Hayuning Ratri Hapsari | Taufiq Hidayat
Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. (gramedia)
Taufiq Hidayat

Pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 oleh penerbit Djambatan, Burung-Burung Manyar tetap menjadi buku yang relevan meski telah dibaca berulang kali. Edisi cetak ulang dari Penerbit Buku Kompas setebal 406 halaman ini mampu mengaduk emosi pembaca, mulai dari kemarahan, kesombongan, hingga keputusasaan yang dialami sang tokoh utama, Setadewa (Teto), serta rasa frustrasi yang mendalam dari Larasati (Atik). Narasi Romo Mangun begitu kuat sehingga setiap lembarannya seolah mampu membuat mata berkaca-kaca.

Prawayang: Simbolisme Pilihan Hidup

Novel ini terbagi dalam tiga rentang waktu krusial: Bagian I (1934-1944), Bagian II (1945-1950), dan Bagian III (1968-1978). Romo Mangun membuka buku ini dengan Prawayang (prolog) tentang tokoh Baladewa yang memilih membela Kurawa dalam Baratayuda. Pilihan Baladewa bukan karena ia benci Pandawa, melainkan demi kesetiaan pada keluarga.

Analogi ini menjadi kunci bagi kita untuk memahami Teto. Lahir dari ayah bangsawan Surakarta dan ibu Indo, Teto menyimpan dendam kesumat pada Jepang yang telah menghancurkan keluarganya. Pilihan Teto menjadi tentara KNIL (pihak Belanda) adalah jalan baginya untuk membalas dendam, meski hal itu menempatkannya di posisi berseberangan dengan Atik, cinta masa kecilnya yang justru berjuang di pihak Republik sebagai sekretaris Sutan Sjahrir.

Gugatan Terhadap Makna Kemerdekaan

Teto adalah karakter yang sangat kritis. Baginya, kemerdekaan politik tidak otomatis berarti kemerdekaan masyarakat. Di halaman 70, ia menggugat: "Mereka salah besar berpikir bahwa negara sama dengan masyarakat. Ketika negara merdeka, orang-orang berpikir masyarakat juga akan otomatis merdeka."

Meskipun tampak teguh di pihak KNIL, jauh di lubuk hatinya, Teto menyadari kegamangan jalannya. Ia mengakui dirinya hanyalah petualang yang sedang membalas dendam, bukan prajurit sejati. Di sisi lain, Atik harus menelan pil pahit karena mencintai pria yang dianggap sebagai "musuh negara". Pertemuan mereka di masa depan, saat Indonesia sudah stabil dan Atik telah berkeluarga, menjadi momen yang mengharukan sekaligus canggung. Cinta mereka tetap ada, namun nasib memiliki rahasianya sendiri yang tak selalu menyatukan dua hati.

Refleksi Tanah Air di Masa Kini

Membaca ulang Burung-Burung Manyar di masa sekarang terasa seperti melihat cermin retak bangsa kita. Romo Mangun melalui kutipannya di halaman 199 menyentil sifat bangsa yang tampak sopan namun bisa sangat keji terhadap sesama. Sebuah perenungan tajam di halaman 200 menyebutkan: "Maka kupikir, tanah air adalah di mana tidak ada kekejaman antara orang dengan orang."

Kutipan tersebut terasa sangat getir jika kita melihat realitas hari ini, mulai dari konflik agraria, gejolak di Papua, hingga kriminalisasi melalui UU ITE. Pertanyaan besar yang ditinggalkan Romo Mangun dalam novel ini tetap menggantung: Apakah kita sudah benar-benar merdeka jika kekejaman antarsesama masih nyata terjadi di tanah air kita sendiri?

Kesimpulan

Burung-Burung Manyar adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami Indonesia secara lebih jujur. Romo Mangun tidak menyajikan hitam-putih perjuangan, melainkan warna-warni jiwa manusia yang terjebak dalam arus sejarah. Sebuah karya yang akan selalu relevan selama kita masih mencari arti sejati dari sebuah "Tanah Air".

Identitas Buku:

  • Judul Buku: Burung-Burung Manyar
  • Pengarang: Y. B. Mangunwijaya
  • Penerbit: Penerbit Buku Kompas
  • Tahun Terbit: 2014
  • Jumlah Halaman: 406
  • Genre: Roman