Novel ZFC: Kita Semua Berhak Sembuh karya Susi Lesthary merupakan salah satu fiksi remaja yang cukup populer sejak awal kemunculannya di platform Wattpad. Diterbitkan oleh Galaxy Media, novel ini tidak hanya menawarkan kisah misteri yang menegangkan
Novel ini juga mengangkat isu penting tentang kesehatan mental, keadilan, dan proses penyembuhan diri di lingkungan sekolah. Cerita berlatar di Shine High School, sebuah sekolah elite di Surabaya yang dikenal menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kedisiplinan.
Sinopsis Novel
Sekolah ini memiliki aturan tegas: tidak ada toleransi terhadap perundungan. Siapa pun yang terbukti melakukan bullying akan langsung dikeluarkan. Secara ideal, sistem ini menjadikan Shine High School sebagai ruang aman bagi siswa. Tempat di mana keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
Namun, di balik citra ideal tersebut, tersimpan aturan lain yang jauh lebih kontroversial: setiap siswa atau alumni yang meninggal wajib dimakamkan di area pemakaman khusus milik sekolah. Awalnya, aturan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian kepada institusi.
Tetapi seiring waktu, muncul kejanggalan yang mengusik logika dan nurani.
Konflik utama bermula dari kasus kematian seorang siswi berprestasi, Himana Vata Riana. Ia digambarkan sebagai siswa terbaik yang memiliki masa depan cerah, bahkan telah diterima di Harvard University. Namun, takdir berkata lain.
Dalam perjalanan menuju bandara, ia mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya. Sesuai aturan sekolah, jenazah Himana dimakamkan di pemakaman khusus Shine High School.
Masalah muncul ketika keluarga Himana ingin memindahkan makam putri mereka ke dekat rumah. Permintaan ini ditolak secara implisit oleh pihak sekolah. Lebih mencurigakan lagi, ketika makam tersebut hendak dipindahkan, jasad Himana ditemukan telah berubah menjadi tulang hanya dalam waktu tiga hari.
Kejanggalan ini memicu dugaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pihak sekolah. Bahkan kemungkinan manipulasi atas kematian siswa.
Dari sinilah alur cerita berkembang menjadi investigasi yang dilakukan oleh sekelompok siswa. Mereka berusaha mengungkap kebenaran di balik misteri tersebut, meskipun harus menghadapi risiko besar. Ketegangan meningkat seiring terungkapnya lapisan demi lapisan rahasia yang selama ini tersembunyi di balik sistem yang tampak sempurna.
Kelebihan dan Kekurangan
Selain unsur misteri, kekuatan utama novel ini terletak pada pesan sosial yang disampaikan. Susi Lesthary mengangkat isu kesehatan mental dan trauma remaja dengan pendekatan yang relevan.
Menariknya, novel ini juga memasukkan unsur budaya lokal melalui penggunaan aksara Jawa dan subjudul “Wong Jowo Ojo Ilang Jowone” (orang Jawa jangan kehilangan jati dirinya).
Elemen ini memberikan identitas unik pada cerita sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga akar budaya di tengah modernitas. Bahasa dan nilai-nilai lokal menjadi bagian dari narasi, bukan sekadar hiasan.
Dari segi gaya penulisan, novel ini menggunakan bahasa yang ringan dan komunikatif, khas bacaan remaja. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kritik tajam terhadap sistem yang tampak ideal tetapi menyimpan ketidakadilan. Kutipan-kutipan dialog dalam bahasa Jawa juga menambah kedalaman emosional dan nuansa lokal yang kuat.
Secara keseluruhan, ZFC: Kita Semua Berhak Sembuh adalah karya yang memadukan misteri, drama, dan refleksi sosial dengan cukup efektif. Novel ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap isu perundungan, kesehatan mental, dan pentingnya keberanian untuk mencari kebenaran.
Di tengah kompleksitas dunia remaja, buku ini menjadi pengingat bahwa setiap luka layak disembuhkan dan setiap kebenaran layak diperjuangkan.
Identitas Buku
- Judul: ZFC (Kita Semua Berhak Sembuh)
- Penulis: Susi Lesthary
- Penerbit: Galaxy Media
- Tahun Terbit: 2024
- ISBN: 978-623-75-2434-2
- Teal: 350 halaman
- Kategori: Fiksi Remaja
Tag
Baca Juga
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Ketika Alam Dikorbankan demi Penerimaan Negara yang Tak Sebanding
-
Dear Pemerintah, Kenapa Tidak Maksimalkan Program yang Sudah Ada?
-
Ketika Semua Orang Dipaksa Jualan: Membaca Fenomena Ledakan UMKM
-
Ketika Popularitas Mengalahkan Keteladanan: Hukum Butuh Integritas!
Artikel Terkait
-
5 Sepeda Listrik Lipat Murah untuk Anak Sekolah, Lebih Praktis dan Stylish
-
Viral Video Siswa Medan Seberangi Sungai Deli di Atas Pipa Air, Warganet Colek Prabowo Subianto
-
Rata-rata Lama Sekolah Warga RI Cuma 8,8 Tahun, Tantangan Utama Indonesia Emas 2045
-
103 Sekolah Swasta Gratis di Jakarta Resmi Diumumkan, Ini Daftar Lengkapnya
-
Ayah Pelaku Penembakan di Turki Masih Aktif sebagai Polisi, Punya Jabatan Mentereng
Ulasan
-
Review Every Monday Mabel: Ketika Truk Sampah Jadi Hal Terbaik di Dunia
-
Teach You a Lesson: Drama Aksi Sekolah dengan Kritik Pedas Sistem Pendidikan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
Terkini
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?
-
4 Hybrid Sunscreen Cegah Jerawat Meradang Akibat Paparan Sinar Matahari
-
Kursi Prioritas Bukan Hadiah, Stasiun Cikoko Bukti Integrasi Itu Mungkin
-
4 Hydrating Sheet Mask Ampuh Berikan Hidrasi Ekstra untuk Skin Barrier Kuat