Buku Dari Tanzania ke Tapaktuan: Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari karya Riza Almanfaluthi bukan sekadar catatan olahraga, melainkan kisah transformasi personal yang jujur.
Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jarak tempuh atau catatan waktu. Tentang bagaimana seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri, lalu perlahan mengalahkannya.
Perjalanan ini dimulai di Tapaktuan, sebuah titik yang dalam buku ini merupakan tempat di mana perubahan besar justru dimulai dari kesadaran kecil. Saat itu, Riza bukanlah pelari.
Dengan berat badan sekitar 78 kilogram, bahkan aktivitas sederhana seperti bergerak lincah atau duduk nyaman pun terasa sulit. Momen refleksi sederhana, menatap diri di cermin menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Isi Buku
Alih-alih mencari jalan pintas, Riza memilih disiplin. Ia memulai dengan metode latihan seperti Freeletics, yang menekankan latihan tubuh berbasis berat badan, lalu menggabungkannya dengan rutinitas lari. Dalam waktu 15 minggu, hasilnya signifikan: berat badannya turun menjadi 62 kilogram. Namun, pencapaian ini bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan yang lebih panjang.
Dari yang semula tidak mampu berlari, Riza kemudian menantang dirinya mengikuti berbagai lomba lari. Ia tidak berhenti pada jarak pendek. Justru, ia terus mendorong batas kemampuannya hingga akhirnya mampu menyelesaikan Full Marathon sejauh 42,195 kilometer. Di titik ini, berlari tidak lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan bentuk perlawanan terhadap ego, rasa malas, dan keraguan diri.
Riza juga membawa pembaca menyelami proses di baliknya: rasa lelah, kegagalan, kebosanan, hingga godaan untuk berhenti. Semua itu disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan dan jujur, membuat pembaca merasa dekat, seolah sedang mendengar cerita dari seorang teman.
Selain narasi personal, buku ini juga memuat berbagai tips praktis bagi pemula. Mulai dari cara memulai lari, menjaga konsistensi, hingga pola hidup sehat yang mendukung performa tubuh.
Berlari digambarkan sebagai metafora kehidupan: setiap langkah adalah pilihan, setiap jarak adalah proses, dan setiap garis finis hanyalah awal dari tantangan berikutnya. Riza menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri.
Perjalanan dari Tapaktuan hingga berbagai lintasan lari, bahkan hingga pengalaman di luar negeri seperti Tanzania, menjadi simbol bahwa perubahan tidak mengenal batas geografis. Di mana pun seseorang berada, selama ada kemauan dan konsistensi, perubahan selalu mungkin terjadi.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga relevan dalam konteks masa pandemi COVID-19, ketika banyak orang mulai menyadari pentingnya kesehatan fisik dan mental. Lari, dalam hal ini, menjadi salah satu cara sederhana namun efektif untuk menjaga keseimbangan tersebut. Tidak membutuhkan alat mahal, tidak bergantung pada tempat khusus, cukup kemauan untuk melangkah.
Meski beberapa bagian terasa seperti “template” atau sedikit kaku, informasi yang disampaikan tetap relevan karena lahir dari pengalaman langsung. Ini bukan teori kosong, melainkan sesuatu yang telah diuji oleh penulis sendiri.
Pada akhirnya, Dari Tanzania ke Tapaktuan adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Bahwa tubuh bisa dilatih, kebiasaan bisa dibentuk, dan batasan bisa dilampaui. Namun semua itu membutuhkan satu hal yang sering kali paling sulit: konsistensi.
Buku ini mungkin tidak sempurna dari segi teknis penulisan, tetapi kejujuran dan pengalaman nyata yang dibagikan menunjukkan proses panjang yang penuh disiplin.
Dan di situlah letak pesannya yang paling kuat: berlari bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang keberanian untuk terus bergerak. Bahkan ketika kita ingin berhenti.
Identitas Buku
- Judul: Dari Tanzania ke Tapaktuan (Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari)
- Penulis: Riza Almanfaluthi
- Penerbit: Maghza Pustaka
- Tahun Terbit: November 2020
- ISBN: 978-623-6598-10-8
- Tebal: 232 halaman
- Kategori: Nonfiksi / Pengembangan Diri
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Sel Cinta yang Koma hingga Patah Hati Kocak: Serunya Yumi's Cells
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
-
Dari Angkot sampai TTS, Alasan Film Dilan 1990 Sangat Ikonik!
-
Membaca Anak Penangkap Hantu: Kisah Trio Pemberani yang Memburu Misteri
-
Dear Bunda, Anak juga Butuh Cinta: Membaca Buku Parenting with Heart
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dari Sel Cinta yang Koma hingga Patah Hati Kocak: Serunya Yumi's Cells
-
Menikmati Krisis Eksistensial Bersama 'Ride' Milik Twenty One Pilots
-
Nyai Moena: Potret Hitam Pergundikan dan Luka Berlapis Perempuan Pribumi
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
-
Menyelami Kisah Adik dan Tante Kun di Novel Wingit
Terkini
-
Avatar The Last Airbender Season 2 Tayang Juni 2026, Intip Sinopsis dan Daftar Pemainnya
-
Radiasi di Balik TWS: Seberapa Aman Dipakai Setiap Hari?
-
Kopdes Merah Putih Rasa Minimarket: Ketika Produk Petani Lokal Absen dari Rak Koperasi
-
5 Pilihan Bedak Remaja dengan Perlindungan UV, Bebas Aktivitas Seharian!
-
Tayang Juni 2026, Netflix Akhirnya Akuisisi Film In the Hand of Dante