Buku Pernah Tenggelam karya Fuadh Naim hadir sebagai kumpulan refleksi personal yang terasa jujur, ringan, namun tetap menyentuh sisi kontemplatif pembacanya.
Secara garis besar, buku ini berisi “curcolan” seorang fanboy Korea Selatan, atau lebih tepatnya, fanboy segala hal yang berbau Korsel.
Tidak hanya terpikat oleh dunia K-Pop dan K-Drama, penulis juga mengagumi kemajuan teknologi, budaya populer, hingga citra modern yang dibangun oleh negara tersebut.
Namun, alih-alih menjadi buku glorifikasi, Pernah Tenggelam justru bergerak ke arah yang lebih reflektif. Penulis mulai mempertanyakan kembali kecintaannya yang semakin hari terasa tidak nyaman.
Ia menyadari adanya benturan antara nilai-nilai yang ia yakini dengan realitas budaya Korea Selatan yang ia konsumsi.
Misalnya, fenomena skinship, bromance dalam industri hiburan, hingga nilai-nilai kepercayaan yang berbeda dari prinsip ketauhidan yang ia pegang.
Dari sinilah buku ini menemukan kekuatannya: bukan sekadar bercerita tentang kegemaran, tetapi juga tentang pergulatan batin.
Dari segi isi, buku ini menawarkan sudut pandang yang cukup menarik, meskipun tidak sepenuhnya mengejutkan.
Beberapa hal yang diangkat sebenarnya sudah cukup umum diketahui, terutama bagi mereka yang pernah mendengar langsung pengalaman orang-orang yang tinggal di Korea Selatan.
Misalnya, budaya minum alkohol saat akhir pekan, tekanan hidup yang tinggi sejak usia pelajar, hingga kecenderungan masyarakat yang lebih sekuler atau bahkan ateis.
Namun, penulis menyampaikan kembali fakta-fakta tersebut dengan gaya yang personal, sehingga terasa lebih dekat dan relevan.
Salah satu hal baru yang cukup menarik adalah pembahasan mengenai besarnya dukungan pemerintah Korea Selatan terhadap sektor kebudayaan, seperti musik dan seni.
Informasi ini memberikan perspektif tambahan mengenai mengapa industri hiburan mereka bisa berkembang begitu pesat dan mendunia.
Pembaca diajak memahami bahwa kesuksesan drama dan film Korea bukan semata-mata karena bakat, tetapi juga karena sistem dan dukungan yang terstruktur.
Hal ini secara tidak langsung memancing perbandingan dengan industri hiburan Indonesia, yang masih memiliki banyak ruang untuk berkembang.
Dari segi gaya bahasa, Fuadh Naim menggunakan pendekatan yang santai, mengalir, dan terasa seperti membaca catatan harian.
Tidak ada kesan menggurui, meskipun topik yang diangkat cukup sensitif. Justru, kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik utama buku ini.
Pembaca diajak masuk ke dalam pikiran penulis tanpa merasa dihakimi. Humor ringan yang sesekali muncul juga membantu mencairkan suasana, sehingga buku ini tetap terasa ringan meskipun membahas hal-hal yang cukup serius.
Kelebihan lain dari buku ini adalah kejujurannya. Penulis tidak mencoba terlihat sempurna atau sok idealis. Ia dengan terbuka mengakui bagaimana ia pernah “tenggelam” dalam kekaguman yang berlebihan, sebelum akhirnya mencoba menarik diri dan melihat semuanya dengan lebih jernih.
Proses ini terasa sangat manusiawi dan relatable, terutama bagi pembaca yang pernah mengalami fase serupa, terobsesi pada sesuatu hingga akhirnya mulai mempertanyakan kembali.
Namun, buku ini bukan tanpa kekurangan. Salah satu hal yang cukup mengganggu adalah ukuran font yang cenderung kecil di sebagian besar halaman.
Hal ini bisa membuat pengalaman membaca menjadi kurang nyaman, terutama bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan teks berukuran kecil.
Selain itu, bagi pembaca yang sudah cukup familiar dengan budaya Korea Selatan, beberapa pembahasan mungkin terasa kurang “baru” atau tidak terlalu menggugah.
Secara keseluruhan, Pernah Tenggelam adalah buku reflektif yang cocok dibaca oleh remaja hingga dewasa muda, terutama mereka yang pernah atau sedang mengidolakan budaya populer tertentu.
Buku ini tidak menghakimi, tetapi mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang batas antara mengagumi dan kehilangan kendali diri.
Dengan gaya bahasa yang ringan dan isi yang cukup relevan, buku ini bisa menjadi teman baca santai sekaligus bahan renungan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Menyelami Kisah Adik dan Tante Kun di Novel Wingit
-
Penerapan Hukum Makanan Tanpa Label di Era Modern ala Gus Nadir
-
Kenangan-Kenanganku di Malaya: Refleksi Cinta Hamka untuk Dunia Melayu
-
The Horse and His Boy, Novel Fantasi Klasik Sarat Makna Kehidupan
-
Novel Enam Mahasiswa Pembohong, Misteri Rekrutmen Kerja yang Menegangkan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dari Sel Cinta yang Koma hingga Patah Hati Kocak: Serunya Yumi's Cells
-
Menikmati Krisis Eksistensial Bersama 'Ride' Milik Twenty One Pilots
-
Nyai Moena: Potret Hitam Pergundikan dan Luka Berlapis Perempuan Pribumi
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
-
Menyelami Kisah Adik dan Tante Kun di Novel Wingit
Terkini
-
Avatar The Last Airbender Season 2 Tayang Juni 2026, Intip Sinopsis dan Daftar Pemainnya
-
Radiasi di Balik TWS: Seberapa Aman Dipakai Setiap Hari?
-
Kopdes Merah Putih Rasa Minimarket: Ketika Produk Petani Lokal Absen dari Rak Koperasi
-
5 Pilihan Bedak Remaja dengan Perlindungan UV, Bebas Aktivitas Seharian!
-
Tayang Juni 2026, Netflix Akhirnya Akuisisi Film In the Hand of Dante