Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Two Prosecutors (IMDb)
Ryan Farizzal

Two Prosecutors (judul asli Jerman: Zwei Staatsanwälte) adalah film drama sejarah yang disutradarai dan ditulis oleh Sergei Loznitsa, sineas Ukraina yang dikenal dengan karya-karyanya yang tajam mengkritik totalitarianisme.

Film ini merupakan adaptasi dari novella berjudul sama karya Georgy Demidov, seorang fisikawan Soviet yang pernah menjadi tahanan politik selama 14 tahun di gulag. Berlatar tahun 1937 di tengah Great Purge (Pembersihan Besar) Stalin, film berdurasi 118 menit ini mengeksplorasi horor birokrasi totalitarian melalui lensa seorang jaksa muda yang idealis.

Latar Belakang Horor di Tengah Great Purge Stalin

Tangkapan layar adegan di film Two Prosecutors (IMDb)

Cerita berfokus pada Alexander Kornyev (diperankan Aleksandr Kuznetsov), seorang jaksa baru yang baru tiga bulan menjabat. Ia menerima surat rahasia dari seorang tahanan di penjara Bryansk, yang ditulis dengan darah.

Surat itu mengungkap penyiksaan dan korupsi oleh NKVD (polisi rahasia Stalin). Kornyev, yang ternyata mengenal tahanan tersebut sebagai mantan profesor hukumnya bernama Stepniak (Aleksandr Filippenko), memutuskan untuk menyelidiki kasus ini. Ia bertemu langsung dengan tahanan yang telah dianiaya, lalu melanjutkan perjalanan ke Moskow untuk melaporkan ke Jaksa Agung Andrey Vyshinsky (Anatoliy Beliy), sosok berpengaruh dalam rezim Stalin.

Apa yang dimulai sebagai pencarian keadilan sederhana berubah menjadi perangkap mematikan. Film ini menggambarkan bagaimana sistem totalitarian bekerja melalui mekanisme birokrasi yang lambat, penuh kehati-hatian, dan absurd. Setiap pertemuan, dokumen, dan percakapan dipenuhi ketegangan yang membangun secara perlahan.

Loznitsa tidak mengandalkan aksi dramatis atau kekerasan grafis berlebihan; ia justru memanfaatkan keheningan, tatapan mata, dan rutinitas kantor yang mencekam untuk menciptakan rasa takut yang mendalam. Aku sebagai penonton diajak merasakan paranoia era itu: siapa yang bisa dipercaya ketika bahkan anggota Partai Bolshevik pun bisa dituduh sebagai pengkhianat tanpa bukti?

Review Film Two Prosecutors

Tangkapan layar adegan di film Two Prosecutors (IMDb)

Akting para pemeran utama sangat kuat. Aleksandr Kuznetsov menghadirkan Kornyev sebagai pemuda naif yang penuh semangat, tapi perlahan menyadari ketidakberdayaannya. Wajahnya yang polos kontras dengan ekspresi trauma Filippenko sebagai Stepniak, yang memberikan monolog mengharukan tentang pengkhianatan revolusi.

Anatoliy Beliy sebagai Vyshinsky memerankan sosok dingin dan kalkulatif dengan sempurna—sebuah potret birokrat yang menjalankan mesin teror tanpa emosi. Sinematografi menggunakan framing ketat dan pencahayaan redup, menciptakan suasana claustrophobic seperti labirin birokrasi Soviet. Desain produksi akurat mereproduksi era 1930-an, dari seragam hingga ruang interogasi yang suram.

Secara tema, Two Prosecutors bukan sekadar film sejarah tentang Stalin. Ia menjadi parable yang sangat relevan hari ini tentang bahaya otoritarianisme, korupsi kekuasaan, dan bagaimana sistem dapat menghancurkan individu yang berusaha melawan dari dalam.

Loznitsa, yang banyak membuat dokumenter tentang sejarah Soviet dan Ukraina, menyuntikkan elemen hitam komedi absurdis—mirip Kafka atau Chaplin—di tengah horornya. Adegan-adegan di mana Kornyev berhadapan dengan prosedur administratif yang tak masuk akal terasa lucu sekaligus mengerikan. Film ini memenangkan Prix François Chalais di Cannes 2025 dan mendapat pujian kritis karena ketepatan skalpelnya dalam membedah totalitarianisme.

Menurutku ini adalah nightmare of state corruption yang sempurna kemudian disusun. Sebuah parable politik yang tak meminta maaf, serta pendekatan novelistiknya yang membangun ketegangan secara perlahan.

Buat kamu yang menyukai film lambat seperti karya Andrei Tarkovsky atau Krzysztof Kielowski, Two Prosecutors akan terasa memuaskan. Akan tetapi, bagi yang mengharapkan thriller cepat atau emosi bombastis, ritme deliberatenya mungkin terasa menantang. Ini adalah film yang menuntut perhatian penuh, di mana setiap detil dialog dan gesture membawa bobot politik yang berat.

Dari segi produksi, film ini merupakan kolaborasi internasional (Prancis, Jerman, Belanda, Latvia, Rumania, Lithuania) karena Loznitsa tidak bisa memproduksinya di Rusia atau Ukraina saat ini. Hal ini menambah lapisan ironis: cerita tentang represi Soviet dibuat di luar negeri untuk menghindari sensor serupa. Sound design minimalis dengan dialog Rusia yang dominan memperkuat rasa otentik, meski subtitle diperlukan bagi kita, sebagai penonton Indonesia.

Film Two Prosecutors telah tayang di bioskop Indonesia mulai 17 April 2026 Saat ini, film ini masih diputar di berbagai jaringan seperti Cinema 21, XXI, CGV, Cinepolis, dan lainnya di kota-kota besar termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Di Surabaya, misalnya, jadwal tersedia di CGV Marvell City dengan tiket regular sekitar Rp 31.000.

Film ini juga sempat menjadi bagian dari showcase KlikFilm sebelum atau bersamaan dengan rilis bioskop. Pastikan cek aplikasi TIX ID, JadwalNonton, atau situs bioskop resmi untuk jadwal terkini, karena pemutaran film art-house seperti ini biasanya terbatas dan bergantung pada minat penonton.

Secara keseluruhan, Two Prosecutors adalah karya matang yang mengingatkan kita bahwa teror totalitarian tidak selalu datang dengan tank dan tembakan, melainkan melalui kertas, stempel, dan diamnya mereka yang takut. Dengan rating dewasa (R13 atau setara), film ini cocok untuk penonton yang ingin refleksi mendalam tentang kekuasaan, keadilan, dan harga keberanian.

Kalau kamu menyukai sejarah, politik, atau drama psikologis yang intens, jangan lewatkan. Ini bukan hiburan ringan, tapi pengalaman sinematik yang akan mengganggu pikiran lama setelah lampu bioskop menyala kembali.

Film ini membuktikan bahwa Sergei Loznitsa tetap menjadi salah satu suara paling penting dalam sinema kontemporer yang berani menghadapi masa lalu untuk memahami masa kini. Sangat aku rekomendasikan untuk pencinta film serius!