Film Ghost in the Cell (juga dikenal sebagai Hantu Dalam Sel) garapan sutradara Joko Anwar resmi menjadi salah satu rilis paling dinanti di bioskop Indonesia tahun ini.
Tayang perdana di seluruh bioskop tanah air mulai 16 April 2026, film ini langsung menyedot perhatian dengan capaian 154.279 penonton hanya di hari pertama.
Karya ke-12 Joko Anwar ini menggabungkan horor supernatural, komedi gelap, aksi, dan kritik sosial yang tajam dalam durasi 106 menit.
Premiernya di Berlinale International Film Festival Februari 2026 sudah menuai pujian internasional, dan kini hadir di 86 negara, termasuk Indonesia melalui Come and See Pictures.
Teror Gaib yang Mengejar Aura Negatif
Cerita berlangsung di Lapas Labuhan Angsana, penjara keamanan tinggi yang terkenal kejam. Kehidupan di dalamnya sudah seperti neraka: napi saling bermusuhan antar geng, sipir korup dan sadis, serta warden yang ambisius secara politik.
Anggoro (Abimana Aryasatya), napi yang tinggal tujuh bulan lagi bebas, berusaha bertahan dengan moral yang masih utuh di tengah kekerasan sehari-hari. Situasi berubah drastis ketika napi baru, Dimas (Endy Arfian), mantan wartawan yang dipenjara karena membunuh redaktur.
Tak lama kemudian, pembunuhan brutal beruntun terjadi. Tubuh korban dipamerkan secara mengerikan, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menargetkan orang-orang dengan aura negatif paling pekat.
Para napi dan sipir yang biasanya bermusuhan terpaksa bekerja sama demi bertahan hidup. Mereka berlomba-lomba berbuat kebaikan, berdoa massal, bahkan mengikuti kelas dansa absurd agar aura positif mereka terjaga.
Joko Anwar, maestro horor Indonesia yang sukses dengan Satan’s Slaves dan Impetigore, kembali menunjukkan keahliannya mengolah genre menjadi kritik sosial yang tajam.
Penjara di sini bukan sekadar latar, melainkan metafor cerdas tentang masyarakat Indonesia: hierarki kekuasaan yang korup, politik yang membelah, serta kecenderungan mencari solusi plasebo daripada menyelesaikan akar masalah.
Entitas gaib yang membunuh berdasarkan aura negatif menjadi sindiran halus terhadap bagaimana kita saling tuduh dan bertengkar sementara masalah besar diabaikan.
Anwar menyisipkan humor gelap dan slapstick tanpa mengurangi ketegangan. Adegan-adegan absurd seperti napi berdesak-desakan di ruang sholat atau latihan dansa paksa untuk positif thinking berhasil membuatku tertawa sambil merinding. Gore-nya pun tak tanggung-tanggung—splatter horror yang brutal tapi estetis, dengan visual tubuh yang dimutilasi secara spektakuler.
Review Film Ghost In The Cell
Akting ensemble menjadi kekuatan utama. Abimana Aryasatya tampil memukau sebagai Anggoro. Ia mampu berpindah mulus antara aksi fisik yang brutal, komedi fisik yang kikuk, hingga drama emosional tentang manusia yang berusaha tetap baik di lingkungan yang rusak.
Endy Arfian sebagai Dimas memberikan nuansa misterius yang pas, sementara Bront Palarae sebagai pimpinan sipir (Jefry) menjadi antagonis yang mengerikan—kombinasi korupsi dan sadisme yang membuat bulu kuduk merinding. Pendukung lain seperti Almanzo Konoralma (Buki), Aming Sugandhi (Tokek), Arswendy Bening Swara (Prakasa), Morgan Oey, dan Lukman Sardi turut menyempurnakan dinamika kelompok yang hidup dan penuh warna. Chemistry antar karakter terasa nyata, membuat penonton yang ada di bioskop benar-benar peduli siapa yang selamat dan siapa yang beraura negatif.
Sinematografi dan produksi desain produksi patut diacungi jempol. Penjara yang claustrophobic dirancang detail, dari sel-sel sempit hingga koridor gelap yang penuh simbol. Penggunaan cahaya dan bayangan memperkuat nuansa supernatural tanpa bergantung berlebihan pada jump scare murahan.
