Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Tarian Bumi. (Dok.pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Setelah membaca Corpus Uterus dengan karakter Luh, saya menemukan novel lain dengan tokoh bernama serupa: Tarian Bumi. Cover-nya hijau segar dengan gambar penari Bali yang memikat, namun isinya jauh dari kesan manis. Di balik kemegahan Bali yang sering dipuji-puji, ada tubuh perempuan yang terkungkung dalam labirin adat dan kasta yang kejam.

Empat tahun lalu, saya sempat berkunjung ke Bali dan menyaksikan langsung pertunjukan tari-tarian yang begitu memesona, seperti Legong Keraton atau tari Oleg. Saat itu, saya hanya terpukau oleh keindahannya, tanpa pernah tahu sisi gelap di balik panggung. Buku ini seolah menjadi "kaca pembesar" yang menunjukkan bagaimana para penari hidup, berjuang, dan terkadang dieksploitasi habis-habisan oleh sistem yang tidak pernah mereka inginkan.

Sinopsis

Cerita dimulai dari perjuangan hidup Luh Sekar yang compang-camping. Ibunya yang miskin dan malang pernah mengalami tragedi pemerkosaan hingga melahirkan sepasang adik kembar bernama Kerta dan Kerti. Mereka tumbuh dengan watak yang nakal dan binal.

Luh Sekar harus bertahan hidup dengan menjual babi, menyeret bayinya ke pasar, hingga akhirnya ia menjadi penari joged hebat. Kehebatannya menari membuat seorang pria kasta Brahmana tergila-gila padanya. Luh Sekar melihat ini sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Ia mati-matian mengejar kasta dan akhirnya menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada.

Namun, pernikahan ini adalah awal dari neraka. Luh Sekar menjadi Jero Kenanga, namun sang suami—seorang bangsawan busuk yang tolol—ternyata justru menjadikan kedua adik kembar Luh Sekar sendiri, Kerta dan Kerti, sebagai "peliharaan" seksual di rumah mereka. Betapa hancurnya Jero Kenanga; ia dilarang menangisi kematian ibunya sendiri dan tidak bisa lagi berdiri sejajar dengan ibunya karena perbedaan kasta.

Di tengah semrawutnya kehidupan ini, Luh Kenten, sahabat Luh Sekar yang sebenarnya mencintai Luh Sekar dengan perasaan terlarang dan kelainan batin yang ia simpan, hanya bisa menatap kehancuran itu dari jauh. Sangat disayangkan karakter Kenten ini menghilang begitu saja setelah Luh Sekar menikah; padahal potensinya untuk menjadi simbol perlawanan terhadap adat sangatlah besar.

Eksploitasi Tubuh atas Nama Seni

Kekuatan novel ini juga terletak pada potret nasib para penari. Luh Kambren, guru tari Telaga, memiliki taksu dewa namun hidup melarat meski punya ratusan piagam. Ia hanya menjadi objek penelitian bagi penulis yang meraup untung di atas penderitaannya. Lebih tragis lagi adalah Luh Dampar, teman Kambren. Ia menjadi potret nyata bagaimana perempuan Bali dieksploitasi atas nama seni. Tubuhnya dilukis telanjang secara tidak manusiawi dengan berbagai gaya aliran lukisan, yang ironisnya, justru dipuji-puji oleh dunia luar.

Ini bukan sekadar fiksi. Saya pernah menemukan buku kumpulan lukisan tahun 90-an yang menampilkan potret telanjang perempuan Bali di perpustakaan. Melihat itu membuat saya sadar bahwa Luh Dampar hanyalah representasi dari kenyataan pahit tersebut. Saat galerinya digusur dan ia kehilangan segala kehormatannya sebagai objek lukisan, Dampar tidak mendapat uang maupun kasih sayang, hingga akhirnya memilih bunuh diri.

Puncak kehancuran terjadi saat Ida Ayu Telaga nekat mencampakkan status kebangsawanannya demi menikahi Wayan, pria Sudra. Keputusan ini menghancurkan hidupnya; ia jatuh miskin dan harus hidup serba kekurangan. Ia yang dulu terbiasa dilayani, kini harus menjerang air panas menggunakan kayu bakar. Belum lagi suaminya yang mati muda di studio lukisnya.

Telaga dianggap pembawa sial dan diminta mertuanya menjalani upacara pati wangi untuk membuang identitas "Ida Ayu"-nya. Ia dicap pembawa sial karena belum melakukan upacara pati wangi untuk membuang identitas kebangsawanannya. Bahkan, ibunya sendiri, Luh Sekar, menolak hadir dalam upacara tersebut. Telaga dibiarkan menanggung sendiri rasa malu saat ubun-ubunnya diinjak dengan kembang dan mantra pembuang kasta.

Pahitnya, ibunya sendiri, Luh Sekar yang dulu mati-matian mengejar kasta ogah menghadiri upacara itu. Telaga pun menanggung konsekuensi seumur hidupnya: membesarkan anaknya, Luh Sari, dalam kubangan kemiskinan sudra yang hina, jauh dari kemewahan puri yang dulu pernah ia miliki.

Secara pribadi, saya mengagumi bagaimana Oka Rusmini merayakan feminitas lewat diksi yang indah namun tajam. Namun, saya skeptis jika novel ini disebut cerminan utuh Bali. Narasi di sini terasa kontradiktif; perempuan-perempuan ini berani memaki adat yang mengekang, namun pada akhirnya mereka tetap menyerah dan kalah oleh tradisi yang mereka benci sendiri. Bagi saya, Tarian Bumi adalah kumpulan narasi yang saling bertabrakan, sebuah potret betapa sesaknya menjadi perempuan di tanah yang agung namun feodal ini.

Identitas Buku

Judul: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ketujuh (2025)
ISBN: 9786020683559