kisah.

Terlebih, salah satu sahabat yang menemani perjalanan ini sudah lebih dulu dipanggil oleh Allah beberapa hari lalu. Kenangan itu kini menjadi sesuatu yang tak mungkin terulang di kemudian hari.

Perjalanan ke Surabaya berawal dari ajakan iseng di bulan puasa tahun lalu. Saat itu, saya sedang diliputi kegalauan karena skripsi yang macet di tengah jalan. “Bun, ke Ampel, yuk.” Pesan singkat itu saya kirimkan kepada teman dekat saya. Tak disangka, ia langsung mengiyakan. Kami pun segera memesan tiket kereta untuk akhir pekan.

Awalnya, kami berencana berangkat malam dan pulang dini hari karena tujuan utama hanya satu: Makam Sunan Ampel. Namun, kesalahpahaman kecil membuat saya justru memesan tiket pagi. Kami akhirnya berangkat pada 22 Maret 2025 pukul 07.37 dari Kediri menuju Stasiun Surabaya Kota dengan harga tiket pulang dan pergi Rp30.000 per orang.

Dari asrama di Kelurahan Rejomulyo, kami menuju stasiun menggunakan GrabCar, tarifnya sekitar Rp20.000. Perjalanan berlangsung lancar dan kami tiba lebih awal. Di dalam kereta, perjalanan hampir empat jam terasa santai. Kami menikmati pemandangan dari jendela sambil sesekali mengobrol. Seorang teman lain menyusul naik dari Stasiun Papar, sehingga kami tiba di Surabaya bertiga sekitar pukul 11.32.

Setelah beristirahat sejenak, kami mencari destinasi yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Pilihan akhirnya jatuh pada Museum Sepuluh November yang berada di area belakang Monumen Tugu Pahlawan. Dari stasiun, kami berjalan kaki sekitar 30 menit di bawah terik Surabaya siang hari. Meski sedang berpuasa, semangat kami tetap terjaga.

Sesampainya di lokasi, kami duduk sejenak di taman untuk mengistirahatkan kaki. Setelah itu, kami memasuki museum dengan membayar tiket Rp4.000 per orang. Berdasarkan informasi dari petugas, tarif tersebut berlaku untuk mahasiswa dari luar Kota Surabaya dengan syarat menunjukkan kartu identitas.

Setelah mengurus administrasi, kami langsung masuk ke area museum. Di dalamnya, kami melihat berbagai potret sejarah perjuangan, miniatur bangunan Surabaya tempo dulu, serta dokumentasi peristiwa penting. Kami berkeliling sekitar dua jam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Makam Sunan Ampel.

Perjalanan ke Ampel memakan waktu sekitar 15 menit menggunakan GrabCar. Setibanya di sana, kami langsung menunaikan salat zuhur. Tidak lama kemudian, hujan turun. Kami pun beristirahat di masjid sambil menunggu waktu asar. Sore harinya, kami menuju area makam, melantunkan tahlil, dan berdoa. Menjelang berbuka, kami mendengarkan kajian, membeli takjil, lalu menikmati soto ayam di warung seberang gerbang makam.

Malam harinya, kami menuju kawasan Kota Lama Surabaya. Hujan kembali turun, tetapi rintik gerimis justru menambah suasana. Kami menyusuri jalanan dengan latar bangunan bernuansa vintage yang cukup ramai oleh pengunjung. Beberapa fotografer jalanan menawarkan jasa, tetapi kami memilih berfoto sendiri secara bergantian. Setelah puas berkeliling, kami kembali ke Ampel menggunakan kereta kelinci dengan tarif Rp10.000 per orang—pengalaman sederhana yang justru terasa menyenangkan.

Malam itu, kami beristirahat di mushola khusus perempuan di area makam sambil menunggu jadwal kereta subuh. Dua teman saya langsung tertidur, sementara saya tetap terjaga. Dari dalam mushola, saya melihat arus peziarah yang tak pernah sepi. Bahkan menjelang dini hari, tempat itu masih ramai oleh orang-orang yang datang dari berbagai daerah.

Sekitar pukul 02.00, kami bangun untuk sahur. Awalnya kami berencana mencari makan di luar, tetapi ternyata ada pembagian sahur gratis. Setelah makan, saya memesan GrabCar menuju stasiun. Di sinilah kecerobohan kecil terjadi. Kami tidak menyangka area makam begitu padat menjelang subuh. Jalan menuju gerbang dipenuhi peziarah yang keluar masuk. Sementara itu, pengemudi sudah menunggu dan beberapa kali menelepon.

Meski sempat panik, kami akhirnya berhasil keluar dan sampai di stasiun jauh sebelum kereta datang. Tepat pukul 03.45 kami memulai perjalanan pulang dan tiba di Kediri sekitar pukul 07.35.

Kini, perjalanan itu terasa berbeda ketika diingat kembali. Saat itu, semuanya terasa biasa saja—perjalanan singkat, obrolan ringan, dan tawa yang mengalir tanpa disadari. Namun setelah salah satu dari kami pergi untuk selamanya, kenangan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa momen sederhana sering kali menjadi kenangan paling berharga. Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan bersama seseorang menjadi yang terakhir. Karena itu, setiap tawa, langkah kaki, dan percakapan kecil yang terjadi dalam perjalanan tersebut kini terasa lebih berarti. Surabaya bukan lagi sekadar kota yang kami kunjungi, tetapi menjadi ruang kenangan—tempat di mana kebersamaan itu pernah tercipta, dan kini hanya bisa dikenang. 

Catatan perjalanan ini saya tulis secara khusus untuk mengenang sahabat saya yang baru saja pergi beberapa hari yang lalu. Saya berharap semoga dia bisa tenang di "rumah" barunya dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Semua kebaikan dan ketulusan dia semasa hidup tidak akan pernah saya lupakan.