Sound design-nya juga mencekam; suara bisikan gaib dan dentuman tubuh yang hancur membuat bioskop terasa lebih sempit. Skor musik menggabungkan elemen tradisional Indonesia dengan industrial horror yang modern, semakin memperkuat atmosfer.
Kelebihan terbesar film ini adalah keberanian Joko Anwar dalam mencampur genre tanpa kompromi. Bukan sekadar elevated horror yang pretensius, Ghost in the Cell adalah hiburan murni yang cerdas. Ia menghibur, mengerikan, lucu, dan provokatif sekaligus. Kritik politiknya tidak dipaksakan, tapi muncul organik melalui dialog dan situasi sehari-hari napi. Bagi yang familiar dengan karya Anwar sebelumnya, film ini terasa seperti puncak kariernya—ia berhasil membuat horor komedi yang bermakna tanpa kehilangan elemen fun-nya.
Sedikit kekurangan ada pada beberapa trope penjara-drama yang terasa familiar, meski Anwar berhasil memberi twist segar. Beberapa subplot politik mungkin terlalu langsung buat kamu yang tidak suka pesan sosial yang kuat. Akan tetapi, hal ini tidak mengurangi pengalamanku nonton secara keseluruhan kok. Film ini tetap solid sebagai tontonan bioskop yang layak ditonton berulang.
Overall, Ghost in the Cell adalah film Indonesia yang wajib ditonton di bioskop. Ia membuktikan bahwa genre lokal bisa bersaing internasional tanpa kehilangan identitas. Dengan perpaduan gore yang memuaskan, komedi yang cerdas, dan kritik sosial yang relevan, film ini berhasil menjadi hiburan sekaligus cermin masyarakat kita. Rating pribadi: 8.5/10.
Kalau kamu penggemar horor yang tidak takut darah, komedi gelap, atau sekadar ingin melihat Joko Anwar kembali beraksi, segera tonton Ghost in the Cell sebelum kehabisan kursi. Film ini bukan hanya hantu di sel penjara, tapi juga hantu-hantu dalam masyarakat kita yang selama ini kita abaikan. Tayang mulai 16 April 2026—dan masih berlanjut di seluruh bioskop Indonesia. Jangan lewatkan ya, Sobat Yoursay!
Baca Juga
-
Duet Oki Rengga dan Lolox! Film Tiba-tiba Setan Sajikan Horor Ringan yang Penuh Twist Lucu
-
Sekar Nawang Sari
-
Review Serial Luka, Makan, Cinta: Sebuah Konflik di Dapur yang Penuh Emosi
-
Review Film Eat Pray Bark: Saat Anjing Mengajari Manusia untuk Bersyukur
-
Review Film Ready or Not 2: Here I Come, Adegan Aksi dan Gore Memuaskan!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Pesta Durian 8 Kilo di Sibolangit: Rahasia Sambutan Hangat Adat Karo untuk Sang Kalimbubu
-
Kesetiaan di Balik Bumbu Pecel: Perjuangan Abdi Menyelamatkan Trah Bangsawan
-
Duet Oki Rengga dan Lolox! Film Tiba-tiba Setan Sajikan Horor Ringan yang Penuh Twist Lucu
-
Amore Mio: Tentang Venesia, Luka yang Belum Sembuh, dan Cinta yang Datang Terlalu Pagi
-
Hujan di Parangtritis: Ketika Perjalanan Tak Sesuai Rencana Justru Memberi Cerita
Terkini
-
5 Rekomendasi Parfum Wangi Buah Mangga untuk Cewek Aktif dan Ceria
-
Siap-siap! Pengabdi Setan 3: Origin Tayang 2027 di Bioskop
-
4 Rekomendasi HP OPPO NFC Termurah 2026, Performa Kencang dan Tahan Banting
-
Perempuan Berambut Kuncir Dua yang Bersenandung di Bawah Pohon Sengon Buto
-
4 Lip Sleeping Mask Kandungan Cherry untuk Bibir Plumpy ala Glass Skin